Pak Dodo ysh, terima kasih atas penjelasannya yang 'dalem'. Saya kira apa yang telah bapak rintis dan lakukan merupakan langkah-langkah kongkrit yang perlu diketahui banyak pihak, menyangkut pemahaman masalah, metodologi, langkah-langkah, partisipasi, dst yang berbasis permukiman. Kalau membaca bestpractices.org, program-program Habitat biasanya terukur pelaksanaannya, dan ternilai hasilnya. Akan terasa unik kalau sudah diujicobakan pada berbagai tempat di Indonesia. Mudah-mudahan kita bisa melihat contohnya yang di Solo. Mengenai 1953, apakah itu cikal bakal DPMB? Mudah-mudahan Pak Wawo masih monitor untuk mengurai sedikit sejarah yang masih terekam. Walaupun masih lama, perlu juga pak acaranya dipanasin dulu di Referensi. Kan ada Bu Ramalis, Pak ATA, Danang, Jehan, Herlambang, dll. Salam.
-ekadj 2010/5/27 Dodo Juliman <[email protected]> > Terima kasih Pak Eka atas tanggapannya. > Kebetulan kami beberapa kali berdiskusi dengan kawan-kawan soal > pengembangan jejaring perumahan dan pembanguan perkotaan (housing and urban > development) untuk memperkuat pengembangan sistem perkotaan yang lebih mampu > merespons perkembangan kebutuhan dan dinamika pelaku (produsen maupun > konsumen) perkotaan. Issue ini telah pula diartikulasikan secara lebih > strategik oleh Wapres dalam Kongres Fiabci di Bali hari ini. > > Lebih baik nanti saja kita telusuri hal-hal tersebut selama ngumpul di > Solo. Kami hanya terlibat di sedikit kegiatan bersama Pak Jokowi di > antaranya pengembangan fasilitas pembiayaan lokal untuk slum upgrading dan > community mapping untuk menunjang proses musrenbang. Keduanya akan menjadi > bahan kunjungan lapangan di hari kedua penyelenggaraan APMCHUD (23 Juni > 2010). > > Yang diharapkan oleh teman-teman di pemerintahan (terutama: Kemenpera, > KemenPU, Bappenas) adalah program yang kongkrit pada saat Indonesia menjadi > Ketua APMCHUD untuk dua tahun ke depan. Sementara ini teman-teman berharap > Indonesia dapat berperan sebagai Pusat Pembelajaran dan Pengelolaan > Pengetahuan di bidang Perumahan dan Pembangunan Perkotaan, mengingat pada > tahun 1953 kita pernah dipercaya untuk mengelola Pusat Perumahan untuk > Kawasan Asia Pasifik (Regional Housing Center) di Bandung. > > Tentu ini bukan pekerjaan yang mudah mengingat bangsa kita relatif kurang > rajin memelihara arsip: dokumentasi, laporan, buku, majalah dll, sehingga > banyak rekam jejak perkembangan perumahan dan pembangunan perkotaan kita > relatif tidak banyak yang bisa kita dapatkan saat ini. Mudah-mudahan dengan > adanya prakarsa ini teman-teman yang selama ini menyimpan dan memelihara > dengan baik berbagai sumber informasi dan pengetahuan yang selama ini tidak > diketahui rimbanya, juga buat generasi muda (khususnya mahasiswa) yang juga > akan berkumpul di Solo dalam Youth Urban Forum dapat lebih bersemangat dalam > mendokumentasi berbagai penelitian, action research, praktik unggulan dll > untuk mengawali "kesadaran baru" dalam membangun perumahan dan perkotaan > kita ke depan. > > Demikian, mohon maaf jika terkesan sok tau, saya hanya mencoba > mengartikulasikan apa yang telah dirembuk bersama teman-teman. > > Salam hormat, > Dodo Juliman > > > ________________________________________ > From: [email protected] [[email protected]] On Behalf Of - > ekadj [[email protected]] > Sent: Monday, May 24, 2010 6:06 PM > To: [email protected] > Subject: Re: [referensi] Jumpa