Pak Harya, dalam seminar saat itu tidak terungkap dengan pernyataan yang tegas, tetapi lewat ilustrasi. Keterlibatan warga dalam berbagai hal, termasuk soal uang, tetapi beliau punya kebijakan agar partisipasi dana dari warga ditekan serendah-rendahnya. Sisanya dicarikan dari sponsor yang tertarik melakukan investasi. Pedagang lama pindah ke pasar yang baru tidak mengeluarkan uang untuk ruang pasar yang baru, tetapi mereka ditarik retribusi yang "lebih" untuk "mencicil" fasilitas itu. Lebihannya itu sedikit saja, tidak sampai puluhan ribu (jangka waktunya panjang), tetapi jika dihitung dengan yang lain-lain negara tidak dirugikan dan rakyat senang !!! Pedagang baru bagaimana? Tentunya ya membayar secara normal sebab mereka "pendatang", tetapi warga lama nyatanya tidak terganggu atau marah sebab hak-haknya dipenuhi dengan baik (sesuai hak dan dengan cara yang ringan bagi mereka).
Proyek pasar banyak dibangun beliau, demikian juga ada proyek penataan permukiman kumuh. Djokowi tahu apa yang menjadi kebutuhan warga permukiman kumuh, misalnya soal sertifikat tanah, listrik, air dsb. Sebagai walikota, beliau terlihat powerful karena berani mengeluarkan sertifikat tanah setelah kawasan kumuh ditata sesuai dengan aturan yang berlaku. Pendekatan berbasis masyarakat benar-benar dilakukan, mulai dari diskusi langsung di lapangan, makan bersama saja, sampai dengan kirab-perayaan selesainya pembangunan fisik. Kiprahnya seperti itu ternyata mendongkrak perolehan suara pada pemilihan kedua, sebab suara pendukung mencapai 90% !!! Saya menduga, ada dukungan yang sangat kuat di belakang beliau, misalnya partai tertentu, khususnya yang ada di dewan, lebih khusus yang menangani soal anggaran pembangunan. Selain itu, beliau konsep pembangunan kota yang mengedepankan kepentingan rakyat dan kelestarian budaya serta alam. Ide-idenya selalu terkait dengan ketiga masalah itu. Beliau juga belajar dari banyak tempat, diskusi dengan banyak ahli, bahkan berkali-kali pergi ke kota-kota di luar negeri untuk mempelajari bagaimana menghidupkan kita dan meningkatkan image kota. Beliau sadar, kota Solo pernah dibakar sebanyak 11 kali (kata-kata ini diucapkan beberapa kali dalam seminar) dan ingin mengubahnya. Ada obsesi mengubah citra kota ke arah yang lebih baik pada aspek image melalui pengolahan banyak hal. Konon pernah ada Duber Amerika datang ke Solo. Dubes itu dibisiki bahwa kota Solo tidak aman, tetapi Djokowi mengatakan kepada sang Dubes, datanglah tanpa pengawalan sebab kota Solo adalah kota yang aman. Sang Dubes datang tanpa pengawalan, meskipun stafnya pada kuatir. Ketika di Solo sang Dubes diantar kemana-mana oleh Djokowi dan tanpa pengawalan. Hasilnya, sang Dubes berkata: iya kota Solo memang aman ! Pada akhir cerita, Djokowi bilang, dia tidak tahu, pengawal saya banyak, dan forumpun tertawa segar !!! Nah, ini indikasi menarik, bagaimana Djokowi mengelola "front office" bersinerji dengan "back office" (bukan "back street" lho) untuk menyodorkan citra kota Soloyang aman. Artinya, beliau bekerja keras dengan banyak pendukung, yang kita tidak tahu (hanya beliau yang tahu) siapa saja dibelakangnya. Makan berkali-kali untuk satu proyek adalah perjumpaan antara walikota dengan warga permukiman kumuh. Tentu undangan makan di balai kota kepada warga permukiman kumuh merupakan sebuah langkah penting, ...makan dengan walikota di balai kota atas undangan walikota... tentu ini sangat bermakna bagi banyak orang. Bagi saya, acara makan semacam itu tidak sederhana. Pak Djokowi bisa dibilang sedang mempraktekkan fenomenologi (tanpa harus berteori) untuk