Pak ATA dan Referensiers ysh. Terima kasih pak atas cerita perjalanannya,
pasti menarik dan menuai banyak kisah apalagi dalam rombongan besar. Studi
ekskursi seperti ini perlu dikembangkan ke wilayah-wilayah yang jauh dan
asing, untuk menambah pengalaman dan pengetahuan praktis.
Dari kisah bapak saya jadi bernostalgia pada era pertengahan 1990an, ketika
kehidupan sudah terasa masam, dan akhirnya membantu konsultan lokal selama
sekitar 3 tahun. Sempat menjelajahi beberapa tempat. Begitu pun di milis ini
ada beberapa rekan yang sempat lama di sana, seperti mungkin Pak Rempu di
Batu Licin, juga ada Dr. Hary yang bertugas di Pemkab Banjar Baru, kalau
AndiS kolega bapak di UI kan berasal dari sana. Mudah-mudahan ada tambahan
informasi yang kita perlukan.
Dulu baru dimulai era penambangan rakyat batubara, yang berbentuk singkapan
memanjang seperti bulan sabit, sehingga mendatangkan berkah ekonomi yang
meluas. Jadi kelebihan Kalimantan selain earthquake-proof juga ketersediaan
energi <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/7306> yang luar
biasa. Selain tentunya: lokasinya persis di tengah-tengah Indonesia.
Saya dulu menaksir suatu lokasi di
utara<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/7287>Banjarmasin,
posisinya di tepi Sungai Barito. Kalau ini dikembangkan,
mungkin sangat mirip dengan model kota-kota Eropah, seperti
Rotterdam<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/1637>dan
Antwerpen. Pelabuhan bisa masuk jauh ke dalam di sepanjang sungai, dan
berpotensi menjadi pelabuhan terpanjang di dunia. Sambil tentunya
memperhatikan kearifan
lokal<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/3357>
.
Sementara demikian pak. Salam.

-ekadj
2010/8/13 abimanyu takdir alamsyah <[email protected]>

>
>
> Pak Uton ysh,
>
> Wah, saya di tembak langsung suruh jawab...he he he
>
> Tapi saya coba menyampaikan realitas yang saya temui hingga saat ini:
> Banjarmasin memang bukan daerah gempa dan juga tidak potensial menerima
> ancaman Tsunami. Kenaikan muka air selama ini lebih karena air sungai Barito
> dan sungai Martapura pasang, akibat kiriman dari hulu sungai. Dalam tiga
> kali kunjungan selama tiga dekade tersebut, tampaknya kenaikan muka air
> belum pernah sampai melimpah jauh ke daratan.
>
> Sebaliknya, Banjarmasin di masa lalu cenderung didominasi rawa-rawa. Peta
> kota Banjarmasin sekitar tiga dekade lalu (waktu mengerjakan renstra
> pengembangan Kabupaten Banjar) masih jelas menunjukkan sifat "kota air"
> tersebut, sehingga sebagian besar bangunan permukiman waktu itu masih
> didominasi rumah panggung yang pada musim basah berada di atas air. Oleh
> sebab itu walau belum musim hujan namun permukaan air di saluran kota tidak
> terlalu berbeda dengan permukaan tanah setempat.
>
> Tanahnya relatif datar dan perlu diuji ketersediaan air bersih ataupun
> saluran air hujan untuk suatu kota besar dan luas di masa mendatang.  Pada
> umumnya dahulu sumber daya kayu untuk konstruksi cukup, namun sukar
> memperoleh batuan, sehingga perlu mendatangkan dari luar. Pada tahap awal
> dahulu pembuatan jalan raya dilakukan dengan mengurug dengan batu kapur di
> rawa-rawa setempat.
>
> Permasalahan alami tersebut yang menyebabkan semula rencana ibukota
> Kalimantan Selatan akan dipindah ke Banjarbaru yang lebih tinggi permukaan
> tanahnya di pedalaman. Namun setelah tiga dekade, tampaknya Banjarmasin,
> Banjar Baru dan Martapura cenderung akan menjadi satu kota besar, dimana
> pembangunan berbasis daratan semakin dominan. Sayangnya kota tersebut kurang
> memiliki tata ruang awal yang cukup jelas/sistematis, serta ruang publik
> yang efektif.
>
> Untuk skala kota sedang, Banjar telah mengembangkan pusat kota (disekitar
> mesjid lama dan kantor walikota) yang cukup unik. Kedua tepi sungai
> Martapura di muka kantor walikota telah mulai ditata untuk rekreasi warga
> kota, promenade menghadap sungai, antar dua jembatan bersih dari bangunan di
> perairan, suatu ciri riverfront city, cukup potensial untuk acara-acara
> perayaan berbasis perairan di pusat kota. Penduduk Banjar sendiri hingga
> kini masih termasuk warga negara yang ramah.
>
> Sayang ruang kota yang tersedia tidak cukup potensial untuk menjadi bagian
> utama suatu kota yang lebih besar, apalagi ibu kota negara. Mungkin
> Bajarmasin masih lebih cocok bila dikembangkan sebagai kota wisata, dengan
> obyek kehidupan perairan, disamping kerajinan intannya dan akses ke
> kehidupan etnik Dayak di pedalaman.
