Maaf Mbak Esti,
Comment sedikit. Rasanya kita tidak perlu melawan "bangsa kulit putih dg sistemnya yg merugikan bangsa kita". Yang perlu kita lawan adalah sistem (manapun, tidak peduli warna kulitnya) yang merugikan martabat bangsa kita. Dengan catatan kitapun menunjukkan sebagai bangsa yang bermartabat lho ya.... Sekarang ini saya khawatir, yang menghancurkan bangsa kita bukannya kekuatan dari luar, namun ya bangsa kita sendiri ini. Alias sistem kita merugikan bangsa kita sendiri. Coba kita lihat, ada berapa banyak pengusaha yang mau pegawainya maju? Atau gak usah ketinggian pengusaha, berapa banyak ibu-ibu yang punya pegawai urusan domestik (baca: pembantu rumah tangga) lantas punya keinginan supaya pembantunya suatu saat nanti tidak perlu menjadi pembantu lagi? Bukankah banyak diantara ibu-ibu yang maunya pembantunya menjadi "PRT forever". Saya pernah bertemu seorang Bapak, umur 40-an. Kebetulan beliau ditugaskan oleh atasannya (yang tentu saja orang Indonesia ASLI) untuk memasang woodblind di rumah saya. Beliau seharusnya datang jam 4 sore, tetapi baru berhasil sampai ke rumah kami jam 6 sore dalam kondisi yang saya tahu pasti sangat lelah sehingga sayapun tidak tega komplain. Beliau bercerita sambil meminta maaf agak terlambat karena baru selesai memasang woodblind dengan ukuran yang lebih besar di daerah BSD (Serpong) sedangkan rumah saya ada di Cimanggis. Dia berangkat dari kantornya di Banjar Wijaya (Tangerang) sejak pagi dengan membawa seluruh woodblind yang akan dipasang menggunakan motor. Seharusnya setelah dari rumah kami, Si Bapak masih punya jadwal 4 tempat lagi, dan yang terdekat dari rumah kami adalah Sentul. Dan selanjutnya beliau harus pulang ke rumahnya di Muara Karang. Yang tahu Jakarta pasti bisa membayangkan betapa jauh dan macetnya jalanan yang harus ditempuh, dan betapa tidak manusiawinya perintah kerja Sang Boss. Untuk semua "huru-hara" perjalanan itu, dia hanya mendapatkan gaji yang besarnya "ya..dicukup-cukupkan lah Bu", tanpa uang insentif, dan tanpa uang bensin (motor milik pribadi). Saat itu saya dan suami membayangkan, jika sang bos pergi berjalan-jalan, bukankah uang yang dipakai adalah hasil dari memeras habis-habisan pegawainya? Kok bisa, ya??? Alangkah ngerinya bangsa kita ini. Korupsi yang begitu "berurat akar" di tengah bangsa kita, bukankan itu juga "sistem yang merugikan bangsa kita"? Herannya kok ya tampaknya lebih banyak yang ingin melanggenggkan ketimbang mengikisnya. Salam, Ryrin To: [email protected] From: [email protected] Date: Wed, 19 May 2010 03:49:10 -0700 Subject: Re: [SMUN 1 Demak] Fwd: [ekonomi-nasional] Kejamnya Liberalisme Ekonomi akupun berpikir demikian mas Hizbul. iklim dan kondisi geografis alam memaksa mereka (kulit putih) untuk berpikir lebih dan berupaya lebih keras. inilah mengapa belahan bumi utara lebih makmur dibanding selatan (utara rata-rata wilayah daratannya di iklim sub-tropis dan dingin, selatan rata-rata daratannya di iklim katulistiwa dan sedang). jadi apakah bisa disimpulkan jika MISALNYA jaman dahulu kala orang kulit putih terlahir di katulistiwa (ber-evolusi jadi item juga donk mereka akhirnya), dan orang Melayu terlahir di Eropa (jadi putih donk karena ga ada matahari), maka Melayulah yg pada akhirnya menjelajah dunia dan jadi kaya, ya? hehehe. jadi bukan faktor genetik ini mah ya. yo wis lah kalau begitu, kita nrimo saja, terlahir di katulistiwa, jadi pengekor...hehehe kembali ke topik ekonomi kapitalisme dan liberalisme, jadi kita harus bagaimana? ya idealnya sih, harus kita lawan kemauan bangsa kulit putih dg sistemnya yg merugikan bangsa kita. caranya? 