menembus jantung budaya warga permukiman kumuh atau pedagang pasar tradisional yang mau ditatanya. Dari sudut lain, ia membangun TRUST dengan cara budaya makan yang dia yakini. Wong Jowo dipangku wae, ntar kan mau terlibat !!! Salam, Djarot Purbadi --- On Tue, 6/22/10, Harya Setyaka <[email protected]> wrote: From: Harya Setyaka <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Ridwan Kamil dan DjokoWi To: [email protected] Date: Tuesday, June 22, 2010, 7:32 AM Saya tertarik untuk mendalami butir no. 9. Seperti apakah 'cara tertentu' menyiasati anggaran tersebut sehingga semua happy?Salam, -K- 9. Mengapa warga (beberapa kasus adalah penataan pasar) mau pindah ke pasar yang ditata dengan sukarela ? Ya karena mereka mendapat kepastian tentang tempat jualan sesuai dengan keinginan bersama. Rahasia yang penting: pedagang lama di pasar baru tidak mengeluarkan uang sepeserpun. Padahal, di kota-kota lain proses pindah semacam itu selalu dengan mbayar beli kios. lha di Solo kok nggak mbayar? Ternyata Djokowi pandai menyiasati anggaran dan meyakinkan dewan bahwa dengan cara tertentu uang yang ditanamkan untuk pasar baru akan kembali dan pedagang terbebani. Sebenarnya, mereka mbayar juga, hanya dengan cara matematika sedemikian rupa semuanya happy. 2010/6/21 Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> Dear Sahabat, Sudah beberapa hari ini saya ingin menuliskan butir-butir pengalaman mendengarkan pemaparan dua tokoh penting dalam penataan ruang kota. Kebetulan saja, keduanya dapat tampil dalam satu sesi, maka duet mereka menjadi sangat asyik dinikmati. Semoga paparan berikut ini menambah pengetahuan kita dan membuat kita bangun dari tidur nyenyak dan tidak bisa tidur lagi karena kesetrum virus yang disebarkannya. 1. Ridwan Kamil seorang arsitek muda tentang ruang kota yang datang dari Bandung, mengusung gagasan bahwa setiap jaman memiliki budayanya sendiri, maka generasi jaman itu harus menciptakan kebudayaan tanpa meninggalkan akar budayanya. Beberapa karyanya berbasis pada ideologinya itu, yang dikelola dengan prinsip keseimbangan, asalkan semuanya itu tertuju kepada manusia. Pada titik ini tampaknya dia ada dalam aliran humanisme sekaligus berpihak pada kebudayaan dan melestarikan alam. Dalam paparan itu dia mengatakan bahwa "ilmu keseimbangan" untuk menghasilkan karya yang memihak sana-sini adalah ilmu yang sulit. 2. Ridwan Kamil dikenal dengan ide-idenya tentang kota kreatif. Sebuah kota akan hidup jika ada festival, maka generasi saat ini harus mampu membuat kota hidup dengan festival-festival. Jember dulu tidak dikenal, tetapi dengan festival pakaian (?) lantas sekarang menjadi terkenal. Warga kota, khususnya walikota, harus mampu menghidupkan kota dengan acara-acara unik, maka kota akan hidup dan berkembang ekonominya, dst dst. 3. Soal suasana kota yang nyaman, paradigmanya harus diubah yaitu mengedepankan manusia, Ada banyak contoh, bagaimana dulu kota yang penuh dengan lost space diubah dengan pembuatan ruang-ruang terbuka hijau yang penuh dengan aktivitas manusia. Orang dibuat supaya jika rekreasi tidak melulu ke Mall, melainkan ke ruang-ruang terbuka hijau yang penuh dengan aktivitas manusia. Intinya, ruang terbuka hijau bukan hanya soal tanaman, tetapi lebih-lebih ruang itu harus menjadi ruang yang hidup dan aktif oleh kegiatan manusia. Walikota Solo nyeletuk, Solo akan diubah ruang kotanya dengan kebijakan non-motorize, parkir kendaraan di luar kota dan untuk ke dalamkota oran harus jalan kaki, bersepeda atau naik becak dan andong. 