Rabu, 26 Januari 2011
The Tale of Two
Siblings<http://teguhidx.blogspot.com/2011/01/right-issue-bmri-ipo-garuda.html>

Kementrian BUMN dalam waktu dekat ini akan menggelar dua hajatan besar di
pasar modal. Pertama, penawaran umum terbatas I Bank Mandiri (Right Issue
BMRI), dan kedua, IPO Garuda Indonesia. Menariknya, dua perusahaan ini
ternyata memiliki kaitan khusus.

Harga IPO Garuda akhirnya ditetapkan pada level terendah yaitu Rp750, dan
jumlah saham yang dilepas berkurang dari tadinya 36%, menjadi 26% saja. Hal
ini mungkin disebabkan oleh kondisi market yang memang lagi sedikit lesu,
tapi tetap tidak mengubah opini mayoritas pengamat dan analis yang
menyebutkan bahwa harga IPO Garuda tersebut terlalu mahal.

Sementara BMRI menetapkan harga right issue-nya pada level Rp5,000 per
saham, dengan harga HMETD Rp5,250 per saham. Meskipun dikabarkan bahwa para
investor minta harga yang lebih rendah dari Rp5,000, tapi sejauh ini nggak
ada pengamat yang bilang kalau harga tersebut kemahalan. Mengingat harga
tersebut masih lebih rendah dari harga terakhir BMRI ‘hasil koreksi IHSG’
yaitu 5,700 (sebelum terjadi koreksi, BMRI mantap diatas 6,500), maka
sepertinya pemerintah ga akan kesulitan menjual saham baru BMRI ini ke
masyarakat.

Lantas apa kaitan antara BMRI dengan Garuda? Fakta menariknya adalah, dari
dana perolehan IPO Garuda sebesar kira-kira Rp4.8 trilyun, BMRI akan
kebagian 1.1 trilyun. Kenapa begitu? Karena BMRI memiliki saham di Garuda,
hasil konversi utang. Garuda memang pernah punya utang sekian trilyun ke
BMRI. Dan karena Garuda gak sanggup bayar, maka utang tersebut dikonversi
menjadi saham, sehingga BMRI jadi memiliki 10.6% saham Garuda. Selama ini,
masalah terbesar Garuda memang terletak di utangnya yang kelewat besar, gak
terlalu berbeda dengan perusahaan airlines lainnya. Mandala Airlines juga
bangkrut karena masalah utang.

Kenapa kok BMRI mau mengubah piutangnya di Garuda menjadi saham? Karena
Garuda berjanji bahwa saham tersebut bisa diuangkan melalui mekanisme IPO.
Dan memang dari sekian milyar lembar saham Garuda yang akan dilepas ke
publik, sebagian diantaranya adalah milik BMRI.

Jadi jika anda beli saham IPO Garuda, maka itu berarti anda bayarin utangnya
Garuda ke BMRI. Setelah IPO ini, janji Garuda untuk mencairkan saham milik
BMRI menjadi dana tunai akan terpenuhi, dan BMRI mendapatkan uangnya
kembali.

Selain mendapat 1.1 trilyun dari IPO Garuda, BMRI juga akan mendapat sekitar
12.2 trilyun dari right issue-nya, jadi totalnya 13.3 trilyun. Jumlah dana
yang sangat besar, tentu saja. Dan dana ini akan sangat berguna untuk
menambah modal BMRI, sehingga catatan CAR-nya yang pada kuartal tiga 2010
hanya 14.1%, mungkin akan naik menjadi 17 – 19% setelah right issue ini.
Dengan cadangan modal yang jauh lebih baik, BMRI nantinya akan memiliki
kesempatan yang lebih luas untuk berekspansi, sehingga mereka akan dapat
mempertahankan posisinya sebagai The Largest Bank in Indonesia.

Namun disisi lain, right issue ini akan menyebabkan nilai saham BMRI akan
terdilusi (berkurang) sekitar 10.0%. Dan kepemilikan saham pemerintah di
BMRI juga akan terdilusi, dari tadinya 66.7%, menjadi 60.0%. Kenapa
demikian? Karena pemerintah gak akan mengambil jatah HMETD-nya yang
berjumlah sekitar 1.6 milyar lembar saham, melainkan melemparnya ke publik.
Karena kepemilikan pemerintah di BMRI berkurang, maka status ‘ke-BUMN-an’
BMRI juga jadi berkurang. Artinya? Jaminan pemeliharaan dari negara terhadap
BMRI juga jadi tidak sebesar sebelumnya.

Tapi BMRI boleh dibilang gak begitu butuh perhatian pemerintah, sebab
kinerjanya selama ini terbilang bagus, dan perusahaannya sendiri juga jarang
bermasalah. Sementara untuk Garuda, kepemilikan saham pemerintah terhadapnya
akan berkurang dari tadinya 85.8%, menjadi 60.1% pasca IPO. Mengingat Garuda
selama ini punya banyak masalah utang, dan kinerjanya juga nggak bagus, maka
angka 60.1% tersebut terdengar beresiko.

Kalau penulis boleh berpendapat, seharusnya Bank Mandiri ‘meng-ikhlas-kan’
saja piutangnya yang 1.1 trilyun itu ke Garuda Indonesia. Kenapa begitu?
Karena baik BMRI maupun Garuda kan sama-sama milik pemerintah. Jadi kalaupun
utang itu gak dibayar, pemerintah sebagai pemilik BMRI gak akan rugi, karena
yang menerima keuntungannya adalah Garuda, perusahaan milik pemerintah juga.
Ibaratnya seperti ngambil duit dari kantong kanan, lalu dimasukkan ke
kantong kiri, jadi duitnya sebenarnya gak kemana-mana. Harusnya BMRI bisa
sedikit lunak lah, sama saudaranya. Secara dia kan bermain di sektor
perbankan, salah satu sektor paling prospektif di Indonesia (makanya
kinerjanya bagus). Sementara Garuda ‘terpaksa’ bermain di sektor jasa
transportasi udara, sektor yang kurang menguntungkan. Duit 1.1 trilyun
tersebut kalau diambil BMRI, maka hanya akan menambah modalnya sedikit saja.
Sementara kalau duit itu tetap dikasiin di Garuda, maka bisa dipake buat
beli setidaknya 2 atau 3 unit pesawat terbang. Soal pengaruh negatif yang
mungkin terjadi dari langkah 'ikhlas' ini terhadap catatan NPL di laporan
keuangan BMRI nanti, itu bisa diakalin kok.

Tapi para petinggi BMRI dan para fund besar yang memegang sahamnya pasti gak
akan setuju sama ide konyol diatas.

Sumber :
http://teguhidx.blogspot.com/2011/01/right-issue-bmri-ipo-garuda.html

Kirim email ke