Amin ya Rob! Tapi para pakarnya masih belum selesai-selesai juga sekolahnya ... hehehe.
2010/8/13 <[email protected]> > > > Pak Haji EkaDj ysh, > > > Mimpi Pak Eka agar suatu saat Banjarmasin (dan saya rasa juga kota-kota air > di Kalimantan, Sumatera dan Papua) bisa menjadi seperti kota-kota air di > Eropa > > > > > --- En date de : *Ven 13.8.10, - ekadj <[email protected]>* a écrit : > > > De: - ekadj <[email protected]> > Objet: Re: [referensi] Banjarmasin > À: [email protected] > Date: Vendredi 13 août 2010, 22h13 > > > > Pak ATA dan Referensiers ysh. Terima kasih pak atas cerita perjalanannya, > pasti menarik dan menuai banyak kisah apalagi dalam rombongan besar. Studi > ekskursi seperti ini perlu dikembangkan ke wilayah-wilayah yang jauh dan > asing, untuk menambah pengalaman dan pengetahuan praktis. > Dari kisah bapak saya jadi bernostalgia pada era pertengahan 1990an, ketika > kehidupan sudah terasa masam, dan akhirnya membantu konsultan lokal selama > sekitar 3 tahun. Sempat menjelajahi beberapa tempat. Begitu pun di milis ini > ada beberapa rekan yang sempat lama di sana, seperti mungkin Pak Rempu di > Batu Licin, juga ada Dr. Hary yang bertugas di Pemkab Banjar Baru, kalau > AndiS kolega bapak di UI kan berasal dari sana. Mudah-mudahan ada tambahan > informasi yang kita perlukan. > Dulu baru dimulai era penambangan rakyat batubara, yang berbentuk singkapan > memanjang seperti bulan sabit, sehingga mendatangkan berkah ekonomi yang > meluas. Jadi kelebihan Kalimantan selain earthquake-proof juga ketersediaan > energi <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/7306> yang luar > biasa. Selain tentunya: lokasinya persis di tengah-tengah Indonesia. > Saya dulu menaksir suatu lokasi di > utara<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/7287>Banjarmasin, > posisinya di tepi Sungai Barito. Kalau ini dikembangkan, > mungkin sangat mirip dengan model kota-kota Eropah, seperti > Rotterdam<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/1637>dan Antwerpen. > Pelabuhan bisa masuk jauh ke dalam di sepanjang sungai, dan > berpotensi menjadi pelabuhan terpanjang di dunia. Sambil tentunya > memperhatikan kearifan > lokal<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/3357> > . > Sementara demikian pak. Salam. > > -ekadj > 2010/8/13 abimanyu takdir alamsyah > <[email protected]<http://fr.mc768.mail.yahoo.com/mc/[email protected]> > > > > > Pak Uton ysh, > > Wah, saya di tembak langsung suruh jawab...he he he > > Tapi saya coba menyampaikan realitas yang saya temui hingga saat ini: > Banjarmasin memang bukan daerah gempa dan juga tidak potensial menerima > ancaman Tsunami. Kenaikan muka air selama ini lebih karena air sungai Barito > dan sungai Martapura pasang, akibat kiriman dari hulu sungai. Dalam tiga > kali kunjungan selama tiga dekade tersebut, tampaknya kenaikan muka air > belum pernah sampai melimpah jauh ke daratan. > > Sebaliknya, Banjarmasin di masa lalu cenderung didominasi rawa-rawa. Peta > kota Banjarmasin sekitar tiga dekade lalu (waktu mengerjakan renstra > pengembangan Kabupaten Banjar) masih jelas menunjukkan sifat "kota air" > tersebut, sehingga sebagian besar bangunan permukiman waktu itu masih > didominasi rumah panggung yang pada musim basah berada di atas air. Oleh > sebab itu walau belum musim hujan namun permukaan air di saluran kota tidak > terlalu berbeda dengan permukaan tanah setempat. > > Tanahnya relatif datar dan perlu diuji ketersediaan air bersih ataupun > saluran air hujan untuk suatu kota besar dan luas di masa mendatang. Pada > umumnya dahulu sumber daya kayu untuk konstruksi cukup, namun sukar > memperoleh batuan, sehingga perlu mendatangkan dari luar. Pada tahap awal > dahulu pembuatan jalan raya dilakukan dengan mengurug dengan batu kapur di > rawa-rawa setempat. > > Permasalahan alami tersebut yang menyebabkan semula rencana ibukota > Kalimantan Selatan akan dipindah ke Banjarbaru yang lebih tinggi permukaan > tanahnya di pedalaman. Namun setelah tiga dekade, tampaknya Banjarmasin, > Banjar Baru dan Martapura cenderung akan menjadi satu kota besar, dimana > pembangunan berbasis daratan semakin dominan. Sayangnya kota tersebut kurang > memiliki tata ruang awal yang cukup jelas/sistematis, serta ruang publik > yang efektif. > > Untuk skala kota sedang, Banjar telah mengembangkan