tulisan yang menarik mas Yoga



________________________________
Dari: Dimas Yoga <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Rab, 26 Januari, 2011 22:45:06
Judul: [saham] Right Issue BMRI & IPO Garuda

  


Rabu, 26 Januari 2011
The Tale of Two Siblings

Kementrian BUMN dalam waktu dekat ini akan menggelar dua hajatan besar di pasar 
modal. Pertama, penawaran umum terbatas I Bank Mandiri (Right Issue BMRI), dan 
kedua, IPO Garuda Indonesia. Menariknya, dua perusahaan ini ternyata memiliki 
kaitan khusus.

Harga IPO Garuda akhirnya ditetapkan pada level terendah yaitu Rp750, dan 
jumlah 
saham yang dilepas berkurang dari tadinya 36%, menjadi 26% saja. Hal ini 
mungkin 
disebabkan oleh kondisi market yang memang lagi sedikit lesu, tapi tetap tidak 
mengubah opini mayoritas pengamat dan analis yang menyebutkan bahwa harga IPO 
Garuda tersebut terlalu mahal.

Sementara BMRI menetapkan harga right issue-nya pada level Rp5,000 per saham, 
dengan harga HMETD Rp5,250 per saham. Meskipun dikabarkan bahwa para investor 
minta harga yang lebih rendah dari Rp5,000, tapi sejauh ini nggak ada pengamat 
yang bilang kalau harga tersebut kemahalan. Mengingat harga tersebut masih 
lebih 
rendah dari harga terakhir BMRI ‘hasil koreksi IHSG’ yaitu 5,700 (sebelum 
terjadi koreksi, BMRI mantap diatas 6,500), maka sepertinya pemerintah ga akan 
kesulitan menjual saham baru BMRI ini ke masyarakat.

Lantas apa kaitan antara BMRI dengan Garuda? Fakta menariknya adalah, dari dana 
perolehan IPO Garuda sebesar kira-kira Rp4.8 trilyun, BMRI akan kebagian 1.1 
trilyun. Kenapa begitu? Karena BMRI memiliki saham di Garuda, hasil konversi 
utang. Garuda memang pernah punya utang sekian trilyun ke BMRI. Dan karena 
Garuda gak sanggup bayar, maka utang tersebut dikonversi menjadi saham, 
sehingga 
BMRI jadi memiliki 10.6% saham Garuda. Selama ini, masalah terbesar Garuda 
memang terletak di utangnya yang kelewat besar, gak terlalu berbeda dengan 
perusahaan airlines lainnya. Mandala Airlines juga bangkrut karena masalah 
utang.

Kenapa kok BMRI mau mengubah piutangnya di Garuda menjadi saham? Karena Garuda 
berjanji bahwa saham tersebut bisa diuangkan melalui mekanisme IPO. Dan memang 
dari sekian milyar lembar saham Garuda yang akan dilepas ke publik, sebagian 
diantaranya adalah milik BMRI.

Jadi jika anda beli saham IPO Garuda, maka itu berarti anda bayarin utangnya 
Garuda ke BMRI. Setelah IPO ini, janji Garuda untuk mencairkan saham milik BMRI 
menjadi dana tunai akan terpenuhi, dan BMRI mendapatkan uangnya kembali.

Selain mendapat 1.1 trilyun dari IPO Garuda, BMRI juga akan mendapat sekitar 
12.2 trilyun dari right issue-nya, jadi totalnya 13.3 trilyun. Jumlah dana yang 
sangat besar, tentu saja. Dan dana ini akan sangat berguna untuk menambah modal 
BMRI, sehingga catatan CAR-nya yang pada kuartal tiga 2010 hanya 14.1%, mungkin 
akan naik menjadi 17 – 19% setelah right issue ini. Dengan cadangan modal yang 
jauh lebih baik, BMRI nantinya akan memiliki kesempatan yang lebih luas untuk 
berekspansi, sehingga mereka akan dapat mempertahankan posisinya sebagai The 
Largest Bank in Indonesia.

Namun disisi lain, right issue ini akan menyebabkan nilai saham BMRI akan 
terdilusi (berkurang) sekitar 10.0%. Dan kepemilikan saham pemerintah di BMRI 
juga akan terdilusi, dari tadinya 66.7%, menjadi 60.0%. Kenapa demikian? Karena 
pemerintah gak akan mengambil jatah HMETD-nya yang berjumlah sekitar 1.6 milyar 
lembar saham, melainkan melemparnya ke publik. Karena kepemilikan pemerintah di 
BMRI berkurang, maka status ‘ke-BUMN-an’ BMRI juga jadi berkurang. Artinya? 
Jaminan pemeliharaan dari negara terhadap BMRI juga jadi tidak sebesar 
sebelumnya.

Tapi BMRI boleh dibilang gak begitu butuh perhatian pemerintah, sebab 
kinerjanya 
selama ini terbilang bagus, dan perusahaannya sendiri juga jarang bermasalah. 
Sementara untuk Garuda, kepemilikan saham pemerintah terhadapnya akan berkurang 
dari tadinya 85.8%, menjadi 60.1% pasca IPO. Mengingat Garuda selama ini punya 
banyak masalah utang, dan kinerjanya juga nggak bagus, maka angka 60.1% 
tersebut 
terdengar beresiko.

Kalau penulis boleh berpendapat, seharusnya Bank Mandiri ‘meng-ikhlas-kan’ saja 
piutangnya yang 1.1 trilyun itu ke Garuda Indonesia. Kenapa begitu? Karena baik 
BMRI maupun Garuda kan sama-sama milik pemerintah. Jadi kalaupun utang itu gak 
dibayar, pemerintah sebagai pemilik BMRI gak akan rugi, karena yang menerima 
keuntungannya adalah Garuda, perusahaan milik pemerintah juga. Ibaratnya 
seperti 
ngambil duit dari kantong kanan, lalu dimasukkan ke kantong kiri, jadi duitnya 
sebenarnya gak kemana-mana. Harusnya BMRI bisa sedikit lunak lah, sama 
saudaranya. Secara dia kan bermain di sektor perbankan, salah satu sektor 
paling 
prospektif di Indonesia (makanya kinerjanya bagus). Sementara Garuda ‘terpaksa’ 
bermain di sektor jasa transportasi udara, sektor yang kurang menguntungkan. 
Duit 1.1 trilyun tersebut kalau diambil BMRI, maka hanya akan menambah modalnya 
sedikit saja. Sementara kalau duit itu tetap dikasiin di Garuda, maka bisa 
dipake buat beli setidaknya 2 atau 3 unit pesawat terbang. Soal pengaruh 
negatif 
yang mungkin terjadi dari langkah 'ikhlas' ini terhadap catatan NPL di laporan 
keuangan BMRI nanti, itu bisa diakalin kok.

Tapi para petinggi BMRI dan para fund besar yang memegang sahamnya pasti gak 
akan setuju sama ide konyol diatas.

Sumber : http://teguhidx.blogspot.com/2011/01/right-issue-bmri-ipo-garuda.html

 

Kirim email ke