Yang lebih enak lagi kalao pare sama teri nya gratis van.
Anyway, mengenai pare itu emang betul seperti yang ditulis vita. Saya
ada sedikit "kesukuan" kalau masalah sayuran lalapan. Saya terlahir
sebagai orang sunda-betawi, lahir di sunda dan besar sampai kelas 5
SD, kemudian pindah ke tambun - bekasi. Di masa kecil sebagai orang
sunda itulah saya suka di jejali sayuran lalapan. Ketika sudah berada
di tanah betawi mulai muncul rasa "bangga" saya sebagai orang sunda
yang suka sayuran. Pernah suatu hari ketika saya sudah di Tambun,
kakek saya yang betawi melihat saya makan nasi dengan daun lalapan,
dengan gaya bercanda dia bilang, "emangnya udeh engga ada yang bisa
dimakan lagi ama elo buat lauk?".
Dan ketika saya sudah menikah, istri saya adalah orang aceh. Dan
makanan orang aceh tidak ada menu lalapan, even daun singkong kayak
orang padang. Dan itu oke-oke saja, karena selama ini secara jujur,
konsumsi sayuran buat saya adalah hal yang bersifat "kesukuan". Tapi
ibu mertua saya rupanya menerapkan juga "kesukuan" ini dengan
inisiatif sendiri, saya satu-satunya menantu dari luar aceh, orang
sunda-betawi dan pasti suka lalapan!. Hampir setiap saya berkunjung ke
rumah mertua, di meja makannya selalu ada lalapan yang lumayan banyak
untuk dikonsumsi oleh saya seorang. Karena saudara-saudara ipar saya
yang lain, tidak begitu suka juga dengan sayuran terpaksa saya harus
merayu istri saya dengan cara menerangkan begitu pentingnya sayur buat
kulit, buat ASI, buat kebugaran dst dst. Kalau tidak dengan cara ini,
saya kewalahan menghabiskan lalapan itu..hehehe.