Uda Eka dan rekans ysh,

Akur aja, tapi kan cuma sampe Senin, Selasa udah traweh.
Bagus sekali kalo ada Pak Wawo, Pak Risman, Pak Onnos dan semua.

Salam,
Risfan Munir




--- In [email protected], - ekadj <4ek...@...> wrote:
>
> Pak Risfan ysh, wah saya nggak ikut-ikutan lho, hanya menggemari berita dari
> Post-Aid yang silih berganti. Sepertinya kita perlu kopi darat lagi nih,
> sambil menyambut Ramadhan. Apa benar Pak Wawo mau ke Jakarta dalam waktu
> dekat? Bagaimana Senin sore, atau nanti sekalian buka puasa? Salam.
> 
> -ekadj
> 
> 2010/8/6 risfano <risf...@...>
> 
> >
> >
> > Pak Aby, Pak ATA dan Rekans ysh,
> >
> > Kepada Pak ATA terima kasih mencoba menjelaskan situasinya. Kepada Pak Aby
> > terus terang saya mengalami kesulitan menjelaskan, karena respons Pak Aby ke
> > saya selalu emosional.
> >
> > Tapi maslahnya tidak sesederhana yang Pak Aby sampaikan. "Perencanaan tentu
> > untuk rakyat", bangsa. Tentu saja begitu. Tapi kalau ada pertemuan antar
> > sektor, misalnya soal prasarana, dan mereka membawa rencana masing-masing,
> > yang tentu kita percaya untuk rakyat semua, dan silang pendapat. Semua untuk
> > rakyat, tapi beda, kadang bertabrakan.
> >
> > Belum lagi diluar forum itu, ada rencana yang dibawa daerah, opini
> > masyarakat/asosiasi profesi, tokoh masyarakat, yang mengatakan itu semua
> > hanya pendapat pusat. Belum lagi kalau ada bidang non fisik, yang mengatakan
> > pembangunan selama ini belum menyentuh akar kemiskinan, belum memberdayakan,
> > dst. Dan, masalah antar ilmu, antar lembaga, antar UU/PP, dst.
> >
> > Pak Aby bilang kalau ada konflik solusinya "ya bawa saja ke yang lebih
> > atas". Itu semua tahu Pak, masalahnya diungkap karena justru yang lebih atas
> > itu yang menanda-tangani semua kebijakan yang bertabrakan itu. Dan
> > seterusnya.
> >
> > Dan, teman-teman malah melihat bahwa masalahnya justru dari filsafat ilmu
> > modern, bahwa "ilmu yang mengunggulkan modernisme, pembangunan" ini (bukan
> > cuma PWK) yang sedang mengalami krisis. Berarti semua dalam "perubahan" dan
> > skeptisisme (kata gurunya Eka).
> >
> > Kedua, saya tidak tahu, kayaknya Pak Aby menganggap partisipan Refrensi ini
> > sebagai "pemutus fatwa" kebijakan wilayah nasional atau apa, sehingga Bapak
> > kok protesnya keras betul. Kita semua disini kan cuma "penempel Post-Aid"
> > pada "majalah dinding" Referensi. Kita ungkapkan yang kita pikirkan,
> > barangkali ada teman yang menambahi ide/info, atau meluruskan pandangan
> > kita.
> >
> > Zaman sekarang tidak ada orang yang punya otoritas "fatwa" seperti itu (ini
> > juga persoalannya), Menteri sekalipun kuasanya cuma di kementeriannya, dan
> > cuma berjangka lima tahun, diluar itu harus persetujuan Dewan, Kementerian
> > lain, dst, atau siap menghadapi polemik di masyarakat.
> >
> > Soal: Siapa nurut Siapa? Wah, bisa diartikan gampang juga bisa susah Pak.
> > Ini pertanyaan 'relatif' juga zaman sekarang Pak. Pak Eka barangkali yang
> > bisa jawab, dengan teori skeptis dan dualistisnya. Atau sederhana yang saya
> > sampaikan di atas.
> > Kalau Bapak baca PP38 tentang Pembagian Kewenangan, saya kira menjelaskan
> > bahwa "bagi tugas antar lembaga" untuk menangani satu masalah (misal
> > transportasi, pelestarian DAS, dst) bukan perkara sederhana, karena
> > masing-masing punya urutan prioritas yang beda. Sehingga sama-sama "untuk
> > bangsa", yang satu bilang buka lahan, yang satu lestarikan, ini perkara
> > (siapa nurut siapa?). Yang satu bilang privatisasi (PPP), yang lain bilang
> > itu harus lewat pemberdayaan masyarakat, kedua policy itu ada UU/PP/Keppres
> > yang mendukungnya. Lebih sedih lagi kalau program ditengah jalan, ada
> > pergantian pemerintahan, maka "untuk rakyat" versi rezim baru bisa lain lagi
> > (seperti ilustrasi Pak ATA).
> >
> > Saya suka menyarankan perlunya "Knowledge Management", supaya kalau toh
> > ganti pejabat ganti policy, tapi "knowledge"nya kian membesar, bukan bikin
> > program baru yang hanya recycle yang lama saja, kan lebih baik meneruskan.
> >
> > Mohon maaf Pak Aby, saya kira Pak ATA atau Ekadj lebih luwes menjelaskan.
> >
> > Kalau di lapangan ya kita harus bisa menunjukkan bahwa solusinya jelas,
> > sederhana, bisa dikerjakan. Tetapi kalau di "dapur" seperti ini setidaknya
> > kan harus jujur secara intelektual, kalau ruwet ya katakan ruwet toh.
> >
> > Salam,
> > Risfan Munir
> >
> >
>


Kirim email ke