pusat kota (disekitar > mesjid lama dan kantor walikota) yang cukup unik. Kedua tepi sungai > Martapura di muka kantor walikota telah mulai ditata untuk rekreasi warga > kota, promenade menghadap sungai, antar dua jembatan bersih dari bangunan di > perairan, suatu ciri riverfront city, cukup potensial untuk acara-acara > perayaan berbasis perairan di pusat kota. Penduduk Banjar sendiri hingga > kini masih termasuk warga negara yang ramah. > > Sayang ruang kota yang tersedia tidak cukup potensial untuk menjadi bagian > utama suatu kota yang lebih besar, apalagi ibu kota negara. Mungkin > Bajarmasin masih lebih cocok bila dikembangkan sebagai kota wisata, dengan > obyek kehidupan perairan, disamping kerajinan intannya dan akses ke > kehidupan etnik Dayak di pedalaman. > > Secara fisik, kalau mau dijadikan ibu kota, mungkin perlu penataan khusus > di dataran yang masih terbuka dan lebih tinggi, diantara Banjarmasin, > BanjarBaru, Martapura, atau hingga Pleihari...ke arah pusat rekreasi di > pantai Timur Kalimantan Selatan ?. Jadi ..secara horisontal (permukaan lahan > yang tampak) masih ada peluang, walaupun bukan di Banjarmasin sekarang. > Artinya, dapat dikembangkan sistem kota-kota yang memiliki fungsi utama > (kawasan baru) sebagai pusat dan sub-sub pusat (ex-kota-kota lama) dengan > fungsi-fungsi pendukung yang khas (Arsitek kan selalu mungkin menggagas > suatu lingkungan fisik baru, ya kan Mas Djarot?). > > Saya sendiri belum memperoleh informasi mengenai kondisi di dalam tanah, > paling kurang daya dukung untuk bangunan tinggi. Yang terduga adalah bahwa > kalau mau dikembangkan, harus ada kemampuan untuk mengolah unsur kota > (subway, sanitasi, dll) dalam tanah yang cenderung bersahabat dengan air. > > Namun kalau mau dikembangkan menjadi kota ideal...harus jauh-jauh hari > penggunaan lahan-lahan terbuka dan perairan yang ada dicegah jangan sampai > terburu di jadikan perumahan, toko dll model Jakarta....Sebaliknya perlu > dirancang plot-plot untuk taman-taman (hijau terbuka, hutan kota, dll) dan > danau-danau tengeran kota (misalnya Hanoi), yang sekarang tampaknya belum > menjadi perhatian pengelola kota setempat. > > Begitu pak...? > > ATA > > > > > > > > > > 2010/8/13 Uton Rustan > <[email protected]<http://fr.mc768.mail.yahoo.com/mc/[email protected]> > > > > > p ATA, nimbrung apakah Banjarmasin bisa jadi pilihan alternatif ibukota > NKRI ?? Jangan pake kriteria yg muluk-muluk, cukup liveable saja sg daya > dukung lingkungan yg sustainable. > > --- On *Fri, 13/8/10, abimanyu takdir alamsyah > <[email protected]<http://fr.mc768.mail.yahoo.com/mc/[email protected]> > >* wrote: > > > From: abimanyu takdir alamsyah > <[email protected]<http://fr.mc768.mail.yahoo.com/mc/[email protected]> > > > Subject: Re: [referensi] Banjarmasin > To: > [email protected]<http://fr.mc768.mail.yahoo.com/mc/[email protected]> > Date: Friday, 13 August, 2010, 8:14 AM > > > > Betul pak Eka ysh, > peserta ekskursi sekitar 40-an mahasiswa. Setiap tahun kegiatan ekskursi > merupakan inisiatif mahasiswa sesuai dengan perkembangan minat mereka. Kami > berempat hanya sebagai nara sumber. Kali ini ekskursi menelusuri permukiman > di atas perairan sungai (rumah panggung dan terapung), selain merekam > sisa-sisa rumah Banjr. Semula mahasiswa ingin mempelajari rumah lanting > sebagai realita permukiman masyarakat Banjar. > > Mengenai pendekatan fenomenologis (seperti yang pernah diungkapkan oleh mas > Djarot) sesungguhnya sudah hampir satu dekade diintroduksi diantara dan > dijadikan salah satu pendekatan kajian civitas academica di Departemen > Arsitektur UI. > > Sebelum tahun ini, ekskursi ke luar daerah umumnya mempelajari kehidupan > masyarakat dan tempat hidupnya berupa permukiman etnik di pedalaman. > Sedangkan ekskursi jangka pendek di kota umumnya berkaitan dengan rancangan, > proses dan teknologi bangunan moderen/komplek baru perkotaan. > > Di Departemen Arsitektur (S1 dan S2) baru dua tahun terakhir mata ajaran > arsitektur di kawasan pesisir diperkenalkan, setahun lalu permukiman di > perairan serta studio bersama (arsitektur, sejarah, perkotaan, teknologi > bangunan) mempelajari hingga menggagas pengembangan kawasan kota pesisir > yang diduga akan terkena dampak perubahan iklim. Sedangkan di PK > Pengembangan Perkotaan (S2) Pasca Sarjana sejak dua