Udahlah Bang, gak usahlah terlalu dipikirkan, nanti pasti berhenti sendiri.
Saya dan yang lain msh tekun dan cermat membaca dan mencoba mengerti tulisan
Abang dan kenapa Abang mengambil penyikapan itu sesuai situasi yang berkembang
sekarang. Itulah yang membuat kami senang mempelajarinya.
GBU.
----- Original Message -----
From: Irwan Ariston Napitupulu
To: [email protected]
Sent: Tuesday, 14 June 2011 15:52
Subject: [saham] Re: Bila Terjadi Krisis
Saya repost sajalah posting saya terdahulu agar lebih jelas.
Bagi yang belum paham arti kata "BILA", saya sedikit jelaskan ya, kata BILA
itu artinya belum terjadi dan sifatnya lebih kepada pengkondisian. Tujuannya
untuk memberikan gambaran seandainya hal tersebut beneran terjadi sehingga
diharapkan sudah siap dan tahu medan tempur yang akan dihadapi.
Agar repot memang menghadapi orang yang ngga hati2 dalam membaca dan
mengartikan, lalu mengartikan sendiri semaunya saja yang akhirnya malah
memberikan arti yang berbeda seolah2 saya mengatakan apa yang orang tersebut
tuliskan. Apesnya, pihak lain yang tidak mengikuti postingan dengan lengkap,
jadi percaya kalau saya mengatakan demikian.
Begitulah nasib saya, ditambahin kerjaan yang ngga seharusnya saya lakuin
hanya karena keteledoran beberapa pihak dalam membaca dan mengartikan tulisan
akibat emosinya duluan yang didahulukan, bukan nalarnya :)
jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu
2011/6/13 Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]>
Ini hanya untuk nambah pengetahuan saja ya.
Bila terjadi krisis seperti tahun 2008 lalu, dan polanya mirip, maka
dibutuhkan waktu sekitar 3-4 bulan harga saham bergerak turun dari puncaknya
dengan besaran sekitar 50-75% (kecuali defensive stock yg biasanya turunnya
bisa lebih kecil). Jadi bukan dalam 3-4 hari seperti perkiraan orang belakangan
ini.
Bila ekonomi AS mengalami double dips yaitu kondisi dimana masuk resesi
(2008-2009) lalu recover sesaat (2009-2011) kemudian masuk lagi resesi, maka
saya perkirakan indeks DOW bisa masuk ke level 8500-9000 kembali.
Saat ini tidak ada yang tahu apakah AS akan masuk resesi lagi atau tidak,
karenanya pintar2 sajalah mengatur porto dan aset yang ada.
Berhatilah2 dengan rekomendasi2 buy yg menganggap ekonomi aman2 saja karena
ketika anda terbuai dan terlena, lalu ekonomi benar2 mengarah ke negatif, aset
anda akan tergerus cukup hebat.
Juga berhati2lah dengan rekomendasi2 sell yg mengatakan ekonomi mau
crash/resesi, karena ketika ternyata ekonomi tidak jadi masuk resesi, maka bisa
jadi anda kehilangan peluang untung dari kenaikan harga saham.
Semua pilihan ada ditangan anda masing2, sesuaikan dengan batasan resiko
masing2.
Punya poisisi atau tidak posisi, keduanya sama2 memiliki resikonya masing2
dengan sifat resiko yg tentunya berbeda. Yang satu kemungkinan
kehilangan/tergerusnya aset tapi punya peluang naik asetnya, yang satunya lagi
resiko asetnya tidak bertambah tapi juga tidak berkurang karena pegang cash.
Yang mana lebih cocok toleransi resikonya, silakan anda pilih dengan
bertanggung jawab atas pilihannya sendiri.
Abaikan saja para cheerleader yg teriak2 buy or sell di milis atau pun
lainnya, fokus dengan kemampuan sendiri dalam menganalisa situasi dan grafik
yang ada.
Tips untuk melihat grafik, lihatlah grafik seolah2 anda tidak punya posisi
apapun, biasanya lihat grafiknya jadi lebih jernih. Bila masih belum bisa
jernih karena ada posisi, print saja grafik tersebut, tanyakan ke tukang parkir
atau pembantu anda di rumah, menurut matanya dia, grafiknya cenderung mau turun
atau naik dalam 1-2 bulan ke depan. Agar mantap, tanyakan saja ke 5 orang yg
awam bursa dan grafik. Biasanya, orang awam cenderung masih polos dan jernih
lihat grafik ketimbang yg sudah tiap hari lihat grafik Kalau ke pembantu,
coba saja nanyanya dengan bilang, kalau sendainya grafik ini adalah grafik
harga cabe, kira2 harga cabenya mau naik atau turun :)
jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu