Yang sampai sekarang masih mengkhawatirkan adalah dampak dari jajahan mereka
mbak, terutama mental, bangsa yang dijajah sering  merasa lebih rendah dari
pada bangsa yang menjajah, padahal tidak seperti itu, manusia diberi potensi
yang sama oleh Yang Kuasa,

terkadang, bahkan seringkali mereka yang berusaha lebih keras lah yang
berhasil mengatasi hambatan budaya, rendah diri, berprasangka, sifat yang
tertutup, malu untuk berargumen dan berdiskusi,

temen sepeda saya bilang no guts no glory...he..he...berani tapi asal tidak
asal nekat saja..;D

maaf loh ini hanya intermezo dari pengalaman pribadi, yang lain yang mau
nambahi monggo silahkan...

Hizbull



2010/5/19 nayarini estiningsih <[email protected]>

>
>
> akupun berpikir demikian mas Hizbul. iklim dan kondisi geografis
> alam memaksa mereka (kulit putih) untuk berpikir lebih dan berupaya lebih
> keras. inilah mengapa belahan bumi utara lebih makmur dibanding selatan
> (utara rata-rata wilayah daratannya di iklim sub-tropis dan dingin, selatan
> rata-rata daratannya di iklim katulistiwa dan sedang).
>
> jadi apakah bisa disimpulkan jika MISALNYA jaman dahulu kala orang kulit
> putih terlahir di katulistiwa (ber-evolusi jadi item juga donk mereka
> akhirnya), dan orang Melayu terlahir di Eropa (jadi putih donk karena ga ada
> matahari), maka Melayulah yg pada akhirnya menjelajah dunia dan jadi kaya,
> ya? hehehe. jadi bukan faktor genetik ini mah ya. yo wis lah kalau begitu,
> kita nrimo saja, terlahir di katulistiwa, jadi pengekor...hehehe
>
> kembali ke topik ekonomi kapitalisme dan liberalisme, jadi kita harus
> bagaimana?
>
> ya idealnya sih, harus kita lawan kemauan bangsa kulit putih dg sistemnya
> yg merugikan bangsa kita.
> caranya?
> 1/ perombakan drastis dan ekstrim di semua sendi kehidupan berbangsa dan
> bernegara (ekopolitsosbudhankam -ekonomi, politik, informasi, teknologi,
> sosial, budaya, pertahanan, keamanan)
> 2/ perlu pemimpin bangsa yg SANGAT tegas (kayak pak Karno dulu, hehe)
> 3/ berantas korupsi, hukum mati koruptor (wuih serem)
> 4/ lindungi yg lemah, lawan yg kuat tp sewenang-wenang (yg kuat dan baik
> hati, jadikan teman hehe)
>
> dhuh, ngimpi kali ye....
>
>
>  ------------------------------
> *From:* Hizbullah Arief <[email protected]>
> *To:* [email protected]
> *Sent:* Wednesday, May 19, 2010 11:06:38
>
> *Subject:* Re: [SMUN 1 Demak] Fwd: [ekonomi-nasional] Kejamnya Liberalisme
> Ekonomi
>
>
>
> faktor terbesar penyebab mereka untuk bermigrasi awalnya adalah faktor
> ekonomi, namun bukan hanya negara negara seperti inggris, belanda dan
> spanyol saja yang merantau, bangsa arab dan cina juga merantau namun
> dengan tujuan yang berbeda, berdagang, sedangkan inggris dari awal
> niatnya memang untuk kolonialisasi, mencari lahan, memperluas wilayah,
> belanda notabene lebih karena ingin mengeruk sumber daya alam,
> demikian juga portugis dan spanyol, kondisi alam lah yang memaksa
> mereka pindah mencari dan mengumpulkan kekayaan baru
>
> On 5/19/10, nayarini estiningsih 
> <[email protected]<nayariniestiningsih%40yahoo.com>>
> wrote:
> > beberapa point:
> >
> > 1) KOLONIALISME jaman Belanda di Indonesia mengeruk kekayaan bumi kita
> > selama 350 tahun, kolonialisme Inggris, Spanyol, Portugis di mana-mana
> > selama berabad-abad. negara maju (rata-rata bangsa kulit putih - diskusi
> ini
> > bukan Rasis ya) dari jaman dahulu kala memang rakus dan serakah (tapi
> apakah
> > ini salah?).
> >
> > 2) pergerakan MIGRASI bangsa kulit putih yg aslinya berasal dari benua
> > Eropa, sekarang sudah mendunia karena mereka berhasil dengan sukses
> > menguasai benua Amerika, mengklaim itu tanah mereka dan mendepak suku