>
> Secara fisik, kalau mau dijadikan ibu kota, mungkin perlu penataan khusus
> di dataran yang masih terbuka dan lebih tinggi, diantara Banjarmasin,
> BanjarBaru, Martapura, atau hingga Pleihari...ke arah pusat rekreasi di
> pantai Timur Kalimantan Selatan ?. Jadi ..secara horisontal (permukaan lahan
> yang tampak) masih ada peluang, walaupun bukan di Banjarmasin sekarang.
> Artinya, dapat dikembangkan sistem kota-kota yang memiliki fungsi utama
> (kawasan baru) sebagai pusat dan sub-sub pusat (ex-kota-kota lama) dengan
> fungsi-fungsi pendukung yang khas (Arsitek kan selalu mungkin menggagas
> suatu lingkungan fisik baru, ya kan Mas Djarot?).
>
> Saya sendiri belum memperoleh informasi mengenai kondisi di dalam tanah,
> paling kurang daya dukung untuk bangunan tinggi. Yang terduga adalah bahwa
> kalau mau dikembangkan, harus ada kemampuan untuk mengolah unsur kota
> (subway, sanitasi, dll) dalam tanah yang cenderung bersahabat dengan air.
>
> Namun kalau mau dikembangkan menjadi kota ideal...harus jauh-jauh hari
> penggunaan lahan-lahan terbuka dan perairan yang ada dicegah jangan sampai
> terburu di jadikan perumahan, toko dll model Jakarta....Sebaliknya perlu
> dirancang plot-plot untuk taman-taman (hijau terbuka, hutan kota, dll) dan
> danau-danau tengeran kota (misalnya Hanoi), yang sekarang tampaknya belum
> menjadi perhatian pengelola kota setempat.
>
> Begitu pak...?
>
> ATA
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> 2010/8/13 Uton Rustan <[email protected]>
>
>
>>
>>   p ATA, nimbrung apakah Banjarmasin bisa jadi pilihan alternatif ibukota
>> NKRI ?? Jangan pake kriteria yg muluk-muluk, cukup liveable saja sg daya
>> dukung lingkungan yg sustainable.
>>
>> --- On *Fri, 13/8/10, abimanyu takdir alamsyah <[email protected]>*wrote:
>>
>>
>> From: abimanyu takdir alamsyah <[email protected]>
>> Subject: Re: [referensi] Banjarmasin
>> To: [email protected]
>> Date: Friday, 13 August, 2010, 8:14 AM
>>
>>
>>
>>
>> Betul pak Eka ysh,
>> peserta ekskursi sekitar 40-an mahasiswa. Setiap tahun kegiatan ekskursi
>> merupakan inisiatif mahasiswa sesuai dengan perkembangan minat mereka. Kami
>> berempat hanya sebagai nara sumber. Kali ini ekskursi menelusuri permukiman
>> di atas perairan sungai (rumah panggung dan terapung), selain merekam
>> sisa-sisa rumah Banjr. Semula mahasiswa ingin mempelajari rumah lanting
>> sebagai realita permukiman masyarakat Banjar.
>>
>> Mengenai pendekatan fenomenologis (seperti yang pernah diungkapkan oleh
>> mas Djarot) sesungguhnya sudah hampir satu dekade diintroduksi diantara dan
>> dijadikan salah satu pendekatan kajian civitas academica di Departemen
>> Arsitektur UI.
>>
>> Sebelum tahun ini, ekskursi ke luar daerah umumnya mempelajari kehidupan
>> masyarakat dan tempat hidupnya berupa permukiman etnik di pedalaman.
>> Sedangkan ekskursi jangka pendek di kota umumnya berkaitan dengan rancangan,
>> proses dan teknologi bangunan moderen/komplek baru perkotaan.
>>
>> Di Departemen Arsitektur (S1 dan S2) baru dua tahun terakhir mata ajaran
>> arsitektur di kawasan pesisir diperkenalkan, setahun lalu permukiman di
>> perairan serta studio bersama (arsitektur, sejarah, perkotaan, teknologi
>> bangunan) mempelajari hingga menggagas pengembangan kawasan kota pesisir
>> yang diduga akan terkena dampak perubahan iklim. Sedangkan di PK
>> Pengembangan Perkotaan (S2) Pasca Sarjana sejak dua tahun lalu dibuka MK
>> Pengembangan perkotaan di kawasan kepulauan. Sedangkan di PS Ilmu Lingkungan
>> (S2 dan S3) topik-topik berkaitan dengan lingkungan pesisir dan kepulauan
>> kecil telah mulai dipilih sebagai judul tesis maupun disertasi peserta
>> program.
>>
>> Sebelum ini beberapa dari mereka juga terlibat dalam kegiatan pengembangan
>> di Aceh. Sebaliknya, beberapa lulusan terselamatkan dari krisis pekerjaan
>> dengan bekerja di Singapura, karena salah satu kerja praktek adalah di
>> negara tersebut.
