Mas BTS, bukankah sumber dana membangun gedung pasar berasal dari APBD? 
Sehingga Pemko tidak perlu terikat dengan biaya pinjaman? Tinggal dari 
cicilannya saja yang berjangka panjang sekali. Tantangannya tinggal di lembaga 
yg mengelola pergulirannya. Mungkin karena community based, anggaran 
maintenance juga bisa ditekan tanpa mengikuti harga jasa cleaning service yg 
komersial misalnya.
Jika menggunakan dana BPD, bukankah juga bisa berbunga rendah? Asal benar2 
berkomitmen membiayai pembangunan aset-aset kota, dan bukan BPD yg menjalankan 
praktek bisnis bank komersial atau BPD yg jadi bancakan pejabat daerah. 
 
Terus terang saya baru mengetahui permukaannya saja dan belum mempelajari seluk 
beluknya Pak Jokowi merekayasa pembiayaan pembangunan pasar tsb.
 
Tabik,
Jehan


--- On Tue, 6/22/10, Bambang Tata Samiadji <[email protected]> wrote:


From: Bambang Tata Samiadji <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Ridwan Kamil dan DjokoWi, penasaran butir 9
To: [email protected]
Date: Tuesday, June 22, 2010, 5:43 PM


  








Bung Jehan, sama dengan Koko, saya penasaran bagaimana sih menyiasati amggaran 
sehingga pedagang  beli kios tidak perlu membayar sepeserpun dan nanti 
investasi akan kembali. Niat baik  saja tidak cukup, tapi harus ada 
matematikanya khan?
 
Saya benar-benar "narketing" (penasaran).
 
Thanks. CU. BTS. 


--- Pada Sel, 22/6/10, Jehan Siregar <jehansiregar@ yahoo.com> menulis:


Dari: Jehan Siregar <jehansiregar@ yahoo.com>
Judul: Re: [referensi] Ridwan Kamil dan DjokoWi
Kepada: refere...@yahoogrou ps.com
Tanggal: Selasa, 22 Juni, 2010, 8:21 AM


  





Dear Koko n Pak Djarot,
Menurut saya sederhana saja, karena inisiatif ini digerakkan oleh niat murni 
untuk memberdayakan PKL, menata ruang kota dan mengembangkan kawasan baru. 
Tidak ada terselip kepentingan tertentu baik dari investor yang hendak 
berspekulasi memanfaatkan tanah/ruang kota maupun motif proyek-proyek 
pengadaan. Ketika situasi ini ada di kasus-kasus lain dan memang sengaja 
diundang oleh pengelola kota yang menerapkan "do nothing and project approach", 
maka kepentingan ini bisa berubah menjadi selilit yang merusak semangat 
kebersamaan,  sehingga tidak semua bisa happy.

Salam,
Jehan



--- On Tue, 6/22/10, Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com> wrote:


From: Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com>
Subject: Re: [referensi] Ridwan Kamil dan DjokoWi
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Tuesday, June 22, 2010, 9:32 AM


  





Saya tertarik untuk mendalami butir no. 9. 
Seperti apakah 'cara tertentu' menyiasati anggaran tersebut sehingga semua 
happy?
Salam,
-K-



9. Mengapa warga (beberapa kasus adalah penataan pasar) mau pindah ke pasar 
yang ditata dengan sukarela ? Ya karena mereka mendapat kepastian tentang 
tempat jualan sesuai dengan keinginan bersama. Rahasia yang penting: pedagang 
lama di pasar baru tidak mengeluarkan uang sepeserpun. Padahal, di kota-kota 
lain proses pindah semacam itu selalu dengan mbayar beli kios. lha di Solo kok 
nggak mbayar? Ternyata Djokowi pandai menyiasati anggaran dan meyakinkan dewan 
bahwa dengan cara tertentu uang yang ditanamkan untuk pasar baru akan kembali 
dan pedagang terbebani. Sebenarnya, mereka mbayar juga, hanya dengan cara 
matematika sedemikian rupa semuanya happy.



2010/6/21 Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>


  




















      

Kirim email ke