Milisters ysh,

Ini adlh diskusi mengacu pd posting tgl 20 Juli 2010 oleh pak Risfan :

++++: Dulu waktu masih sekolah dan mulai kerja, saya masih yakin kalau 
sebagai planner menyusun rencana, akan ada satu atau beberapa instansi dan 
kewenangan yang rame-rame melaksanakannya. Sekarang rasanya kita tidak tahu, 
kita merencana untuk siapa, siapa yang akan mengawal dan melaksanakan. 
>>>>: Kalau membaca posting tsb…… benar …saya setuju ….kita sptnya akan  hilang 
>>>>harapan  ….spt menemui jalan buntu ….spt tak tahu lagi bgmn rencana2 yg 
>>>>baik dan benar akan dpt dilaksanakan …….tapi pertanyaannya adlh bolehkah 
>>>>kita terhenti hanya sampai pd pesimisme ciut hati spt itu…….

Sebenarnya kalau utk  kalimat (mengutip pak Risfan) …”kita tidak tahu, kita 
merencana untuk siapa,” …sebenarnya kita sgtlah tahu …. Rencana itu kalau 
makro, kalau levelnya nasional ya utk bangsa, utk negara, utk masyarakat ……atau 
kalau sifatnya lbh mikro ya utk skala  lbh sempit misalnya utk masyarakat 
tertentu di propinsi atau dikota tertentu…….

Brkali yg agak sedikit lbh tepat dari kalimat itu adalah “….kita hampir2  tidak 
tahu lagi bgmn caranya dpt merealisasikan rencana2 yg baik agar menjadi 
kenyataan”…… krn yg sgt diharapkan dari rencana (oleh masyarakat sbg usernya)  
tiada lain ya tentu adlh apanya lagi kalau bukan realisasinya  yg dpt 
menyebabkan meningkatkan kesejahteraan masyarakat scr signifikan (dan boleh 
jadi  masyarakat  tak ambil pusing dgn apa itu filosofi perencanaan)  …….. 
kecuali kalau  yg membuat atau memiliki rencana itu memang hanyalah  seorang 
pemimpi ….atau orang sakit …atau sejenis badak yg berkulit tebal …..yg  tentu 
ia akan mudah masa bodoh utk  maunya sekedar merencana saja …….tdk berminat 
berpikir ttg bgmn dirinya dpt  turut berperan serta dlm merealisasikan 
rencananya itu ……. Jg masa bodoh apakah rencananya mau direalisir orang lain 
atau tidak …….

Ttg “…siapa akan mengawal dan melaksanakan ……” nampaknya ‘siapa’ disiini tdk 
harus menjadi sebuah subyek  tunggal tertentu  …krn bisa saja misalnya pihak A 
akan  bertugas/ berfungsi  mengawal  …….dan smtr  itu pihak B bertugas/ 
berfungsi  melaksanakannya  misalnya……..

++++: Semua bilang seharusnya instansi lain juga mendukung, tapi .....
Rencana dari satu instansi tak ada jaminan akan diikuti oleh instansi lain 
(dirjen lain, bahkan direktiat lain) yang juga punya rencana dan kebijakan. 
>>>>: mengikut apa yg disitir oleh pak Risfan …….ya ini mending2 jg kalau yg 
>>>>namanya rencana yg dibuat oleh sebuah instansi itu originnya sdh cukup 
>>>>memadai ……sdh cukup masuk diakal  utk direalisasikan ……dan tak sulit utk 
>>>>dibayangkan akan baik dan signifikan hasilnya …...shg instansi lain yg tdk 
>>>>mendukung itu lalu keliatan  banget  kalo  kebangetan …….. tapi kemudian 
>>>>juga …..sbh rencana oleh sbh instansi ……yg tentu saja serba sedikit ada 
>>>>bersifat sektoralnya ……tentu disitu pastilah ada  masyarakat intelektualnya 
>>>>yg bidang juang/ kegiatannya  dibidang tsb …….dan kalau sebuah rencana oleh 
>>>>sbh instansi dpt dibilang sbg bagus …..logikanya …sblm ia disuruh dukung 
>>>>oleh instansi lain …… ia pastilah seharusnya didukung penuh dulu  oleh 
>>>>masyarakat  intelektualnya ……

Dari sini saja sebenarnya sdh terdapat semacam seleksi awal  (oleh masyarakat 
intelektualnya sendiri)…..ttg sebuah rencana ….…ialah apakah ia msk akal atau 
tidak …..mudah direalisasikan atau tidak ….hasilnya signifikan atau tidak …...

Jadi saya kira sbg checklist …..sebelum sbh rencana oleh sebuah instansi itu 
diluncurkan dan diharapkan agar instansi2 lain mendukung ……masyarakat 
intelektual dari sektor tsb haruslah hampir secara  bulat mendukungnya  dulu 
……krn tak mungkinlah kalau masyarakat intelektual bidang/ sektor tsb 
pandangannya terbelah dua secara tajam misalnya  …..lalu diharapkan 
sektor/bidang lain mau utk mendukungnya  ……kecualilah kalau hanya ada satu dua 
pendapat saja yg maunya ‘asal beda’ terus  dari yg mayoritas ….ya itu tak 
mengapalah  …tak perlu dirisaukan…….  

