Dear Pak DK, Sebenarnya semua tenor SUN sudah risk free (dari potensi default) krn dijamin / sudah ada alokasi dana pembayaran bunga dan pokoknya di APBN (untuk tahun ini di APBN 2011) dan itu tidak akan diutak atik lagi karena menyangkut reputasi pemerintah di pasar domestik dan internasional.
Kalau di Pasar Sekunder makin pendek tenor (jatuh tempo) SUN makin likuid transaksinya sehingga makin tipis bid offer spread yield dan price nya ---> kuotasi yield & harganya makin valid. Makin panjang tenornya makin jarang transaksinya krn mayoritas investor/holder-nya cenderung buy and hold sehingga spread antara bid-offer yield & pricenya makin lebar ---> masih perlu didukung data realnya sih :) Kalau sepengetahuan saya yg masih amat terbatas ini, apabila kita ingin menghitung return investasi dengan memasukan asumsi rate of return yang berasal dari risk free instruments, idealnya tenor risk free instrument yg digunakan sama dengan horizon (tenor) investasi kita ---> need more discussions abt this :) Rgds Jin Tomang 2011/6/21 BK Wibowo <[email protected]> > > > dulu saya pernah baca kalo SUN 30 tahun ini dikonversi ke SUN tenor > menengah. Setelah saya cari lagi, beritanya ada di sini: > > > http://vibiznews.com/article/bondsmutual/2008/05/07/peningkatan-bi-rate-memperburuk-pasar-obligasi/ > > kenapa perlu 30 tahun? intinya semakin lama dan semakin aman terjamin > semakin risk free :) > > Salam, > BK. Wibowo > > > Pada 21 Juni 2011 08:47, Jin Tomang <[email protected]> menulis: > > ** >> >> >> >>Di Indonesia sebetulnya agak sulit menentukan risk free return nya >> karena tidak ada long term bond (30 thn). >> >> Bapak bisa pakai yield SUN tenor 30 tahun, dengan yield 9.235%. >> >> Pertanyaan dari saya mengapa menghitung valuasi hingga 30 tahun? Kenapa >> tidak pakai asumsi max sampai 10 thn saja Pak? >> >> Berikut yield SUN untuk tenor2 tertentu per 20 Juni 2011, sumber IDMA : >> >> Tenor Yield (%) >> 1 5.890 >> 5 7.047 >> 7 7.432 >> 10 7.713 >> 15 8.372 >> 20 8.854 >> 30 9.235 >> >> >> 2011/6/20 BK Wibowo <[email protected]> >> >>> >>> >>> dengan asumsi perusahaan tidak ada hutang, r bisa dihitung dari CAPM >>> dengan rumus: >>> Expected Return = Riskfree Return + Beta*Market Premium >>> Market Premium ini dihitung dari Required Market Return - Risk Free >>> Return >>> Risk Free Return diasumsikan menggunakan rate LPS, yaitu 7.25% >>> Di Indonesia sebetulnya agak sulit menentukan risk free return nya karena >>> tidak ada long term bond (30 thn). >>> Required Market Return, dihitung dengan melihat peringkat negara yang >>> bersangkutan, misal Indonesia BB+, sehingga masih selisih 9 notch dari AAA. >>> Dengan asumsi per notch membutuhkan premi 0,5% maka Market Premium IHSG >>> adalah 4,5% >>> Beta dihitung dari data historis, misal asumsi Beta = 2 >>> Maka Expected Return = 7,25% + 2*4,5% = 16,25% >>> Dengan expected return 16,25%, maka saham dengan Beta=2, return 20% >>> dengan growth 15% adalah mispricing dan akan diborong habis. >>> Kecuali kalo Betanya ternyata di atas itu :D >>> >>> Salam, >>> BK. Wibowo >>> >>> Pada 20 Juni 2011 15:12, Didik <[email protected]> menulis: >>> >>> ** >>>> >>>> >>> >> > > > >
