Jawabnya sederhana. Cina dan India punya lebih banyak rakyat miskin dibandingkan Indonesia. Kebijakan moneter penyesuaian suku bunga justru dalam literatur ekonomi klasik merupakan salah satu tool penting utk meredam inflasi dan menurunkan tensi harga barang yang menjadi beban rakyat. Terlambat beraksi dan mengantisipasi,bukan lagi kurs rupiah yg turun,harga diri juga bisa melorot,termasuk tampuk jabatan :d. Tidak perlu cadangan devisa besar untuk bombardir,cukup sentimen dan persepsi pasar yg mengglobal. Jangan lupa loh ya, di banyak negara sentimen itu diukur dan jadi indikator penting. Silakan tanya BPS atau Danareksa yg rajin ukur sentimen.
Apakah hanya Indonesia yang punya rakyat miskin dan semua negara yang menaikkan suku bunga hanya mementingkan investor dan abai kepentingan nasional/rakyatnya? Coba sebut satu negara saja dari top emerging markets yg belum sesuaikan suku bunga? :d On 1/14/11, Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]> wrote: > Coba anda tanyakan ke Elvyn Masassya, kalau BI tidak mau naikan suku > bunganya, dia mau pindahkan investasinya kemana? > > Namanya pemodal, maunya dapat keuntungan lebih banyak. Itu wajar saja. > Namanya juga usaha. Tapi kalau dikasih pilihan, berani ngga dia pindahin > investasinya dari SUN dan SBI katakan ke Malaysia, misalkan. > > Sekedar informasi saja tentan Malaysia: > Tingkat inflasi 2%, tingkat suku bunga 2,75%. > > Nah, anda sebagai FM, mau invest di instrumen investasi dengan bunga 2,75% > dalam ringgit atau 6,5 dalam rupiah? Mana yg lebih menguntungkan dalam > setahun kalau asumsikan nilai tukar rupiah dengan ringgit malaysia cenderung > stabil. > > Apakah FM sekelas Elvyn Masassya akan pindahkan investasinya ke instrumen > investasi di Malaysia hanya karena suku bunganya lebih tinggi dari tingkat > inflasi disana? 99% saya yakin beliau tidak akan berani mengambil tindakan > itu. > > Saya pun sebagai pemodal, menginginkan suku bunga naik, kalau perlu sampai > 10%, lumayan khan dapat cuan lebih. Tapi buat apa hal itu saya sarankan ke > BI kalau pada akhirnya hanya malah merusak ekonomi, membuat inflasi makin > tinggi, dan terlebih lagi makin menyusahkan rakyat kecil. Poin terakhir ini > yg menjadi concern utama saya melebihi dari keuntungan yg mungkin saya > terima sebagai pemodal dari kenaikan suku bunga. Bagi saya, cuan bisa dicari > dengan cara lain, tapi rakyat kecil yg makin menderita karena kebijakan suku > bunga tinggi, itu yg membuat saya bisa gelisah dan susah tidur. > > BI Rate harusnya berada di 3%, demi kemajuan sektor riil dan pengentasan > kemiskinan serta mengurangi pengangguran. > > jabat erat, > Irwan Ariston Napitupulu > > 2011/1/14 positif01 <[email protected]> > >> >> >> Wah, referensinya jelas loh, sumbernya dari media resmi. Misalnya tadi >> dikutip dari Elvyn Masassya, itu Direktur Investasi Jamsostek, tidak ada >> hubungannya dengan asing atau aseng sama sekali. Itu barus satu contoh: >> >> “Once the central bank does the adjustment in terms of interest rates, >> the >> coupon rate for bonds will increase,” said Masassya, who prefers to buy >> bonds with a maturity of five years and longer. Policy makers “must do the >> adjustment to control the inflation rate and also convince investors that >> the central bank is doing the right thing in terms of monetary policy.” ( >> http://www.bloomberg.com/news/2011-01-14/indonesia-s-state-pension-fund-to-purchase-more-bonds-as-stock-gains-slow.html >> ) >> >> Atau pandangan dari luar tapi tidak perlu jauh-jauh: >> >> Indonesian yields may rise further relative to Malaysia’s because of the >> country’s lower credit rating, according to Kuala Lumpur-based >> AmInvestment >> Management Sdn. Malaysia is rated A3 by Moody’s, five levels higher than >> Indonesia. >> >> “Even if Indonesia is upgraded to the lowest level of investment grade, >> the >> bonds are still expensive,” Mohd Farid Kamarudin, who helps manage 1.3 >> billion ringgit ($425 million) of Islamic assets at AmInvestment, a unit >> of >> last year’s fourth- biggest sukuk underwriter, said in an interview >> yesterday. “The Malaysian sukuk are cheap so people should start to buy.” >> ( >> http://www.bloomberg.com/news/2011-01-13/indonesia-sukuk-drop-as-inflation-curbs-demand-islamic-finance.html >> ) >> >> Tidak perlu diberitakan atau diteruskan lagi, beritanya kan sudah ke >> mana-mana, kecuali tabloid Artis lokal yang mengabarkan :d. >> >> Bottom-line, apa yang salah dengan penyesuaian 'interest rate'. Semua >> melakukan, semua dalam tekanan pasar. Mengapa ada yang perlu berbeda atau >> dibedakan, dan penyebabnya sama: inflasi. So? >> >> '+' >> >> 2011/1/14 Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]> >> >>> >>> >>> FM asing tidak bermain dengan persepsi, mereka berhitung dengan >>> kalkulator. Saya sudah tunjukkan hitung2an kalkulatornya yg menunjukkan >>> mereka tetap cuan lumayan di Indonesia selama nilai tukar mata uang >>> rupiah >>> kita bisa dijaga stabil oleh BI. >>> >>> Spekulanlah yg coba mengobok2 dengan menciptakan persepsi2 yg seperti >>> anda >>> tuliskan atau forwardkan. Harapannya tentu terjadi kepanikan ataupun >>> tercipta persepsi seperti itu sehingga diharapkan ramai2 untuk bertindak >>> tidak rasional lagi. >>> >>> Bisa anda jelaskan mengapa Singapore suku bunganya 0,02% sementara >>> tingkat >>> inflasinya mencapai 3,8%? Mengapa Singapore tidak naikan suku bunganya >>> mencapai 4% supaya lebih tinggi dari inflasinya? Mengapa investasi orang >>> tidak kabur dari Singapore? >>> >>> Berikut data2 negara yg inflasinya lebih tinggi dari suku bunganya. >>> >>> Inflasi di AS 1,1%, suku bunganya 0,25%. >>> Inflasi di Uni Eropa, 1,9%, suku bunganya hanya 1%. >>> Inflasi di Inggris/UK, 3,3%, suku bunganya hanya 0,5% >>> Inflasi di Korsel 3,5%, suku bunganya hanya 2,5% >>> Inflasi di India 9,7%, suku bunganya hanya 5,25% >>> >>> Mengapa investasi tidak kabur dari ngara2 yg saya sebutkan di atas? Bisa >>> anda jelaskan kalau memang persepsi yg anda sebutkan itu benar adanya? >>> >>> Apakah data di atas sudah cukup untuk anda bahwa soal persepsi itu yg >>> anda >>> sebutkan itu bukanlah dasar pengambilan keputusan FM baik asing maupun >>> lokal, karena mereka lebih memakai hitungan kalkulator ketimbang >>> persepsi. >>> >>> Spekulanlah yg bermain dengan persepsi, mereka malah mencoba menciptakan >>> persepsi dengan segala cara agar tercipta volatilitas, dimana mereka akan >>> mengeruk keuntungan dari volatilitas yang terjadi. >>> >>> >>> jabat erat, >>> Irwan Ariston Napitupulu >>> >>> >>> >>> >>> 2011/1/14 positif01 <[email protected]> >>> >>>> >>>> >>>> Persoalannya satu yang 'missed' dalam argumentasi Irwan, dan yang satu >>>> itu yang sangat penting: persepsi/sentimen pasar. Persepsi/sentimen >>>> pasar >>>> berimplikasi terhadap besaran premi resiko ('risk premium') suatu >>>> negara. >>>> Kita bisa katan, return/yield riil dengan berbagai aspek perhitungan >>>> hasilnya toh masih lebih baik daripada return serupa di 'developed >>>> market'. >>>> Masalahnya, pasar mendiskon segala sesuatu sebesar premi resiko yang >>>> mereka >>>> pandang lebih sesuai dengan profil negara bersangkutan. >>>> >>>> Dan, dalam konteks pasar saham/ekuitas Indonesia, persepsi/sentimen >>>> asing >>>> lebih berdampak ketimbang persepsi/sentimen lokal karena praktis asing >>>> menguasai sekitar 70% aset portofolio. Sekarang apa persepsi/sentimen >>>> mereka >>>> terhadap kondisi pasar secara keseluruhan. >>>> >>>> Satu hal lagi untuk 'refreshing' saja sekaligus menguji kesahihan >>>> 'attractiveness' return investasi portofolio di Indonesia dibandingkan >>>> less >>>> return di developed market dari perhitungan angka belaka, coba cermati >>>> kondisi/kejadian pendahuluan di awal (bukan saat/puncak) krisis >>>> finansial >>>> Asia 2007/2008, kalau perhitungannya hanya besaran angka 'return', BI >>>> rate >>>> saat itu perlahan tapi pasti sudah naik dari 8 ke 9 ke 10 sampai >>>> puncaknya >>>> 23%. Ekonomi maju berdaulat mana yang mampu menyaingi 'return' sebesar >>>> itu >>>> tidak hanya saat itu, tapi juga saat ini? Tidak ada toh. Kenyataannya, >>>> apakah dana asing tambah masuk ('inflow') atau malah tambah keluar >>>> ('outlfow')? Tentu jawabanya tambah keluar, kalau tambah masuk atau at >>>> least >>>> bertahan, ya 'ga jadi "krismon" dong waktu itu :d. >>>> >>>> So, apa 'morale of the story'-nya? Bahwa ada elemen lain yaitu >>>> persepsi/sentimen pasar selain hitungan angka di atas kertas yang perlu >>>> dan >>>> harus dikelola dengan baik oleh otoritas berwenang di negara manapun. >>>> Jangan >>>> sampai terlambat menyikapi sentimen pasar karena akan susah membaliknya >>>> ('reverse') jika sentimen sudah begitu meluas. Btw, 1997/1998 apa benar >>>> fundamental ekonomi saat itu demikian buruknya? >>>> >>>> Jika ingin lain sendiri, apalagi kemudian itu diamini dengan pasar yang >>>> bergerak sejalan. Jika tidak, ya tidak perlu dipaksakan. Yang paling >>>> bisa >>>> memaksakan kehendaknya saat ini dan bisa mendikte pasar, adalah Cina, >>>> dan >>>> apa yang sudah mereka lakukan? >>>> >>>> “Once the central bank does the adjustment in terms of interest rates, >>>> the coupon rate for bonds will increase,” said Masassya, who prefers to >>>> buy >>>> bonds with a maturity of five years and longer. Policy makers “must do >>>> the >>>> adjustment to control the inflation rate and also