Pak Rofiq ysh, menarik sekali tawarannya untuk kopi darat di Solo, terutama suguhannya. Mudah-mudahan duren Lampung juga lagi musim. Kalau waktunya pas, saya kira banyak yang bisa ikutan, kira-kira weekend pak? Kita perlu tahu juga Referensiers yang domisili di Solo, siapa saja ya? Kalau Pak Djarot sudah ok, Pak Risfan bagaimana? Siapa lagi bisa ikutan?
-ekadj 2010/5/23 Aunur rofiq <[email protected]> > > > Pak Eka, > Kalau ingin bicara hubungan antara borjuis, keruangan, nilai lokal, > tradisional,.pasar..........lebih enak kalau kita kopi darat di Solo bisa > diskusi dengan Jokowi sambil makan sego liwet dan wedang uwuh. Saya rasa > akan banyak yang dateng......bulan Juni gimana? > > > Salam > Aunur Rofiq > > > ------------------------------ > *From:* - ekadj <[email protected]> > *To:* [email protected] > *Sent:* Sun, May 23, 2010 8:58:14 AM > > *Subject:* Re: [referensi] la pensée bourgeoise > > > > Pak Risfan ysh. Saya kira memang ada perubahan pola pemasaran produk, kalau > dulu ada galeri-galeri yang mengumpulkan produk dari perupa sekitar, dan > tentunya ada proses seleksi kualitas. Sekarang siapa pun bisa membuka galeri > sendiri, sehingga membiarkan konsumen memilih sendiri kualitas produknya. > Ini juga menjadi rekreasi belanja tersendiri. Namun implikasi keruangannya > cukup luar biasa untuk wajah Bali hari ini. > Kalau untuk Asmat, bentuk pemasarannya dilakukan setahun sekali, yaitu > setiap minggu kedua Oktober. Pada waktu itu puluhan wisatawan datang dari > seluruh dunia, dan banyak yang menggunakan kapal pesiar. Karena jumlah > produknya sedikit, dilakukan dengan sistem lelang. > Produksi di Asmat tidak bisa ditingkatkan, karena jumah perupa yang semakin > sedikit, juga ketersediaan kayu-besi yang semakin terbatas. Dan yang > terpenting: perupa tidak bisa dipacu untuk berproduksi, mungkin karena seni > sebagai ekspresi jiwa itu. > Mungkin disini kita dapat melihat perbedaan antara masyarakat borjuis dan > tradisional itu secara kontras. Keduanya memiliki basis materialisme yang > sama yaitu 'structure in place'. Namun praxis untuk berproduksi, modus > transformasi alam tergantung pada instrumen dan teknologi, ditambah oleh Pak > Risfan: pasar. Hanya pragmatisme borjuis terhadap alam juga berpengaruh pada > pragmatisme kulturnya. Borjuis berproduksi karena hubungan ekonomi: exchange > dan utilitarian, dan membangun sekat yang tegas dan panjang > produsen-konsumen. Tradisional berproduksi karena hubungan sosial, memahami > alam sebatas kebutuhan sendiri, dan kalau ada pertukaran kembali > kepada semiotika sosial. > Sementara demikian pak. Salam. > > -ekadj > > > 2010/5/23 Risfan M <risf...@yahoo. com <[email protected]>> > >> >> >> Uda Eka dan Rekans ysh, >> >> Saya memahami kemirisan Anda soal komersialisasi karya seni. Di kalangan >> perencana pariwisata, budayawan ini juga merisaukan. Dilematis. >> >> Idealnya biarkan keaslian karya Asli dari suku Asli tetap asli. Ritme >> hidup dia juga tetap asli. >> Tapi, kalau Anda tahu bahwa karya Asli itu di pasar ternyata harganya >> mahal dan Anda membiarkan suku Asli itu tidak tahu , apalagi mereka secara >> ekonomi IPM) terbatas. Maka membiarkan mereka tidak masuk sistem ekonomi, >> bisa dibilang tidak fair juga. Dan, praktiknya kebijakan pemerintah (diluar >> kontrol kita) membuka peluang itu. >> >> Tapi mengajari mereka terjun bebas ke sistem ekonomi memang beresiko: >> memudaran keaslian berganti motif komersial; kedua akan memicu eksploitasi. >> Untuk inilah maka penguatan Cluster/sentra /kelompok diperlukan agar >> bargaining position mereka (mikro-kecil) naik, dan ada keseimbangan >> informasi (harga, kualitas). >> >> Kecuali kalau (omongan negarawan ini) negara ini betul2 menganut faham >> Negara Sejahtera, dan mampu konsisten memberi jaminan sosial yang wajar bagi >> tiap warganya. Orang air saja mesti beli, rumah sakit atau sekolah >> mendiskriminasi orang tak mampu, kok seniman, suku Asli, gak boleh jualan >> karya seninya. >> >> Saya jadi ingat potongan syair Rendra yang juga mengritik bisnis >> Pariwisata di satu daerah. Intinya digambarkan seorang wisatawan perempuan >> bilang ke suaminya, Well, look John, mereka asli ya. Tanpa baju manjat pohon >> kelapa. Eksotis ya seperti monyet. Ayo kita foto. >> >> Pak Eka, debat seni untuk seni vs seni bertendens (sekarang komersial) >> sepertinya juga abadi. Seingat saya Bagong K (bapaknya Butet dan Jadug) dan >> Garin yang ambil jalan tengah. Mengambangkan yang seni banget (klasik, >> eksperimental) dan yang pop (komersial?) . >> >> Yang penting keseimbangan informasi diperjuangkan. Jangan seperti praktik >> pembangunan kota. Kepada warga pemilik tanah Pemda bilang ini kepentingan >> umum , tutup mata bahwa begitu prasarana dibangun para pengembang menikmati >> gain harga tanah puluhan kali. Karena itu menurut saya Planner juga mesti >> tahu dinamika harga tanah, supaya bisa menjembatani kepentingan >> masing-masing pihak. >> >> Kembali ke supply-chain, idealnya produsen A, B, C, .....tahu di proses X >> nanti harga jualnya berapa (walau kasar) dan tiap jenjang porsinya berapa, >> apa kriteria mutunya, sehingga dia bisa menaikkan posisinya. >> >> Salam, >> Risfan Munir >> www.wilayahkota. blogspot. com <http://www.wilayahkota.blogspot.com/> >> >