++++: Jadi sebetulnya kita diskusi ini mau disampaikan ke siapa?
Ayo tumbuhkan magnet tandingan, siapa yang diharapkan gerak? Ayo batasi urban 
sprawl, Ayo tata transportasi Jabodetabek, kepada siapa ajakan ini? (5 Pemda + 
3 kementerian) ? siapa nurut siapa?
>>>>: Ya kalau kita ngitungnya/ memandangnya  stakeholders pembangunan  itu 
>>>>hanya instansi2 pemerintah (eksekutif) saja  terus ……ya repotlah kita 
>>>>…....sbg contoh  dibidang hukum/ pemerintahan bersih maka (stlh reformasi) 
>>>>ada KPK, ada Komisi Yudisial ….. lalu malah ada lagi kini yg namanya Satgas 
>>>>Mafia Hukum ……itu menunjukkan  bhw instansi pmrth terkait bdg tsb scr tak 
>>>>terang2an diakui oleh Presiden dan banyak kalangan sbg sdh sulit 
>>>>diharapkan  efektivitas kerjanya …….maka itu dibuat terobosan  scr 
>>>>konstitusional ….spt didirikannya KPK, KY …dan ‘terobosan’ scr kontemporer 
>>>>oleh eksekutif ialah Satgas itu tadi……..  

Kalau kita ingat kasus Prita Mulyasari misalnya (jg belum lama kasus janda 
pahlawan vs Pegadaian) ……kita lihat bhw KPK disitu tak mungkin masuk ……KYpun 
baru akan masuk setelah vonis selesai dijatuhkan ……krn kerjanya KY  bukanlah 
mengawasi polisi atau kejaksaan …tetapi adalah vonis pengadilan  ………disini kita 
bisa belajar …bhw kalau kala itu (anggota) masyarakat  (dan malahan samasekali 
bukanlah  kelompok asosiasi advokat) tak bertindak dgn  awalnya melontarkan  
ide koin Prita … lalu ada peran dukungan media masa yg demikian dahsyatnya 
(teve, koran, radio dsb)  ……. .lalu tiba2 dukungan masyarakat tumpah ruah 
sedemikian rupa  ……kita bisa bayangkan bhw dgn segala rekayasa ….hampir pasti 
Prita akan terjeblos dipenjara dan bahkan membayar denda …….tapi faktanya 
keadaan akhir tdklah demikian ……..

Jadi disini kita bisa belajar bhw pesimisme/ skeptisme spt yg dilontarkan  
oleh  pak Risfan itu bukanlah sebuah harga mati ………harapan masih selalu ada … 
bhw kalau ‘instansi terkait’  atau bahkan masyarakat intelektual  bidang/ 
sektor terkait pun  ternyata melempem atau memble sekalipun ……walau hanya 
seorang anggota masyarakat secara sendirian sekalipun …..masih bisa saja ia 
berbuat sesuatu ……..kalau masyarakat intelektual bidang tsb  ternyata tak bisa 
diharapkan (note : pd kasus koin Prita ide awal samasekali bukanlah oleh  ahli 
hukum dan tdk  lalu diikuti oleh masyarakat hukum, tetapi benar2 oleh 
masyarakat luas dr berbagai kalangan) ……..bisa saja jalur facebook atau twitter 
danjalur2 lainnya dipakai misalnya ………dan belum tentu tak ada hasilnya ..….dan 
kalau dibidang hukum spt pd kasus Prita ini masyarakat  (awam) dpt bertindak 
tanpa peran serta masyaralat intelektual bidang hukum …….bukan tak mungkin kasus
 serupa bisa jg terjadi dibidang tata ruang nasional kita misalnya ……..dimana 
kalau dipandang pragmatisme  atau realisasi  tata ruang kita masih amat 
mengecewakan dan yaitu tadi  ...melempem ….dan smntr  itu masyarakat 
intelektualnya malah lbh asyik terlibat pd diskusi2 yg jauh tak menjurus pd 
realisasi tata ruang yg memuaskan  …….walau jalannya tentu panjang, terjal dan 
sulit ….bukan tak mungkin masyarakat (media dsb) jg dpt bertindak …….tdk hrs 
dlm bentuk semacam koin Prita …sebuah bentuk  35 tandatangan saja …lalu aplg 
kalau secara fisik semacam ‘petisi 35’ itu lalu menyampaikan ide2 baiknya  
kesemua pihak terkait …….pastilah kemana saja ia akan menggelinding dan 
diterima …….milis planologi mungkin malah bila perlu ditinggalkan krn gak jelas 
sumbangannya bg realisasi perbaikan hasil2 keruangan negara dan 
bangsa.....komunikasi keluar mungkin  akan lbh banyak dipakai ...spt ke DPR 
…..ke istana …..kemedia
 ……dan berbagai komunitas masyarakat justru non planner.......…….. 

Kita lihat pd contoh kasus kemacetan Jkt misalnya ……. Lagi2 media terlihat lbh 
gencar  mengambil inisiatip diskusi2 ………pendapat2 banyak diminta dari/ 
dilontarkan oleh masyarakat non-planner (yg blm tentu tepat benar) …....spt 
misalnya menguatnya ide ttg pemindahan ibukota …….dan samasekali tak ada yg 
menyinggung ttg bgmn seyogyanya pd saat yg sama mendesentralisasi industri2 
manufaktur …atau bgmn mengembangkan kota penyeimbang …….krn kita tahu mayarakat 
luas non planner itu tak banyak yg belajar ttg teori tata ruang atau 
pembangunan regional atau ttg migrasi  misalnya…….......

++++: Saya tidak tahu, mungkin ini yang oleh para arsitek disebut era Posmo, 
alias gado-gado. Masing-masing hanya punya sumberdaya dan kewenangan kecil, dan 
sulit diketemukan, disinergikan……”.
 >>>>: Mungkin juga bener itu posmo …….tapi mungkin juga itu sekedar sebuah 
pemenuhan kebenaran ramalan dari Joyoboyo itu …ialah ttg bhw akan datang suatu 
masa yg disebut namanya sbg jaman edan ……ialah semuanya serba terbalik2 dan 
serba amat tak keruan……salam,
aby 


      

Kirim email ke