convince investors >>>> that >>>> the central bank is doing the right thing in terms of monetary policy.” >>>> >>>> “Don’t forget higher inflation means higher growth,” he said. “I still >>>> believe economic growth this year could be more than 6.5 percent, driven >>>> by >>>> consumption and investments.” (Bloomberg) >>>> >>>> '+' >>>> >>>> 2011/1/14 Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]> >>>> >>>> >>>>> >>>>> BI Rate 6,5% itu sudah ketinggian. Analis asing menginginkan suku bunga >>>>> di Indonesia dinaikan agar mereka bisa dapat bunga lebih besar. Ngga >>>>> perlu >>>>> dinaikan. >>>>> >>>>> Amerika saat ini hanya 0-0,25%, Jepang 0,1%, Swiss 0,25%, Inggris 0,5%, >>>>> Uni Eropa 1%, Canada 1%, China 2,75%, Australia 4,5%. >>>>> >>>>> Biarkan saja duit lari ke LN, memang mau lari kemana yg bisa dapat >>>>> bunga >>>>> 6,5%? Mau ke Zimbabwe? >>>>> >>>>> Apa pemilik dana disini mau pindahin ke Singapore yg kasih bunga 0,02% >>>>> sementara tingkat inflasi disana 3,8%? >>>>> >>>>> Sebenarnya investasi di obligasi/deposito/tabungan itu ngga ada >>>>> kaitannya dengan tingkat inflasi dalam artian tidak otomatis berarti >>>>> bila >>>>> suku bunga di suatu negara lebih rendah dari tingkat inflasi di negara >>>>> tersebut, maka investasi itu buruk. Investasi itu dilihat dari berapa >>>>> bunga >>>>> bersih yg didapat, lalu diadjust dengan perbedaan nilai tukarnya dengan >>>>> mata >>>>> uang yg menjadi based kita. >>>>> >>>>> Sekedar contoh kita punya uang 100 ribu, katakan saja dulu bunga di >>>>> Indonesia 6,5% (pajak saya abaikan saja dulu supaya ngga repot, karena >>>>> bunga >>>>> di negara lain juga umumnya kena pajak). Jadi, setahun dapat 6500. >>>>> Katakan >>>>> saja inflasi 7%. Terlihat seolah2 merugi investasinya secara riil. >>>>> >>>>> Alternatif investasi di negara lain, katakan negara A. Suku bunganya >>>>> 3%, >>>>> inflasi 1%, perbedaan nilai tukar mata uangnya dengan rupiah di awal >>>>> tahun 1 >>>>> dolar A = Rp1000, dan di akhir tahun 1 dolar A= Rp990. >>>>> Maka, investasi awal Rp100 ribu harus ditukar menjadi mata uang lokal, >>>>> mendapat 100 dolar A. Selama setahun, dapat bunga 3%, maka 100 dolar A >>>>> investasi kita berubah di akhir tahun menjadi 103 dolar A. Lalu kita >>>>> konversikan balik ke rupiah menjadi 103x990 = Rp101.970. Alias >>>>> investasinya >>>>> kalau dihitung balik ke rupiah hanya dapat cuan 1.970 atau secara >>>>> prosentase >>>>> hanya 1,97% saja. >>>>> >>>>> Contoh di atas kalau diasumsikan yg menjadi investor adalah orang >>>>> Indonesia. Sekarang kita ambil contoh yg menjadi investor adalah orang >>>>> di >>>>> negara A. Sama seperti di atas asumsinya, yaitu modal investasi awal >>>>> 100 >>>>> dolar A. Kurs awal tahun sama seperti di atas, sehingga rupiahnya >>>>> menjadi >>>>> Rp100 ribu. Di Indonesia investasi Rp100 ribu menjadi Rp106.500 di >>>>> akhir >>>>> tahun yg bila dikonversi balik ke mata uangnya sama dengan 107,57 dolar >>>>> negara A alias dia dapat untung 7,57 dolar A atau 7,57%. >>>>> >>>>> Sebaliknya bila dia invest di negaranya sendiri, uang 100 dolar A, >>>>> diakhir tahun menjadi 103 