>>
>> Saya cuma mengharapkan bahwa selain melalui seminar-seminar, diskusi,
>> penelitian dan pengabdian masyarakat di lapangan selama ini, generasi
>> berikut ilmuwan kita dapat lebih mengenal kehidupan lain di luar masalah
>> "kotak" masalah kota Jakarta atau sekadar wilayah JABODETABEK. Dengan
>> demikian ilmunya dapat lebih diamalkan ke lebih banyak warga negara kita.
>>
>> Mungkin baru semacam itu sumbangan kami ke negara ini.
>>
>> Salam,
>> ATA
>>
>> 2010/8/6 - ekadj <[email protected]<http://mc/[email protected]>
>> >
>>
>>
>>
>> Pak ATA ysh, kelihatannya bapak bawa rombongan besar ya ..... jadi curiga
>> nih. Apa sedang memeriksa sarannya Pak Djarot dan Pak 
>> Deden<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/5426>?
>> List terakhir <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/10551>.
>> Cukup banyak tempat yang saya 'sentuh' di masa lampau, mulai Banjarmasin
>> Tengah, Marabahan, Barabai, Kasarangan, hingga Batu Licin. Juga tentunya
>> soto Banjar, ketupat Kandangan, saluang, udang galah, bingka, dll. Selamat
>> menikmati perjalanan pak. Salam.
>>
>> -ekadj
>>
>> 2010/8/6 abimanyu takdir alamsyah 
>> <[email protected]<http://mc/[email protected]>
>> >
>>
>>
>>
>> Pak Ekadj ysh,
>> saya masih di Banjarmasin dan sekitarnya.
>> Sedang memotifasi mahasiswa2 saya (ex-daratan metropolitan) untuk lebih
>> mengenal realita kehidupan bangsanya yang lain, dari daratan, panggung,
>> lanting, desa, rumah panjnag dll, agar tidak menjadi arsitek salon. semoga.
>> Acara ini memang tahunan, ke semua pelosok Indonesia.
>> Rekan-rekan dosen arsitektur bersama mahasiswa multi disiplin juga mulai
>> dilibatkan. Ada yang pulang dari pulau terluar sebelah timur Natuna, Sebatik
>> maupun sebelah Timur kepulauan Maluku Tenggara, selam sebulan. Ternayat
>> mereka mulai menyadari bahwa sama-sama di pulau terluar masalah
>> kemasyarakatan dan lingkuingan pulau-lautnya juga berbeda. Semoga generasi
>> berikutnya ga se"cupet" pandangannya seperti generasi lawas saat ini.
>> Salam cinta Indonesia.
>>
>> ATA
>>
>> 2010/8/6 - ekadj <[email protected]<http://mc/[email protected]>
>> >
>>
>>
>>
>> Pak ATA, masih di Banjarmasin-kah? Sangat berbanding terbalik dengan
>> Jakarta, kalau di Banjarmasin ada seribu sungai dengan sedikit jembatan,
>> sementara di Jakarta ada seribu jembatan dengan sedikit sungai.
>> Saya sudah belasan tahun juga nggak kesana. Dulu ada mahasiswinya Pak
>> Erwin, juga anggota milis ini, yang pernah meneliti rumah lanting (rumah di
>> atas sungai). Mudah-mudahan masih ada, wong di Amsterdam saja masih ada.
>> Pengembangan konsep metropolitan (Banjarmaskuala?) saya kira dimulai
>> sekitar tahun 1997, sampai sekarang. Mudah-mudahan ada yang mau kasih
>> cerita. Juga ada putera Barito, seperti Bang AndiS dll. Pokoknya: RCTI Ok!
>>
>> -ekadj
>>
>> 2010/8/5 abimanyu takdir alamsyah 
>> <[email protected]<http://mc/[email protected]>
>> >
>>
>>
>>
>> Kebetulan ini ketiga kalinya saya ke Kalimantan
>> Selatan....nostalgia....menelusuri sungai ...
>> Dalam hati sedih juga....
>> Kalimatan yang lebih dari tigapuluh tahun lalu masih banyak berhutan
>> primer, dua puluhan tahun lalu mulai menjadi padang alang-alang....
>> Kali ini di kotanya saya sudah kehilangan kesan berada di luar Jawa,
>> apalagi Mall dan fasiloitas kota dan jasa lainnya...
>> Harga-harga di sini cukup tinggi, jauh dibanding dua kesempatan lalu saya
>> ataupun dibandingkan di tempat biasa saya....
>> ...."maklum, di sini banyak orang kaya pak...".
>> ...menurut pak polisi di perairan barito...sekarang beda pak, sekarang
>> banyak perusahaan industri kayu yang pindah karena kayu sudah habis....,
>> kegiatan pindah....masyarakat setempat juga pindah kegiatan...."
>> ...Apakah saya masih mengalami keresahan yang lebih besar ...bila kegiatan
>> yang berskala megapolis akan masuk ke "mantan" surga lingkungan ini....?
>>
>> Salam sedih....
>> ATA
>>
>>
>>
>>
>>
>  
>

Kirim email ke