iya Esti, masih banyak ketidakadilan bagi negara berkembang dan miskin, susahnya adalah bila pemimpin mereka lebih berpihak pada liberalisasi dan kapitalisasi, tapi itulah sebenarnya bagian dari konspirasi besar untuk membuka pasar dan menguasai aset developing countries, pertanyaannya, sampai dimana keberpihakan penguasa pada rakyat kecil seperti petani?
On 5/19/10, nayarini estiningsih <[email protected]> wrote: > bacaan bagus mas Hizbul, walaupun temanya klasik (karena kita semua sudah > tahu dampak negatif globalisasi dan ekonomi liberal hehe), tapi bagus untuk > menambah wawasan. > mudah-mudahan FAIR TRADE adalah jawaban dari kegelisahan para petani > miskin di seluruh dunia. > mudah-mudahan juga bu Sri Mulyani bisa membawa perubahan dan angin segar > dalam menerapkan kebijakan-kebijakan baru yg menguntungkan negara berkembang > setelah beliau memulai kiprahnya di World Bank bulan depan. kita rakyat > kecil cuma bisa berdoa :-) > > salam > > > ----------------------- > > Kejamnya Liberalisme Ekonomi > > Oleh Dina Sulaeman > > Minggu, 16 Mei 2010 > > Pendahuluan: Bunuh Diri Para Petani > > Dalam sidang WTO di Cancun (Meksiko), 9 September 2003, seorang petani dari > Korea Selatan, Lee Kyung Hae, melakukan aksi bunuh diri di depan gedung > tempat berlangsungnya sidang. Saat itu dia menggunakan pakaian bertuliskan > "WTO Membunuh Para Petani". Lee adalah seorang petani padi yang memiliki > lahan luas di Korsel, namun kemudian bangkrut karena negaranya dibanjiri > oleh beras impor yang harganya jauh lebih murah. Lee memperjuangkan nasib > petani di negaranya dengan berbagai cara, namun gagal. Sejak Korsel mematuhi > aturan liberalisasi perdagangan, jumlah petani di negara itu telah berkurang > setengahnya (dari sekitar 6 juta menjadi sekitar 3 juta petani). Padahal, > Korsel adalah negara agraris, persis Indonesia. Perjuangan Lee berakhir > dengan aksi bunuh diri di Cancun.[1] > Di India, pada tanggal 3 September 2009 lebih dari 50 ribu petani dari > berbagai penjuru India berkumpul di New Delhi dengan membawa poster > bertuliskan "WTO keluar dari pertanian". Mereka memrotes Pemerintah India > yang tidak melindungi petani lokal. Karena terikat perjanjian WTO, India > hanya bisa melindungi 5 persen dari produk pertaniannya dari pemotongan > tarif. Akibatnya, produk lokal India kalah bersaing dari produk pangan > bersubsidi dari AS dan Uni Eropa. > > > > > >
