Ass.w.w Sejauh yang saya ketahui Insya Allah Solo dan Pak Jokowinya akan punya hajat besar APMCHU, conference housing dan porkotaan pada tanggla 22 - 24 juni
Salam 'Ramalis ________________________________ From: - ekadj <[email protected]> To: [email protected] Sent: Sun, May 23, 2010 7:56:35 PM Subject: [referensi] Jumpa Solo Pak Rofiq ysh, menarik sekali tawarannya untuk kopi darat di Solo, terutama suguhannya. Mudah-mudahan duren Lampung juga lagi musim. Kalau waktunya pas, saya kira banyak yang bisa ikutan, kira-kira weekend pak? Kita perlu tahu juga Referensiers yang domisili di Solo, siapa saja ya? Kalau Pak Djarot sudah ok, Pak Risfan bagaimana? Siapa lagi bisa ikutan? -ekadj 2010/5/23 Aunur rofiq <aunurrofiqhadi@ yahoo.com> >Pak Eka, >Kalau ingin bicara hubungan antara borjuis, keruangan, nilai lokal, >tradisional, .pasar... .......lebih enak kalau kita kopi darat di Solo bisa >diskusi dengan Jokowi sambil makan sego liwet dan wedang uwuh. Saya rasa akan >banyak yang dateng...... bulan Juni gimana? > > > >Salam >Aunur Rofiq > > > > > > ________________________________ > >From: - ekadj <4ek...@gmail. com> >To: refere...@yahoogrou ps.com >Sent: Sun, May 23, 2010 8:58:14 AM > > >Subject: Re: [referensi] la pensée bourgeoise > > >Pak Risfan ysh. Saya kira memang ada perubahan pola pemasaran produk, kalau >dulu ada galeri-galeri yang mengumpulkan produk dari perupa sekitar, dan >tentunya ada proses seleksi kualitas. Sekarang siapa pun bisa membuka galeri >sendiri, sehingga membiarkan konsumen memilih sendiri kualitas produknya. Ini >juga menjadi rekreasi belanja tersendiri. Namun implikasi keruangannya cukup >luar biasa untuk wajah Bali hari ini. >Kalau untuk Asmat, bentuk pemasarannya dilakukan setahun sekali, yaitu setiap >minggu kedua Oktober. Pada waktu itu puluhan wisatawan datang dari seluruh >dunia, dan banyak yang menggunakan kapal pesiar. Karena jumlah produknya >sedikit, dilakukan dengan sistem lelang. >Produksi di Asmat tidak bisa ditingkatkan, karena jumah perupa yang semakin >sedikit, juga ketersediaan kayu-besi yang semakin terbatas. Dan yang >terpenting: perupa tidak bisa dipacu untuk berproduksi, mungkin karena seni >sebagai ekspresi jiwa itu. >>Mungkin disini kita dapat melihat perbedaan antara masyarakat borjuis dan >>tradisional itu secara kontras. Keduanya memiliki basis materialisme yang >>sama yaitu 'structure in place'. Namun praxis untuk berproduksi, modus >>transformasi alam tergantung pada instrumen dan teknologi, ditambah oleh Pak >>Risfan: pasar. Hanya pragmatisme borjuis terhadap alam juga berpengaruh pada >>pragmatisme kulturnya. Borjuis berproduksi karena hubungan ekonomi: exchange >>dan utilitarian, dan membangun sekat yang tegas dan panjang >>produsen-konsumen. Tradisional berproduksi karena hubungan sosial, memahami >>alam sebatas kebutuhan sendiri, dan kalau ada pertukaran kembali kepada >>semiotika sosial. >Sementara demikian pak. Salam. > >-ekadj > > >2010/5/23 Risfan M <risf...@yahoo. com> > > >>Uda Eka dan Rekans ysh, >> >>Saya memahami kemirisan Anda soal komersialisasi karya seni. Di kalangan >>perencana pariwisata, budayawan ini juga merisaukan. Dilematis. >> >>Idealnya biarkan keaslian karya Asli dari suku Asli tetap asli. Ritme hidup >>dia juga tetap asli. >>>>Tapi, kalau Anda tahu bahwa karya Asli itu di pasar ternyata harganya mahal >>>>dan Anda membiarkan suku Asli itu tidak tahu , apalagi mereka secara >>>>ekonomi IPM) terbatas. Maka membiarkan mereka tidak masuk sistem ekonomi, >>>>bisa dibilang tidak fair juga. Dan, praktiknya kebijakan pemerintah (diluar >>>>kontrol kita) membuka peluang itu. >> >>Tapi mengajari mereka terjun bebas ke sistem ekonomi memang beresiko: >>memudaran keaslian berganti motif komersial; kedua akan memicu eksploitasi. >>Untuk inilah maka penguatan Cluster/sentra /kelompok diperlukan agar >>bargaining position mereka (mikro-kecil) naik, dan ada keseimbangan informasi >>(harga, kualitas). >> >>Kecuali kalau (omongan negarawan ini) negara ini betul2 menganut faham Negara >>Sejahtera, dan mampu konsisten memberi jaminan sosial yang wajar bagi tiap >>warganya. Orang air saja mesti beli, rumah sakit atau sekolah mendiskriminasi >>orang tak mampu, kok seniman, suku Asli, gak boleh jualan karya seninya. >> >>Saya jadi ingat potongan syair Rendra yang juga mengritik bisnis Pariwisata >>di satu daerah. Intinya digambarkan seorang wisatawan perempuan bilang ke >>suaminya, Well, look John, mereka asli ya. Tanpa baju manjat pohon kelapa. >>Eksotis ya seperti monyet. Ayo kita foto. >> >>Pak Eka, debat seni untuk seni vs seni bertendens (sekarang komersial) >>sepertinya juga abadi. Seingat saya Bagong K (bapaknya Butet dan Jadug) dan >>Garin yang ambil jalan tengah. Mengambangkan yang seni banget (klasik, >>eksperimental) dan yang pop (komersial?) . >> >>Yang penting keseimbangan informasi diperjuangkan. Jangan seperti praktik >>pembangunan kota. Kepada warga pemilik tanah Pemda bilang ini kepentingan >>umum , tutup mata bahwa begitu prasarana dibangun para pengembang menikmati >>gain harga tanah puluhan kali. Karena itu menurut saya Planner juga mesti >>tahu dinamika harga tanah, supaya bisa menjembatani kepentingan masing-masing >>pihak. >> >>Kembali ke supply-chain, idealnya produsen A, B, C, .....tahu di proses X >>nanti harga jualnya berapa (walau kasar) dan tiap jenjang porsinya berapa, >>apa kriteria mutunya, sehingga dia bisa menaikkan posisinya. >> >> >>Salam, >>Risfan Munir >>www.wilayahkota. blogspot. com >>