dolar A atau untung 3 dolar A alias 3%. >>>>> >>>>> Semoga sekarang bisa dilihat, bahwa tingkat inflasi ngga ngaruh dalam >>>>> kondisi seperti di atas. Mau tingkat inflasi di Indonesia 10% pun, >>>>> selama >>>>> nilai mata uangnya stabil, maka tidak akan pengaruh pada perhitungan di >>>>> atas. >>>>> >>>>> >>>>> Tingka inflasi baru berpengaruh atau terasa kepada perhitungan daya >>>>> beli. Misalkan saya punya Rp100 ribu, dapat bunga hanya 6,5% per tahun, >>>>> tapi >>>>> tingkat inflasi 7%, maka saya yg tinggal dan hidup di Indonesia, akan >>>>> merasakan daya beli uang saya menurun walau dapat tambahan dari bunga. >>>>> Karenanya, investasi tersebut jadi investasi yang merugi. Saya akan >>>>> mencari >>>>> cara untuk mendapatkan keuntungan dari modal saya lebih dari tingkat >>>>> inflasi >>>>> agar daya beli uang saya tidak menurun. Apalagi bila investasi saya >>>>> tersebut >>>>> untuk tujuan tabungan di hari tua nanti. >>>>> >>>>> Dengan begitu, maka saya akan berusaha mencari alternatif investasi >>>>> lain >>>>> yg bisa memberikan hasil lebih dari 7% setahun. Di majalah Investor >>>>> edisi >>>>> April 2010, sudah pernah saya tuliskan artikel yang berkaitan dengan >>>>> itu. >>>>> Dimana di artikel tersebut saya coba kasih contoh saham sebagai >>>>> alternatif >>>>> investasi. Saya berikan tabel kinerja saham 5 tahun, dari awal 2005 >>>>> sampai >>>>> akhir 2009 dimana tingkat return saham rata2 di atas 20% per tahun >>>>> sudah >>>>> bebas pajak, dan sudah termasuk kena crash tahun 2008. Maksudnya >>>>> investasi >>>>> disini adalah beli dan simpan saja, tidak ditradingkan alias hanya >>>>> didiamkan >>>>> saja. >>>>> >>>>> Cara lain adalah dengan masuk ke sektor riil yg bisa memberikan >>>>> keuntungan setahun lebih besar dari tingkat inflasi. >>>>> >>>>> Maka, dengan BI menjaga suku bunga tetap rendah, akan sangat membantu >>>>> sektor riil berkembang. Bahkan, menurut saya BI rate harusnya berada >>>>> disekitar 3% saja bila kita mau sektor riil kita berkembang pesat dan >>>>> pengangguran bisa cepat dikurangi. >>>>> >>>>> Jadi, masalah suku bunga rendah itu tidak memiliki pengaruh kuat asing >>>>> jadi tidak tertarik masuk ke sektor riil. Justru asing malah lebih >>>>> tertarik >>>>> bila suku bunga di satu negara murah. Kalau investasi di instrumen >>>>> pasar >>>>> uang, barulah suku bunga rendah itu daya tariknya bisa berkurang. Tapi, >>>>> hari >>>>> gini, ngapain juga sih kasih makan duit asing. Kasihan selama ini >>>>> rakyat >>>>> Indonesia kasih makan investasi asing di SUN maupun SBI. Sudah saatnya >>>>> kita >>>>> tidak memperkaya mereka lagi. >>>>> >>>>> >>>>> jabat erat, >>>>> Irwan Ariston Napitupulu >>>>> >>>>> >>>>> 2011/1/14 positif01 <[email protected]> >>>>> >>>>> >>>>>> >>>>>> Dari sejumlah negara-negara 'emerging markets' termasuk representasi >>>>>> BRIC (Brasil, Rusia, India, Cina) dan yang ada dalam lingkup Asia/Asia >>>>>> Tenggara, hanya Indonesia yang belum menyesuaikan suku bunga atas >>>>>> dasar >>>>>> argumentasi 'core inflation' belum melampaui 'headline inflation' >>>>>> (food and >>>>>> fuel). >>>>>> >>>>>> Yang kukuh