4. Djokowi bercerita tentang pengalamannya yang banyak dalam mengubah image dan wajah kota Solo yang bopeng di sana-sini melalui tayangan slides yang sederhana namun sarat dengan muatan informasi. Ia menggunakan prinsip ilmu Jawa: memanusiakan manusia (orang jawa kalau dipangku mati, seperti huruf jawa itu). ia setuju dengan semua gagasan Ridwan Kamil bahwa kota harus manusiawi, berbudaya dan sehat alami. 5. Pada waktu awal menjadi walikota Solo, Djokowi kritis terhadap situasi yang dihadapi dan punya konsep tersendiri. Cerita tentang satpol PP menarik untuk diangkat. Pimpinan Satpol PP mengajukan anggaran sekian juta untuk membeli penthungan, dia diamkan. Tahun berikutnya, mengajukan lagi, sekian puluh juta untuk membeli tameng, dia diamkan juga. Djokowi sadar, situasi seperti itu harus diubah. Tahun berikutnya, sebelum pimpinan satpol PP mengajukan anggaran, dia minta semua unsur satpol PP berkumpul di balai kota untuk menyerahkan penthungan dan tamengnya untuk digudangkan !!! Sebuah langkah berani yang dilandasi konsep jelas, bahwa kota Solo akan membangun tanpa menggusur. 6. Ridwan Kamil setuju dengan langkah Djokowi tersebut, katanya, perubahan ruang kota memang harus di mulai dari pucuk pimpinan pemerintah kota. Jika tidak demikian, maka tidak akan ada gerakan perubahan yang mendasar. Dari slides yang ditayangkan Djokowi memang terlihat benar-benar turun ke lapangan MEMIMPIN bagaimana mendekati warga yang tanahnya akan ditata. Ia terlibat langsung dalam temu warga secara intens, ketika mengadakan gerakan pembangunan yang berpartisipasi masyarakat (berbasis masyarakat). 7. Kunci yang lain Djokowi menggunakan "makan bersama" sebagai sarana perjumpaan antara walikota dengan warga yang akan ditata. Ia berkali-kali menyelenggarakan acara makan bersama seperti itu, dan hanya makan saja, tanpa dialog formal. ketika ada yang bertanya, pak kok nggak ada dialog? Dijawabnya: memang nggak ada, aku memang ingin mengundang kamu makan bersama, titik. Lama-lama pendekatan ini muncul efektifitasnya, warga lambat laun memahami mau kemana walikota dan dibawa kemana Solo dengan penataannya. Hasilnya, warga dengan sukarela berpartisipasi. 8. Ketika proses dialog, walikota dan warga aktif bertemu. Pada saat penataan fisik, warga terlibat dengan sukarela karena memahami arah yang akan dituju. Bahkan ketika warga pindah ke tempat yang baru (khususnya pasar) mereka diarak dengan cara budaya Jawa, diantarkan oleh prajurit kraton. Warga membawa tumpeng, satu tumpeng satu keluarga, diarak bersama walikota ke tempat yang baru. Artinya, warga dilibatkan, budaya tidak ditinggalkan, saling hormat walikota dengan warganya terjadi. Kirab semacam ini juga pernah dilaksanakan di Jogja, pindahnya pasar klithikan dan pasar burung beberapa waktu yang lalu. 9. Mengapa warga (beberapa kasus adalah penataan pasar) mau pindah ke pasar yang ditata dengan sukarela ? Ya karena mereka mendapat kepastian tentang tempat jualan sesuai dengan keinginan bersama. Rahasia yang penting: pedagang lama di pasar baru tidak mengeluarkan uang sepeserpun. Padahal, di kota-kota lain proses pindah semacam itu selalu dengan mbayar beli kios. lha di Solo kok nggak mbayar? Ternyata Djokowi pandai menyiasati anggaran dan meyakinkan dewan bahwa dengan cara tertentu uang yang ditanamkan untuk pasar baru akan kembali dan pedagang terbebani. Sebenarnya, mereka mbayar juga, hanya dengan cara matematika sedemikian rupa semuanya happy. Demikian catatan saya sejauh masih saya ingat. Semoga bisa menjadi inspirasi yang kreatif. Jika ada pertanyaan-pertanya an, mungkin ingatan saya bisa terbuka lagi dan catatan ini bisa bertambah. Salam, Djarot Purbadi

