Pak ATA, masih di Banjarmasin-kah? Sangat berbanding terbalik dengan
Jakarta, kalau di Banjarmasin ada seribu sungai dengan sedikit jembatan,
sementara di Jakarta ada seribu jembatan dengan sedikit sungai.
Saya sudah belasan tahun juga nggak kesana. Dulu ada mahasiswinya Pak Erwin,
juga anggota milis ini, yang pernah meneliti rumah lanting (rumah di atas
sungai). Mudah-mudahan masih ada, wong di Amsterdam saja masih ada.
Pengembangan konsep metropolitan (Banjarmaskuala?) saya kira dimulai sekitar
tahun 1997, sampai sekarang. Mudah-mudahan ada yang mau kasih cerita. Juga
ada putera Barito, seperti Bang AndiS dll. Pokoknya: RCTI Ok!

-ekadj

2010/8/5 abimanyu takdir alamsyah <[email protected]>

>
>
> Kebetulan ini ketiga kalinya saya ke Kalimantan
> Selatan....nostalgia....menelusuri sungai ...
> Dalam hati sedih juga....
> Kalimatan yang lebih dari tigapuluh tahun lalu masih banyak berhutan
> primer, dua puluhan tahun lalu mulai menjadi padang alang-alang....
> Kali ini di kotanya saya sudah kehilangan kesan berada di luar Jawa,
> apalagi Mall dan fasiloitas kota dan jasa lainnya...
> Harga-harga di sini cukup tinggi, jauh dibanding dua kesempatan lalu saya
> ataupun dibandingkan di tempat biasa saya....
> ...."maklum, di sini banyak orang kaya pak...".
> ...menurut pak polisi di perairan barito...sekarang beda pak, sekarang
> banyak perusahaan industri kayu yang pindah karena kayu sudah habis....,
> kegiatan pindah....masyarakat setempat juga pindah kegiatan...."
> ...Apakah saya masih mengalami keresahan yang lebih besar ...bila kegiatan
> yang berskala megapolis akan masuk ke "mantan" surga lingkungan ini....?
>
> Salam sedih....
> ATA
>

Kirim email ke