1/ perombakan drastis dan ekstrim di semua sendi kehidupan berbangsa dan bernegara (ekopolitsosbudhankam -ekonomi, politik, informasi, teknologi, sosial, budaya, pertahanan, keamanan) 2/ perlu pemimpin bangsa yg SANGAT tegas (kayak pak Karno dulu, hehe) 3/ berantas korupsi, hukum mati koruptor (wuih serem) 4/ lindungi yg lemah, lawan yg kuat tp sewenang-wenang (yg kuat dan baik hati, jadikan teman hehe) dhuh, ngimpi kali ye.... From: Hizbullah Arief <[email protected]> To: [email protected] Sent: Wednesday, May 19, 2010 11:06:38 Subject: Re: [SMUN 1 Demak] Fwd: [ekonomi-nasional] Kejamnya Liberalisme Ekonomi faktor terbesar penyebab mereka untuk bermigrasi awalnya adalah faktor ekonomi, namun bukan hanya negara negara seperti inggris, belanda dan spanyol saja yang merantau, bangsa arab dan cina juga merantau namun dengan tujuan yang berbeda, berdagang, sedangkan inggris dari awal niatnya memang untuk kolonialisasi, mencari lahan, memperluas wilayah, belanda notabene lebih karena ingin mengeruk sumber daya alam, demikian juga portugis dan spanyol, kondisi alam lah yang memaksa mereka pindah mencari dan mengumpulkan kekayaan baru On 5/19/10, nayarini estiningsih <[email protected]> wrote: > beberapa point: > > 1) KOLONIALISME jaman Belanda di Indonesia mengeruk kekayaan bumi kita > selama 350 tahun, kolonialisme Inggris, Spanyol, Portugis di mana-mana > selama berabad-abad. negara maju (rata-rata bangsa kulit putih - diskusi ini > bukan Rasis ya) dari jaman dahulu kala memang rakus dan serakah (tapi apakah > ini salah?). > > 2) pergerakan MIGRASI bangsa kulit putih yg aslinya berasal dari benua > Eropa, sekarang sudah mendunia karena mereka berhasil dengan sukses > menguasai benua Amerika, mengklaim itu tanah mereka dan mendepak suku asli > Indian, menguasai benua Australia dan mendepak suku Aborigin, dan > sekarang mulai menguasai Afrika (belum mendepak bangsa kulit hitam sih) tapi > sejarah mencatat yg terjadi di Afrika Selatan jaman aparteit adalah bukti > nyata (gara-gara Belanda juga ini mah, hehe). hanya benua Asia saja yg > mereka tidak bisa kuasai secara keseluruhan. ya karena jumlah penduduk Asia > yg notabene paling besar di dunia, China, India, Indonesia, Timur Tengah, > sudah terlalu sumpek Asia untuk tujuan migrasi bangsa kulit putih. > > satu-satunya cara sekarang ya menguasai ekonominya. IMF, World Bank, WTO > adalah organisasi yg didesain bangsa kulit putih untuk menguasai ekonomi > dunia. semua kemajuan teknologi, komunikasi, ekonomi dll ujung-ujungnya > memang berasal dari mereka. > > ini yg menimbulkan pemikiran, MENGAPA bangsa kulit putih yg BISA melakukan > semua itu? mengawali penjelajahan di muka bumi dg kolonialisasi sehingga > mereka bisa KAYA dan MAJU terlebih dahulu, mengawali revolusi industri yg > akhirnya berdampak luas pada kemajuan teknologi (jadi kita bisa diskusi > lewat email seperti sekarang ini hehe), mengawali pemikiran-pemikiran > strategis yg berdampak luas terhadap kehidupan umat di muka bumi, memulai > liberalisasi, kapitalisasi, yg pada akhirnya KITA yg harus mengekor, > mengikuti, 'ngintil' di belakang mereka? mengapa KULIT PUTIH selalu menjadi > pelopor di depan? mengapa bukan orang Cina, Jepang, India, Arab, Indonesia > yg bisa membuat seluruh dunia mengikuti jejaknya? mengapa DUNIA ini jadi > milik/dipimpin oleh kulit putih? apakah mereka lebih pintar? apakah ini > faktor genetik? > > coba bayangkan, jika berabad-abad lalu orang Melayu yg punya ide untuk > berlayar menemukan benua lain (misal Eropa), lalu menjajah mereka, menguasai > tanahnya, mengeruk kekayaannya, membentuk koloni. lalu orang Melayu lainnya > menemukan ide-ide orisinil macam mesin uap, bola lampu dll yg akhirnya > Revolusi Industri bermula dari Tangerang (hehe), lalu kita jual produk > industri kita ke seluruh dunia, lalu ada orang Melayu lain yg mempunyai ide > mendirikan IMF, World Bank, lalu kita suruh bangsa-bangsa lain di dunia > tunduk ke kita dan bayar hutang dg bunga tinggi ke kita, lalu kita > bermigrasi ke Amerika, Australia, Afrika dan menguasai Eropa. kenapa tidak > terpikir itu dari awal, kenapa orang kulit putih yg mengawali? > > ayo siapa yg bisa jawab? > > > > > ________________________________ > From: Hizbullah Arief <[email protected]> > To: [email protected] > Sent: Wednesday, May 19, 2010 9:34:19 > Subject: Re: [SMUN 1 Demak] Fwd: [ekonomi-nasional] Kejamnya Liberalisme > Ekonomi > > > iya Esti, masih banyak ketidakadilan bagi negara berkembang dan > miskin, susahnya adalah bila pemimpin mereka lebih berpihak pada > liberalisasi dan kapitalisasi, tapi itulah sebenarnya bagian dari > konspirasi besar untuk membuka pasar dan menguasai aset developing > countries, pertanyaannya, sampai dimana keberpihakan penguasa pada > rakyat kecil seperti petani? > > On 5/19/10, nayarini estiningsih <[email protected]> wrote: >> bacaan bagus mas Hizbul, walaupun temanya klasik (karena kita semua sudah >> tahu dampak negatif globalisasi dan ekonomi liberal hehe), tapi bagus >> untuk >> menambah wawasan. >> mudah-mudahan FAIR TRADE adalah jawaban dari kegelisahan para petani >> miskin di seluruh dunia. >> mudah-mudahan juga bu Sri Mulyani bisa membawa perubahan dan angin segar >> dalam menerapkan kebijakan-kebijakan baru yg menguntungkan negara >> berkembang >> setelah beliau memulai kiprahnya di World Bank bulan depan. kita rakyat >> kecil cuma bisa berdoa :-) >> >> salam >> >> >> ----------------------- >> >> Kejamnya Liberalisme Ekonomi >> >> Oleh Dina Sulaeman >> >> Minggu, 16 Mei 2010 >> >> Pendahuluan: Bunuh Diri Para Petani >> >> Dalam sidang WTO di Cancun (Meksiko), 9 September 2003, seorang petani >> dari >> Korea Selatan, Lee Kyung Hae, melakukan aksi bunuh diri di depan gedung >> tempat berlangsungnya sidang. Saat itu dia menggunakan pakaian bertuliskan >> "WTO Membunuh Para Petani". Lee adalah seorang petani padi yang memiliki >> lahan luas di Korsel, namun kemudian bangkrut karena negaranya dibanjiri >> oleh beras impor yang harganya jauh lebih murah. Lee memperjuangkan nasib >> petani di negaranya dengan berbagai cara, namun gagal. Sejak Korsel >> mematuhi >> aturan liberalisasi perdagangan, jumlah petani di negara itu telah >> berkurang >> setengahnya (dari sekitar 6 juta menjadi sekitar 3 juta petani). Padahal, >> Korsel adalah negara agraris, persis Indonesia. Perjuangan Lee berakhir >> dengan aksi bunuh diri di Cancun.[1] >> Di India, pada tanggal 3 September 2009 lebih dari 50 ribu petani dari >> berbagai penjuru India berkumpul di New Delhi dengan membawa poster >> bertuliskan "WTO keluar dari pertanian". Mereka memrotes Pemerintah India >> yang tidak melindungi petani lokal. Karena terikat perjanjian WTO, India >> hanya bisa melindungi 5 persen dari produk pertaniannya dari pemotongan >> tarif. Akibatnya, produk lokal India kalah bersaing dari produk pangan >> bersubsidi dari AS dan Uni Eropa. >> >> _________________________________________________________________ NEW! Get Windows Live FREE. http://www.get.live.com/wl/all
