p ATA, nimbrung apakah Banjarmasin bisa jadi pilihan alternatif ibukota NKRI ?? Jangan pake kriteria yg muluk-muluk, cukup liveable saja sg daya dukung lingkungan yg sustainable.
--- On Fri, 13/8/10, abimanyu takdir alamsyah <[email protected]> wrote: From: abimanyu takdir alamsyah <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Banjarmasin To: [email protected] Date: Friday, 13 August, 2010, 8:14 AM Betul pak Eka ysh, peserta ekskursi sekitar 40-an mahasiswa. Setiap tahun kegiatan ekskursi merupakan inisiatif mahasiswa sesuai dengan perkembangan minat mereka. Kami berempat hanya sebagai nara sumber. Kali ini ekskursi menelusuri permukiman di atas perairan sungai (rumah panggung dan terapung), selain merekam sisa-sisa rumah Banjr. Semula mahasiswa ingin mempelajari rumah lanting sebagai realita permukiman masyarakat Banjar. Mengenai pendekatan fenomenologis (seperti yang pernah diungkapkan oleh mas Djarot) sesungguhnya sudah hampir satu dekade diintroduksi diantara dan dijadikan salah satu pendekatan kajian civitas academica di Departemen Arsitektur UI. Sebelum tahun ini, ekskursi ke luar daerah umumnya mempelajari kehidupan masyarakat dan tempat hidupnya berupa permukiman etnik di pedalaman. Sedangkan ekskursi jangka pendek di kota umumnya berkaitan dengan rancangan, proses dan teknologi bangunan moderen/komplek baru perkotaan. Di Departemen Arsitektur (S1 dan S2) baru dua tahun terakhir mata ajaran arsitektur di kawasan pesisir diperkenalkan, setahun lalu permukiman di perairan serta studio bersama (arsitektur, sejarah, perkotaan, teknologi bangunan) mempelajari hingga menggagas pengembangan kawasan kota pesisir yang diduga akan terkena dampak perubahan iklim. Sedangkan di PK Pengembangan Perkotaan (S2) Pasca Sarjana sejak dua tahun lalu dibuka MK Pengembangan perkotaan di kawasan kepulauan. Sedangkan di PS Ilmu Lingkungan (S2 dan S3) topik-topik berkaitan dengan lingkungan pesisir dan kepulauan kecil telah mulai dipilih sebagai judul tesis maupun disertasi peserta program. Sebelum ini beberapa dari mereka juga terlibat dalam kegiatan pengembangan di Aceh. Sebaliknya, beberapa lulusan terselamatkan dari krisis pekerjaan dengan bekerja di Singapura, karena salah satu kerja praktek adalah di negara tersebut. Saya cuma mengharapkan bahwa selain melalui seminar-seminar, diskusi, penelitian dan pengabdian masyarakat di lapangan selama ini, generasi berikut ilmuwan kita dapat lebih mengenal kehidupan lain di luar masalah "kotak" masalah kota Jakarta atau sekadar wilayah JABODETABEK. Dengan demikian ilmunya dapat lebih diamalkan ke lebih banyak warga negara kita. Mungkin baru semacam itu sumbangan kami ke negara ini. Salam,ATA 2010/8/6 - ekadj <[email protected]> Pak ATA ysh, kelihatannya bapak bawa rombongan besar ya ..... jadi curiga nih. Apa sedang memeriksa sarannya Pak Djarot dan Pak Deden? List terakhir. Cukup banyak tempat yang saya 'sentuh' di masa lampau, mulai Banjarmasin Tengah, Marabahan, Barabai, Kasarangan, hingga Batu Licin. Juga tentunya soto Banjar, ketupat Kandangan, saluang, udang galah, bingka, dll. Selamat menikmati perjalanan pak. Salam. -ekadj 2010/8/6 abimanyu takdir alamsyah <[email protected]> Pak Ekadj ysh, saya masih di Banjarmasin dan sekitarnya. Sedang memotifasi mahasiswa2 saya (ex-daratan metropolitan) untuk lebih mengenal realita kehidupan bangsanya yang lain, dari daratan, panggung, lanting, desa, rumah panjnag dll, agar tidak menjadi arsitek salon. semoga. Acara ini memang tahunan, ke semua pelosok Indonesia. Rekan-rekan dosen arsitektur bersama mahasiswa multi disiplin juga mulai dilibatkan. Ada yang pulang dari pulau terluar sebelah timur Natuna, Sebatik maupun sebelah Timur kepulauan Maluku Tenggara, selam sebulan. Ternayat mereka mulai menyadari bahwa sama-sama di pulau terluar masalah kemasyarakatan dan lingkuingan pulau-lautnya juga berbeda. Semoga generasi berikutnya ga se"cupet" pandangannya seperti generasi lawas saat ini. Salam cinta Indonesia. ATA 2010/8/6 - ekadj <[email protected]> Pak ATA, masih di Banjarmasin-kah? Sangat berbanding terbalik dengan Jakarta, kalau di Banjarmasin ada seribu sungai dengan sedikit jembatan, sementara di Jakarta ada seribu jembatan dengan sedikit sungai. Saya sudah belasan tahun juga nggak kesana. Dulu ada mahasiswinya Pak Erwin, juga anggota milis ini, yang pernah meneliti rumah lanting (rumah di atas sungai). Mudah-mudahan masih ada, wong di Amsterdam saja masih ada. Pengembangan konsep metropolitan (Banjarmaskuala?) saya kira dimulai sekitar tahun 1997, sampai sekarang. Mudah-mudahan ada yang mau kasih cerita. Juga ada putera Barito, seperti Bang AndiS dll. Pokoknya: RCTI Ok! -ekadj 2010/8/5 abimanyu takdir alamsyah <[email protected]> Kebetulan ini ketiga kalinya saya ke Kalimantan Selatan....nostalgia....menelusuri sungai ... Dalam hati sedih juga.... Kalimatan yang lebih dari tigapuluh tahun lalu masih banyak berhutan primer, dua puluhan tahun lalu mulai menjadi padang alang-alang.... Kali ini di kotanya saya sudah kehilangan kesan berada di luar Jawa, apalagi Mall dan fasiloitas kota dan jasa lainnya... Harga-harga di sini cukup tinggi, jauh dibanding dua kesempatan lalu saya ataupun dibandingkan di tempat biasa saya.... ...."maklum, di sini banyak orang kaya pak...". ...menurut pak polisi di perairan barito...sekarang beda pak, sekarang banyak perusahaan industri kayu yang pindah karena kayu sudah habis...., kegiatan pindah....masyarakat setempat juga pindah kegiatan...." ...Apakah saya masih mengalami keresahan yang lebih besar ...bila kegiatan yang berskala megapolis akan masuk ke "mantan" surga lingkungan ini....? Salam sedih.... ATA