Solo > > Salam kenal untuk Pak Dodo, sudah sering dengar namanya pak, namun belum > pernah jumpa. Diharapkan bapak juga "bicara" dalam diskusi kita untuk > berbagi perspektif. Mengingat rupanya ada gawean Habitat di Solo, rasanya > Jumpa Solo-nya bisa kita adakan berbarengan, bagaimana Pak Rofiq, Pak > Risfan, dkk? Saya juga pengen dengar komentar Pak H. Aby nih. Salam. > > -ekadj > 2010/5/24 Dodo Juliman <[email protected]<mailto:[email protected] > >> > Pak Rofiq dan Pak Eka, > Kenalkan, nama saya Dodo Juliman. Saya tsalah satu anggota milis ini yang > setia "mendengarkan" diskusi Bapak-Ibu sekalian.. Saya juga akan ada di Solo > mulai tanggal 20-26 Juni yad. Saya sangat senang kalau diberi kesempatan > untuk bertemu dengan teman-teman referensiers. Saya dapat dihubungi di no > 08112200560. Sampai bertemu di Solo dan wedangan bersama Pak Jokowi yang > baru terpilih kembali menjadi Walikota Solo. > > Salam hangat, > Dodo Juliman > ________________________________________ > From: [email protected]<mailto:[email protected]> [ > [email protected]<mailto:[email protected]>] On Behalf Of > - ekadj [[email protected]<mailto:[email protected]>] > Sent: Sunday, May 23, 2010 7:56 PM > To: [email protected]<mailto:[email protected]> > Subject: [referensi] Jumpa Solo > > Pak Rofiq ysh, menarik sekali tawarannya untuk kopi darat di Solo, terutama > suguhannya. Mudah-mudahan duren Lampung juga lagi musim. Kalau waktunya pas, > saya kira banyak yang bisa ikutan, kira-kira weekend pak? Kita perlu tahu > juga Referensiers yang domisili di Solo, siapa saja ya? Kalau Pak Djarot > sudah ok, Pak Risfan bagaimana? Siapa lagi bisa ikutan? > > -ekadj > > 2010/5/23 Aunur rofiq <[email protected]<mailto: > [email protected]><mailto:[email protected]<mailto: > [email protected]>>> > > > Pak Eka, > Kalau ingin bicara hubungan antara borjuis, keruangan, nilai lokal, > tradisional,.pasar..........lebih enak kalau kita kopi darat di Solo bisa > diskusi dengan Jokowi sambil makan sego liwet dan wedang uwuh. Saya rasa > akan banyak yang dateng......bulan Juni gimana? > > > Salam > Aunur Rofiq > > > ________________________________ > From: - ekadj <[email protected]<mailto:[email protected]><mailto: > [email protected]<mailto:[email protected]>>> > To: [email protected]<mailto:[email protected]><mailto: > [email protected]<mailto:[email protected]>> > Sent: Sun, May 23, 2010 8:58:14 AM > > Subject: Re: [referensi] la pensée bourgeoise > > > > Pak Risfan ysh. Saya kira memang ada perubahan pola pemasaran produk, kalau > dulu ada galeri-galeri yang mengumpulkan produk dari perupa sekitar, dan > tentunya ada proses seleksi kualitas. Sekarang siapa pun bisa membuka galeri > sendiri, sehingga membiarkan konsumen memilih sendiri kualitas produknya. > Ini juga menjadi rekreasi belanja tersendiri. Namun implikasi keruangannya > cukup luar biasa untuk wajah Bali hari ini. > Kalau untuk Asmat, bentuk pemasarannya dilakukan setahun sekali, yaitu > setiap minggu kedua Oktober. Pada waktu itu puluhan wisatawan datang dari > seluruh dunia, dan banyak yang menggunakan kapal pesiar. Karena jumlah > produknya sedikit, dilakukan dengan sistem lelang. > Produksi di Asmat tidak bisa ditingkatkan, karena jumah perupa yang semakin > sedikit, juga ketersediaan kayu-besi yang semakin terbatas. Dan yang > terpenting: perupa tidak bisa dipacu untuk berproduksi, mungkin karena seni > sebagai ekspresi jiwa itu. > Mungkin disini kita dapat melihat perbedaan antara masyarakat borjuis dan > tradisional itu secara kontras. Keduanya memiliki basis materialisme yang > sama yaitu 'structure in place'. Namun praxis untuk berproduksi, modus > transformasi alam tergantung pada instrumen dan teknologi, ditambah oleh Pak > Risfan: pasar. Hanya pragmatisme borjuis terhadap alam juga berpengaruh pada > pragmatisme kulturnya. Borjuis berproduksi karena hubungan ekonomi: exchange > dan utilitarian, dan membangun sekat yang tegas dan panjang > produsen-konsumen. Tradisional berproduksi karena hubungan sosial, memahami > alam sebatas kebutuhan sendiri, dan kalau ada pertukaran kembali kepada > semiotika sosial. > Sementara demikian pak. Salam. > > -ekadj > > > 2010/5/23 Risfan M <risf...@yahoo. com<mailto:[email protected]<mailto: > [email protected]>>> > > > Uda Eka dan Rekans ysh, > > Saya memahami kemirisan Anda soal komersialisasi karya seni. Di kalangan > perencana pariwisata, budayawan ini juga merisaukan. Dilematis. > > Idealnya biarkan keaslian karya Asli dari suku Asli tetap asli. Ritme hidup > dia juga tetap asli. > Tapi, kalau Anda tahu bahwa karya Asli itu di pasar ternyata harganya mahal > dan Anda membiarkan suku Asli itu tidak tahu , apalagi mereka secara ekonomi > IPM) terbatas. Maka membiarkan mereka tidak masuk sistem ekonomi, bisa > dibilang tidak fair juga. Dan, praktiknya kebijakan pemerintah (diluar > kontrol kita) membuka peluang itu. > > Tapi mengajari mereka terjun bebas ke sistem ekonomi memang beresiko: > memudaran keaslian berganti motif komersial; kedua akan memicu eksploitasi. > Untuk inilah maka penguatan Cluster/sentra /kelompok diperlukan agar > bargaining position mereka (mikro-kecil) naik, dan ada keseimbangan > informasi (harga, kualitas). > > Kecuali kalau (omongan negarawan ini) negara ini betul2 menganut faham > Negara Sejahtera, dan mampu konsisten memberi jaminan sosial yang wajar bagi > tiap warganya. Orang air saja mesti beli, rumah sakit atau sekolah > mendiskriminasi orang tak mampu, kok seniman, suku Asli, gak boleh jualan > karya seninya. > > Saya jadi ingat potongan syair Rendra yang juga mengritik bisnis Pariwisata > di satu daerah. Intinya digambarkan seorang wisatawan perempuan bilang ke > suaminya, Well, look John, mereka asli ya. Tanpa baju manjat pohon kelapa. > Eksotis ya seperti monyet. Ayo kita foto. > > Pak Eka, debat seni untuk seni vs seni bertendens (sekarang komersial) > sepertinya juga abadi. Seingat saya Bagong K (bapaknya Butet dan Jadug) dan > Garin yang ambil jalan tengah. Mengambangkan yang seni banget (klasik, > eksperimental) dan yang pop (komersial?) . > > Yang penting keseimbangan informasi diperjuangkan. Jangan seperti praktik > pembangunan kota. Kepada warga pemilik tanah Pemda bilang ini kepentingan > umum , tutup mata bahwa begitu prasarana dibangun para pengembang menikmati > gain harga tanah puluhan kali. Karena itu menurut saya Planner juga mesti > tahu dinamika harga tanah, supaya bisa menjembatani kepentingan > masing-masing pihak. > > Kembali ke supply-chain, idealnya produsen A, B, C, .....tahu di proses X > nanti harga jualnya berapa (walau kasar) dan tiap jenjang porsinya berapa, > apa kriteria mutunya, sehingga dia bisa menaikkan posisinya. > > Salam, > Risfan Munir > www.wilayahkota. blogspot. com<http://www.wilayahkota.blogspot.com/> >

