Rekan Sariffuddin dan Rekans ysh,
 
Kata Rendra, puisi bukan sekedar "gincu" pemerah bibir.
Saya kira seperti bentuk satra yang lain, juga karya seni umumnya bagi 
senimannya kan "ekspresi" dari ketajaman perasaan, dari dalam atau dari sekitar 
sebagai respons atas situasi yang dia tangkap. Saya pikir arsitek atau urban 
designer juga begitu. Tentu saja dengan "bahasa" masing-masing, ada yang 
menghibur, ada yang menyindir, provokatif atau menohok.
 
Terlepas suka/tidak, puisi Masardi kayaknya cukup sukses untuk melontarkan 
sesuatu, buktinya istilah "bedebah" banyak dipakai di media. Suka/tidak juga 
sebagian besar orang diingatkan adanya masalah yang menyangkut komunal "budaya 
korupsi (?) dan ketidak-pedulian".
 
Kumpulan puisi Rendra, "Potret Pembangunan dalam Puisi" (terbitan Lembaga Studi 
Pembangunan/Adi Sasono) saya pikir layak dibaca Perencana, karena banyak 
mengungkap masalah "perkotaan", ketimpangan pembangunan (vertikal, horizontal) 
dari sisi "perasaan" (otak kanan). Saya pikir masih relevan sat ini. 
Dulu di ITB ada Grup Apresiasi Sastra (GAS), seingat saya salah dua 
pemrakarsanya Kemal T (mantan Ketua IAP) dan Rizal Ramli (mantan Menkeu).
 
Puisi Taufik Ismail "Tirani", dan "Aku malu jadi .....", juga yang ditulis 
untuk kawannya (..?) yang mengabdi di Maluku itu, saya pikir sukses sebagai 
kritik sosial dan pendidikan.
 
Para pecinta lingkungan juga biasa kampanye cinta lingkungan lewat puisi. 
Walaupun kalau baca puisi di harian Kompas sulit, kayaknya ditulis untuk 
seniman sendiri ya.
 
 
Salam,
Risfan Munir
 
 
 
 


--- On Wed, 5/12/10, Sariffuddin <[email protected]> wrote:


From: Sariffuddin <[email protected]>
Subject: Bls: Bls Bls: Bls: [referensi] Puisi Negeri Para Bedebah
To: [email protected]
Date: Wednesday, May 12, 2010, 12:29 AM


  




Dear All

Memang persepsi setiap orang akan berbeda terganggung bagaimana mereka 
berinterprestasi. Mengenai puisi ini, pada awalnya saya termasuk orang yang 
tidak suka dan termasuk orang yang 'sedikit membencinya' , namun setelah saya 
diskusi kecil-kecilan dengan beberapa temen yang lebih tahu mengenai sastra 
cara pandang saya sedikit berubah. Seperti yang diungkap Pak Dwi Agus bahwa 
puisi bukan sekedar membaguskan bahasa tetapi juga menawarkan makna. Namun 
menurut Saya, akan lebih baik jika karya seni bisa diterima oleh hampir 
sebagian besar orang.. (bisa tidak ya?)

Salam
Sarif







Dari: Benedictus Dwiagus S. <bdwia...@gmail. com>
Kepada: refere...@yahoogrou ps.com
Terkirim: Rab, 12 Mei, 2010 08:36:50
Judul: Re: Bls Bls: Bls: [referensi] Puisi Negeri Para Bedebah

  

Kalau kata seorang:"puisi itu bukan sekedar membaguskan bahasa, tp mesti lebih 
dari itu, ia juga mesti menawarkan makna"

Jadi kadang yg dicari atau yg diapresiasi bukan sekedar diksi yg seksi atau 
frasa halus bak priyayi, tp bisa juga bahasa banal yg nakal, kasar,sederhana, 
vulgar,.... Selama dia bisa menawarkan makna bagi pembacanya.


Coba baca puisi Joko Pinurbo, kadang terlalu sederhana, gak artistik, gak 
puitis, tap bisa menawarkan makna dan kesegaran yang beda.

Kalau puisi adhie massardi ini, hmmmm...

Pada akhirnya relatif yaa... Huahahahaha

Cheers,
Dwiagus

»»» digowes dari Rempoa dengan BikeBerry® ~ Genjot Teruuusss... !!!


