Pak Djarot, rekans yshm Sebenarnya apa yg dikembangkan Focault itu sdh dipahami oleh para planner (aknowledge), masalahnya dalam penerapan pada konsep pelaksanaan sering tidak keliar dan yg muncul adalah dikotomis dan cenderung negativist. Acknowledgement dengan adanya pilar2 kekuatan (kekuasaan?) ini misal diaddres dg jelas pd pertemuan SOM UN-ESCAP th 1995. Bahkan addressing pd agendanya pun sdh jelas (artinya bukan hal baru), yg baru adalah kemauan share disatu sisi dan mau susah disisi lainnya. Ini terkait dg siklus kekuasaan juga yg relatif terbatas ditambah adanya perhitungan payback thd investasi. Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT
-----Original Message----- From: Djarot Purbadi <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Thu, 24 Jun 2010 18:24:59 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: Re: [referensi] Ridwan Kamil dan DjokoWi.... biasa aja !!! Pak Risfan dan Rekans, Tentang ketidakjelasan pemimpin dalam era demokrasi, menurut Pak Guru saya bisa dijelaskan dengan konsep kekuasaan versi Foucault yang mengatakan bahwa sekrang kekuasaan bukan lagi soild dan masiv melainkan terbagi-bagi dan menyebar serta ada dimana-mana. Teori Foucault ini sekarang tampak dan terbukti, bahwa kekuasaan bukan lagi dipresentasikan oleh sosok-sosok konvensional seperti sultan, presiden atau yang lain, melainkan unit-unit kekuasaan yang tidak ada dalam paradigma sebelumnya. Ketika kami meneliti Parangtritis tahun 2000-an, fenomena pelaku ruang, kekuasaan dan perilakunya tampak dengan jelas. Perilaku kekuasaan bukan semata-mata top-down melainkan bisa ke arah mana saja dan dalam gerak dinamis yang di luar koordinat Cartesian. Jika masih memandang kekuasaan di era sekarang menggunakan kacatama non-foucauldian, maka kesimpulannya mungkin sama dengan pandangan Pak Risfan. Artinya, fenomena Djokowi sebagai walikota sebenarnya hanyalah salah satu titik atau butir kekuasaan saja. Persoalannya, apakah cara pandang planner (juga arsitek) masih dengan paradigma ataukah sudah fit dengan fenomena lapangan??? Salam, Djarot Purbadi --- On Thu, 6/24/10, Risfan M <[email protected]> wrote: From: Risfan M <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Ridwan Kamil dan DjokoWi.... biasa aja !!! To: [email protected] Date: Thursday, June 24, 2010, 9:58 AM Pak Djarot dan Rekans ysh, Fenomena Solo, khususnya penataan PKL oleh Walikota Jokowi, saya kira inovatif dan layak (sudah banyak) ditulis sebagai "good practice". Tinggal sudut pandangnya. Bisa mekanisme teknis, financial engiinering, tapi yang dilihat Pak Djarot sisi "organizational culture", leadership. Sekarang juga terjadi ketidak jelasan peran "pemimpin" di era demokrasi ini. Jokowi mungkin contoh leader yang tahu berperan di era ini. Misalnya, seperti kata Bang Jehan, salah satu kunci ialah Walikota/Pemda tidak nafsu ambil keuntungan atau rejeki nomplok dari pembangunan pasar. Agak beda dengan cerita umum tentang renovasi pasar dan lainnya. Selalu ada dilema dan perdebatan "best" apa tidak? karena itu saya lebih suka pakai istilah "good" supaya lebih tidak menegangkan. Kompas hari ini menulis tentang beberapa negara yang akan mengadopsi pendekatan penanganan PKL ala Solo ini. Salam, Risfan Munir --- On Wed, 6/23/10, Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> wrote: From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> Subject: Re: [referensi] Ridwan Kamil dan DjokoWi.... biasa aja !!! To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Wednesday, June 23, 2010, 7:12 PM Pak Risfan dan sahabats, Setelah saya wedarkan "rahasia" atau ilmu sastrojendro dari Djokowi, ternyata biasa-biasa aja ya. Menurut saya, yang luar biasa adalah satunya keinginan, pemikiran dan perbuatan. Sampai malam tadi saya masih melihat di TV bahwa pembenahan ruang kota dengan model penggusuran masih saja ada, bahkan di kota Semarang, yang begitu dekat dengan kota Solo. Persoalan yang menarik, mengapa contoh praksis yang begitu bagus dari walikota Solo tidak serta-merta diikuti oleh yang lain? Apakah takut kalah pamor dan dianggap menjadi penyontek? Saya kira beberapa unsur tindakan walikota Yogyakarta ada kemiripan dengan yang dilakukan Djokowi. Pemindahan pasar klithikan di kedua kota dengan kirab, misalnya, terjadi di kedua kota ini. Apakah fenomena Djokowi sungguh biasa saja, ataukah bisa dituliskan menjadi best practices unik dan masuk dalam khasanah teori pemberdayaan masyarakat atau pembenahan ruang kota? Mungkin saja, Djokowi banyak belajar dari khasanah teori itu, tetapi keunikannya bisa diangkat menjadi pemerkayaan karena muncul dari situasi-kondisi khusus/unik. Salam, Djarot Purbadi --- On Tue, 6/22/10, Risfan M <risf...