Dear Koko n Pak Djarot,
Menurut saya sederhana saja, karena inisiatif ini digerakkan oleh niat murni 
untuk memberdayakan PKL, menata ruang kota dan mengembangkan kawasan baru. 
Tidak ada terselip kepentingan  tertentu baik dari investor yang hendak 
berspekulasi memanfaatkan tanah/ruang kota maupun motif proyek-proyek 
pengadaan. Ketika  situasi  ini ada di kasus-kasus lain dan memang sengaja 
diundang oleh pengelola kota yang menerapkan "do nothing and project approach", 
maka kepentingan ini bisa berubah menjadi selilit yang merusak semangat 
kebersamaan, sehingga tidak semua bisa happy.

Salam,
Jehan



--- On Tue, 6/22/10, Harya Setyaka <[email protected]> wrote:

From: Harya Setyaka <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Ridwan Kamil dan DjokoWi
To: [email protected]
Date: Tuesday, June 22, 2010, 9:32 AM

 
Saya tertarik untuk mendalami butir no. 9.Seperti apakah 'cara tertentu' 
menyiasati anggaran tersebut sehingga semua happy?Salam,-K-



9. Mengapa warga (beberapa kasus adalah penataan pasar) mau pindah ke pasar 
yang ditata dengan sukarela ? Ya karena mereka mendapat kepastian tentang 
tempat jualan sesuai dengan keinginan bersama. Rahasia yang penting: pedagang 
lama di pasar baru tidak mengeluarkan uang sepeserpun. Padahal, di kota-kota 
lain proses pindah semacam itu selalu dengan mbayar beli kios. lha di Solo kok 
nggak mbayar? Ternyata Djokowi pandai menyiasati anggaran dan meyakinkan dewan 
bahwa dengan cara tertentu uang yang ditanamkan untuk pasar baru akan kembali 
dan pedagang terbebani. Sebenarnya, mereka mbayar juga, hanya dengan cara 
matematika sedemikian rupa semuanya happy.


2010/6/21 Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>
    


  


      

Kirim email ke