From: renyan...@yahoo. com 
Date: Tue, 11 May 2010 23:51:01 +0000
To: <refere...@yahoogrou ps.com>
Subject: Re: Bls Bls: Bls: [referensi] Puisi Negeri Para Bedebah

  

Hehe...setuju p. Deni...jenis puisi kayaknya juga ada yg disebut "sarkastik" 
....atau "sisindiran" ...ya itu biasa aja. Senang ga senang juga tergantung 
suasana hati yg mendengar. Ini termasuk cara yg menurutku lebih baik dp DEMO 
apalagi demo yg dibayar ya...

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT


From: redi...@cbn. net.id 
Date: Tue, 11 May 2010 22:05:29 +0000
To: <refere...@yahoogrou ps.com>
Subject: Re: Bls Bls: Bls: [referensi] Puisi Negeri Para Bedebah

  

Dlam sejarahnya puisi itu jg punya fungsi mengkritik.. . Kritikan trhadap 
kerusakan alam, ketidak adilan, sosial, kemajuan, bhkan kepada budaya dn seni 
itu sndiri...
Jdi ya biasa2 sj... Adq yg suka dn tidak suka jg ya biasa2 sj...

Rdd
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT


From: hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> 
Date: Tue, 11 May 2010 09:17:20 -0700 (PDT)
To: <refere...@yahoogrou ps.com>
Subject: Re: Bls Bls: Bls: [referensi] Puisi Negeri Para Bedebah

  






Rekan Sariffuddin ysh, 
Eee iya lo…… sama ..... dan saya juga gak suka puisinya alm Rendra itu ……bhsnya 
juga kasar or sarkastik …..Dan lagian wong puisi kok ngritik …ngritik 
pemerintah dan ketidak-adilan…..lha itu khan sama juga gerutu  ...lha buat apa? 
.....kalo saya sih paling senang ya jenis penyair salon itu ..…yaitu penyair yg 
kerjanya menulis puisi tentang betis, anggur dan rembulan  gitu :-)……salam, 
aby

--- On Tue, 5/11/10, Sariffuddin <sari...@yahoo. com> wrote:


From: Sariffuddin <sari...@yahoo. com>
Subject: Bls: Bls: [referensi] Puisi Negeri Para Bedebah
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Tuesday, May 11, 2010, 2:03 AM


  


Dear Pak BTS

Sebagian orang sependapat dengan Bapak, namun sebagian yang lain mungkin 
berpendapat lain. Saya rasa karya seni berlaku bukan untuk beberapa golongan 
orang saja. 

thanks
Sarif







Dari: Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com>
Kepada: refere...@yahoogrou ps.com
Terkirim: Sel, 11 Mei, 2010 15:50:50
Judul: Bls: [referensi] Puisi Negeri Para Bedebah

  






Terus terang, aku tak suka puisi ini. Nilai seninya miskin sekali karena 
bahasanya kasar. Saya kira ini bukan puisi, tapi gerutu. Kalau gerutu,...buat 
apa?
 
He-he-he.. sorry.
 
Thanks. CU. BTS.
 


--- Pada Sel, 11/5/10, Sariffuddin <sari...@yahoo. com> menulis:


Dari: Sariffuddin <sari...@yahoo. com>
Judul: [referensi] Puisi Negeri Para Bedebah
Kepada: planostation2001@ yahoogroups. com, refere...@yahoogrou ps.com
Tanggal: Selasa, 11 Mei, 2010, 8:27 AM





















Puisi Negeri Para Bedebah
Karya:Adhie Massardi

Ada satu negeri yang dihuni para bedebah 
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa 
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah 
Dari langit burung-burung kondor jatuhkan bebatuan menyala-nyala

Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah? 
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah 
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah 
Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah

Di negeri para bedebah 
Orang baik dan bersih dianggap salah 
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan 
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah 
Karena hanya penguasa yang boleh marah 
Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah 
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah 
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum 
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah 
Usirlah mereka dengan revolusi 
Bila tak mampu dengan revolusi, 
Dengan demonstrasi 
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi 
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan

Source: forum.detik. com


















      

Kirim email ke