tahun lalu dibuka MK > Pengembangan perkotaan di kawasan kepulauan. Sedangkan di PS Ilmu Lingkungan > (S2 dan S3) topik-topik berkaitan dengan lingkungan pesisir dan kepulauan > kecil telah mulai dipilih sebagai judul tesis maupun disertasi peserta > program. > > Sebelum ini beberapa dari mereka juga terlibat dalam kegiatan pengembangan > di Aceh. Sebaliknya, beberapa lulusan terselamatkan dari krisis pekerjaan > dengan bekerja di Singapura, karena salah satu kerja praktek adalah di > negara tersebut. > > Saya cuma mengharapkan bahwa selain melalui seminar-seminar, diskusi, > penelitian dan pengabdian masyarakat di lapangan selama ini, generasi > berikut ilmuwan kita dapat lebih mengenal kehidupan lain di luar masalah > "kotak" masalah kota Jakarta atau sekadar wilayah JABODETABEK. Dengan > demikian ilmunya dapat lebih diamalkan ke lebih banyak warga negara kita. > > Mungkin baru semacam itu sumbangan kami ke negara ini. > > Salam, > ATA > > 2010/8/6 - ekadj <[email protected] <http://mc/[email protected]> > > > > > Pak ATA ysh, kelihatannya bapak bawa rombongan besar ya ..... jadi > curiga nih. Apa sedang memeriksa sarannya Pak Djarot dan Pak > Deden<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/5426>? > List terakhir <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/10551>. > Cukup banyak tempat yang saya 'sentuh' di masa lampau, mulai Banjarmasin > Tengah, Marabahan, Barabai, Kasarangan, hingga Batu Licin. Juga tentunya > soto Banjar, ketupat Kandangan, saluang, udang galah, bingka, dll. Selamat > menikmati perjalanan pak. Salam. > > -ekadj > > 2010/8/6 abimanyu takdir alamsyah > <[email protected]<http://mc/[email protected]> > > > > > Pak Ekadj ysh, > saya masih di Banjarmasin dan sekitarnya. > Sedang memotifasi mahasiswa2 saya (ex-daratan metropolitan) untuk lebih > mengenal realita kehidupan bangsanya yang lain, dari daratan, panggung, > lanting, desa, rumah panjnag dll, agar tidak menjadi arsitek salon. semoga. > Acara ini memang tahunan, ke semua pelosok Indonesia. > Rekan-rekan dosen arsitektur bersama mahasiswa multi disiplin juga mulai > dilibatkan. Ada yang pulang dari pulau terluar sebelah timur Natuna, Sebatik > maupun sebelah Timur kepulauan Maluku Tenggara, selam sebulan. Ternayat > mereka mulai menyadari bahwa sama-sama di pulau terluar masalah > kemasyarakatan dan lingkuingan pulau-lautnya juga berbeda. Semoga generasi > berikutnya ga se"cupet" pandangannya seperti generasi lawas saat ini. > Salam cinta Indonesia. > > ATA > > 2010/8/6 - ekadj <[email protected] <http://mc/[email protected]> > > > > > Pak ATA, masih di Banjarmasin-kah? Sangat berbanding terbalik dengan > Jakarta, kalau di Banjarmasin ada seribu sungai dengan sedikit jembatan, > sementara di Jakarta ada seribu jembatan dengan sedikit sungai. > Saya sudah belasan tahun juga nggak kesana. Dulu ada mahasiswinya Pak > Erwin, juga anggota milis ini, yang pernah meneliti rumah lanting (rumah di > atas sungai). Mudah-mudahan masih ada, wong di Amsterdam saja masih ada. > Pengembangan konsep metropolitan (Banjarmaskuala?) saya kira dimulai > sekitar tahun 1997, sampai sekarang. Mudah-mudahan ada yang mau kasih > cerita. Juga ada putera Barito, seperti Bang AndiS dll. Pokoknya: RCTI Ok! > > -ekadj > > 2010/8/5 abimanyu takdir alamsyah > <[email protected]<http://mc/[email protected]> > > > > > Kebetulan ini ketiga kalinya saya ke Kalimantan > Selatan....nostalgia....menelusuri sungai ... > Dalam hati sedih juga.... > Kalimatan yang lebih dari tigapuluh tahun lalu masih banyak berhutan > primer, dua puluhan tahun lalu mulai menjadi padang alang-alang.... > Kali ini di kotanya saya sudah kehilangan kesan berada di luar Jawa, > apalagi Mall dan fasiloitas kota dan jasa lainnya... > Harga-harga di sini cukup tinggi, jauh dibanding dua kesempatan lalu saya > ataupun dibandingkan di tempat biasa saya.... > ...."maklum, di sini banyak orang kaya pak...". > ...menurut pak polisi di perairan barito...sekarang beda pak, sekarang > banyak perusahaan industri kayu yang pindah karena kayu sudah habis...., > kegiatan pindah....masyarakat setempat juga pindah kegiatan...." > ...Apakah saya masih mengalami keresahan yang lebih besar ...bila kegiatan > yang berskala megapolis akan masuk ke "mantan" surga lingkungan ini....? > > Salam sedih.... > ATA > > > > > > > > >