@yahoo. com> wrote: From: Risfan M <risf...@yahoo. com> Subject: Re: [referensi] Ridwan Kamil dan DjokoWi, penasaran butir 9 To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Tuesday, June 22, 2010, 4:20 PM Kalau saya tidak salah tangkap sih. Yang diatasi sesungguhnya "uang muka" yang biasanya membuat "pedagang lama" tak bisa masuk ke pasar yang baru. Apa lagi sebagian berasal dari PKL yang dipindahkan. Tanahnya milik Pemda, sehingga soalnya biaya pembangunan. Disitu Pemda sepertinya memberikan "subsidi uang muka". Berikutnya cicilan diambil dari retrbusi. Dia bilang sebetulnya retribusi harian itu nilainya cukup besar. Tapi pasar tradisional umumnya bocor di penarikan retribusi, parkir, dst. Maka, dia tata betul-betul manajemen pengumpulan retribusi itu. Karena dari situlah sebetulnya biaya pembangunan ditutup. Apakah Pemda menyewakan sebagian untuk bank, dst, dengan harga komersial, bisa saja kan itu jadi sumber penerimaan lainnya. Pengelolaan pasar tradisional hasil pembangunan tersebut layak dicatat pula. Pedagang pakai seragam, lorong/gang antar stand dijaga betul kebersihan dan kerapiannya. Buat pembelanja ada door-prize yang diundi, hadiahnya juga ada yang mobil. Tujuannya tidak kalah gengsi dengan hiper/super- rmarket. Salam, Risfan Munir www.urbaneconomic. blogspot. com --- On Tue, 6/22/10, Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com> wrote: From: Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com> Subject: Re: [referensi] Ridwan Kamil dan DjokoWi, penasaran butir 9 To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Tuesday, June 22, 2010, 3:43 AM Bung Jehan, sama dengan Koko, saya penasaran bagaimana sih menyiasati amggaran sehingga pedagang beli kios tidak perlu membayar sepeserpun dan nanti investasi akan kembali. Niat baik saja tidak cukup, tapi harus ada matematikanya khan? Saya benar-benar "narketing" (penasaran). Thanks. CU. BTS. --- Pada Sel, 22/6/10, Jehan Siregar <jehansiregar@ yahoo.com> menulis: Dari: Jehan Siregar <jehansiregar@ yahoo.com> Judul: Re: [referensi] Ridwan Kamil dan DjokoWi Kepada: refere...@yahoogrou ps.com Tanggal: Selasa, 22 Juni, 2010, 8:21 AM Dear Koko n Pak Djarot, Menurut saya sederhana saja, karena inisiatif ini digerakkan oleh niat murni untuk memberdayakan PKL, menata ruang kota dan mengembangkan kawasan baru. Tidak ada terselip kepentingan tertentu baik dari investor yang hendak berspekulasi memanfaatkan tanah/ruang kota maupun motif proyek-proyek pengadaan. Ketika situasi ini ada di kasus-kasus lain dan memang sengaja diundang oleh pengelola kota yang menerapkan "do nothing and project approach", maka kepentingan ini bisa berubah menjadi selilit yang merusak semangat kebersamaan, sehingga tidak semua bisa happy. Salam, Jehan --- On Tue, 6/22/10, Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com> wrote: From: Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com> Subject: Re: [referensi] Ridwan Kamil dan DjokoWi To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Tuesday, June 22, 2010, 9:32 AM Saya tertarik untuk mendalami butir no. 9. Seperti apakah 'cara tertentu' menyiasati anggaran tersebut sehingga semua happy? Salam, -K- 9. Mengapa warga (beberapa kasus adalah penataan pasar) mau pindah ke pasar yang ditata dengan sukarela ? Ya karena mereka mendapat kepastian tentang tempat jualan sesuai dengan keinginan bersama. Rahasia yang penting: pedagang lama di pasar baru tidak mengeluarkan uang sepeserpun. Padahal, di kota-kota lain proses pindah semacam itu selalu dengan mbayar beli kios. lha di Solo kok nggak mbayar? Ternyata Djokowi pandai menyiasati anggaran dan meyakinkan dewan bahwa dengan cara tertentu uang yang ditanamkan untuk pasar baru akan kembali dan pedagang terbebani. Sebenarnya, mereka mbayar juga, hanya dengan cara matematika sedemikian rupa semuanya happy. 2010/6/21 Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>