dengan posisi core inflation vs headline inflation ini >>>>>> adalah Amerika Serikat, yang cenderung/kerap mengabaikan 'headline >>>>>> inflation'. Tapi ada alasannya, kenapa. Pernah dibahas dan dimuat di >>>>>> Bloomberg, sekaligus membandingkan mengapa 'emerging markets' tidak >>>>>> punya >>>>>> alasan serupa. Karena komponen 'headline inflation', food and fuel itu >>>>>> menyumbang 30-40% dari total pendapatan ('income') per kapita penduduk >>>>>> AS. >>>>>> Bandingkan di 'emerging market' apalagi negara berkembang/dunia ke-3, >>>>>> makanan dan bbm bisa menyumbang >70%....termasuk di antaranya >>>>>> Indonesia. >>>>>> >>>>>> Oleh karena itu, jika banyak analis/lembaga internasional yang >>>>>> merekomendasikan BI untuk sigap menyesuaikan suku bunga bukan karena >>>>>> tendensi negatif, tetapi memang sepantasnya seperti itu menurut >>>>>> mereka. Jika >>>>>> argumennya kekhawatiran akan menghambat laju pertumbuhan ekonomi, >>>>>> kenyataannya Cina dan India yang lebih tinggi persentase pertumbuhan >>>>>> ekonominya sudah beberapa kali menaikkan suku bunga tahun lalu selain >>>>>> menaikkan GWM. Dan, sebagaimana disebutkan oleh Reuters bahwa >>>>>> 'decoupling' >>>>>> atau disparitas/perbedaan antara 'headline' dan 'core' inflation itu >>>>>> secara >>>>>> historis tidak akan pernah lama. Kurang lebih kalau pelaku pasar yang >>>>>> lebih >>>>>> pragmatis mengatakan, "Apa perlu menunggu dampak sampingan yang lebih >>>>>> serius?" >>>>>> >>>>>> '+' >>>>>> >>>>>> On Fri, Jan 14, 2011 at 9:57 AM, PyRiEL PyRiEL < >>>>>> [email protected]> wrote: >>>>>> >>>>>>> >>>>>>> >>>>>>> Diskusi bang ian.. >>>>>>> Naiknya BI rate ataupun RR selalu dijadikan alasan banking untuk >>>>>>> naikin suku bunga pinjaman.. >>>>>>> Sejak RR dinaekin dari 5 ke 8%, naik tuh suku bunga kredit.. >>>>>>> >>>>>>> Sebenernya, transmisi yang lebih stabil untuk sedot likuiditas ya RR >>>>>>> ini.. >>>>>>> >>>>>>> Tapi apapun itu, untuk selesaikan masalah inflasi saat ini seharusnya >>>>>>> bukan dari sisi moneter yang digenjot.. >>>>>>> Kutip dari Positive: >>>>>>> 1. the core inflation rateheld steady in December at 4.3 per cent >>>>>>> 2. consumer price inflation – driven by food – continued to >>>>>>> accelerate to 7 per cent >>>>>>> 3. rate rises need not attract inordinate amounts of hot money. >>>>>>> >>>>>>> Jangan sampe salah obat, yang ada makin parah sakitnya >>>>>>> >>>>>>> >>>>>>> >>>>>>> >>>>>>> On Fri, Jan 14, 2011 at 9:35 AM, Irwan Ariston Napitupulu < >>>>>>> [email protected]> wrote: >>>>>>> >>>>>>>> >>>>>>>> >>>>>>>> Suku bunga ngga perlu naik karena malah jadi penyebab inflasi itu >>>>>>>> sendiri dalam kasus Indonesia. >>>>>>>> >>>>>>>> Naikan saja GWM nya, Giro Wajib Minimum (kalau istilah di buku >>>>>>>> pelajaran adalah Reserve Requirement) yang saat ini masih terlalu >>>>>>>> rendah, >>>>>>>> baru 8%, untuk negara dengan growth seperti Indonesia. China tingkat >>>>>>>> GWM nya >>>>>>>> 18,5%. Sementara tingka suku bunga deposito 1 tahun di China hanya >>>>>>>> 2,75% dan >>>>>>>> tingkat suku bunga pinjaman di China 5,81%. >>>>>>>> >>>>>>>> Peningkatan GWM sangat efektif dalam menekan jumlah uang beredar. >>>>>>>> Bagi yg ingin belajar apa itu GWM dan bagaimana pengaruhnya ke >>>>>>>> ekonomi, silakan baca2 di: >>>>>>>> >>>>>>>> http://en.wikipedia.org/wiki/Reserve_requirement >>>>>>>> >>>>>>>> jabat erat, >>>>>>>> Irwan Ariston Napitupulu >>>>>>>> >>>>>>>> >>>>>>>> >>>>>>>> >>>>>>>> On Fri, Jan 14, 2011 at 9:24 AM, positif01 >>>>>>>> <[email protected]>wrote: >>>>>>>> >>>>>>>>> >>>>>>>>> >>>>>>>>> Ferry Wong, head of Indonesia research at Macquarie Securities in >>>>>>>>> Jakarta, said the central bank was behind the curve on inflation. >>>>>>>>> >>>>>>>>> "I think some foreign investors were not too comfortable with the >>>>>>>>> central bank's not raising interest rates despite high inflation," >>>>>>>>> he said. >>>>>>>>> (Reuters) >>>>>>>>> >>>>>>>>> BI’s decision to keep its policy interest rate at 6.5 per cent for >>>>>>>>> the 17th >>>>>>>>> month<http://www.bi.go.id/web/en/Moneter/BI+Rate/Data+BI+Rate/>in a >>>>>>>>> row rests on two assumptions: that food price inflation won’t spill >>>>>>>>> into core inflation, and that interest-rate increases would attract >>>>>>>>> damaging >>>>>>>>> short-term<http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/10AAF037-83D2-4972-A561-8DFF73D22DE9/21042/GBI_IndonesiaInvestmentForumJakarta.pdf>capital >>>>>>>>> flows. Both are dubious. First, it is true that the core inflation >>>>>>>>> rate (excluding food and energy) held steady in December at 4.3 per >>>>>>>>> cent, >>>>>>>>> while headline consumer price inflation – driven by food, which >>>>>>>>> accounts for >>>>>>>>> about a third of the >>>>>>>>> CPI<http://dds.bps.go.id/eng/brs_file/eng-inflasi-01dec10.pdf>basket >>>>>>>>> – continued to accelerate to 7 per cent, well outside the target >>>>>>>>> zone >>>>>>>>> of 4 to 6. But headline and core never decouple for long. Consumer >>>>>>>>> surveys >>>>>>>>> and rising 10-year bond yields suggest that inflation expectations >>>>>>>>> are >>>>>>>>> taking root. Second, rate rises need not attract inordinate amounts >>>>>>>>> of hot >>>>>>>>> money if capital >>>>>>>>> controls<http://www.ft.com/cms/s/0/f730a2b6-1c26-11e0-9b56-00144feab49a.html#axzz1Ab0kjIbh>are >>>>>>>>> effective, and everyone else is >>>>>>>>> tightening<http://www.ft.com/cms/s/3/60a426c4-fd31-11df-b83c-00144feab49a.html#axzz1Ab0kjIbh>too. >>>>>>>>> (Financial Times). >>>>>>>>> >>>>>>>>> >>>>>>>>> >>>>>>>>> >>>>>>>> >>>>>>> >>>>>> >>>>>> >>>>>> >>>>> >>>> >>>> >>>> >>> >> >> >> >> > ------------------------------------ Kunjungi situs http://www.info-saham.com untuk informasi seputar saham. SEMUA POSTING DI MILIS INI TANGGUNG JAWAB PENGIRIM EMAIL DAN BUKAN ADMIN MILIS. SEMUA POSTING DI MILIS INI BUKAN UNTUK MENGAJAK MEMBELI ATAU MENJUAL EFEK. SETIAP KEPUTUSAN INVESTASI MENJADI TANGGUNG JAWAB PIHAK PEMILIK INVESTASI ATAU PEMILIK MODAL. [email protected] untuk berhenti dari milis saham [email protected] untuk bergabung ke milis saham Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/saham/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/saham/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