> asli
> > Indian, menguasai benua Australia dan mendepak suku Aborigin, dan
> > sekarang mulai menguasai Afrika (belum mendepak bangsa kulit hitam sih)
> tapi
> > sejarah mencatat yg terjadi di Afrika Selatan jaman aparteit adalah bukti
> > nyata (gara-gara Belanda juga ini mah, hehe). hanya benua Asia saja yg
> > mereka tidak bisa kuasai secara keseluruhan. ya karena jumlah penduduk
> Asia
> > yg notabene paling besar di dunia, China, India, Indonesia, Timur Tengah,
> > sudah terlalu sumpek Asia untuk tujuan migrasi bangsa kulit putih.
> >
> > satu-satunya cara sekarang ya menguasai ekonominya. IMF, World Bank, WTO
> > adalah organisasi yg didesain bangsa kulit putih untuk menguasai ekonomi
> > dunia. semua kemajuan teknologi, komunikasi, ekonomi dll ujung-ujungnya
> > memang berasal dari mereka.
> >
> > ini yg menimbulkan pemikiran, MENGAPA bangsa kulit putih yg BISA
> melakukan
> > semua itu? mengawali penjelajahan di muka bumi dg kolonialisasi sehingga
> > mereka bisa KAYA dan MAJU terlebih dahulu, mengawali revolusi industri yg
> > akhirnya berdampak luas pada kemajuan teknologi (jadi kita bisa diskusi
> > lewat email seperti sekarang ini hehe), mengawali pemikiran-pemikiran
> > strategis yg berdampak luas terhadap kehidupan umat di muka bumi, memulai
> > liberalisasi, kapitalisasi, yg pada akhirnya KITA yg harus mengekor,
> > mengikuti, 'ngintil' di belakang mereka? mengapa KULIT PUTIH selalu
> menjadi
> > pelopor di depan? mengapa bukan orang Cina, Jepang, India, Arab,
> Indonesia
> > yg bisa membuat seluruh dunia mengikuti jejaknya? mengapa DUNIA ini jadi
> > milik/dipimpin oleh kulit putih? apakah mereka lebih pintar? apakah ini
> > faktor genetik?
> >
> > coba bayangkan, jika berabad-abad lalu orang Melayu yg punya ide untuk
> > berlayar menemukan benua lain (misal Eropa), lalu menjajah mereka,
> menguasai
> > tanahnya, mengeruk kekayaannya, membentuk koloni. lalu orang Melayu
> lainnya
> > menemukan ide-ide orisinil macam mesin uap, bola lampu dll yg akhirnya
> > Revolusi Industri bermula dari Tangerang (hehe), lalu kita jual produk
> > industri kita ke seluruh dunia, lalu ada orang Melayu lain yg mempunyai
> ide
> > mendirikan IMF, World Bank, lalu kita suruh bangsa-bangsa lain di dunia
> > tunduk ke kita dan bayar hutang dg bunga tinggi ke kita, lalu kita
> > bermigrasi ke Amerika, Australia, Afrika dan  menguasai Eropa. kenapa
> tidak
> > terpikir itu dari awal, kenapa orang kulit putih yg mengawali?
> >
> > ayo siapa yg bisa jawab?
> >
> >
> >
> >
> > ________________________________
> > From: Hizbullah Arief 
> > <[email protected]<hizbullah.arief%40gmail.com>
> >
> > To: [email protected] <smu1demak%40yahoogroups.com>
> > Sent: Wednesday, May 19, 2010 9:34:19
> > Subject: Re: [SMUN 1 Demak] Fwd: [ekonomi-nasional] Kejamnya Liberalisme
> > Ekonomi
> >
> >
> > iya Esti, masih banyak ketidakadilan bagi negara berkembang dan
> > miskin, susahnya adalah bila pemimpin mereka lebih berpihak pada
> > liberalisasi dan kapitalisasi, tapi itulah sebenarnya bagian dari
> > konspirasi besar untuk membuka pasar dan menguasai aset developing
> > countries, pertanyaannya, sampai dimana keberpihakan penguasa pada
> > rakyat kecil seperti petani?
> >
> > On 5/19/10, nayarini estiningsih 
> > <[email protected]<nayariniestiningsih%40yahoo.com>>
> wrote:
> >> bacaan bagus mas Hizbul, walaupun temanya klasik (karena kita semua
> sudah
> >> tahu dampak negatif globalisasi dan ekonomi liberal hehe), tapi bagus
> >> untuk
> >> menambah wawasan.
> >> mudah-mudahan FAIR TRADE adalah jawaban dari kegelisahan para petani
> >> miskin di seluruh dunia.
> >> mudah-mudahan juga bu Sri Mulyani bisa membawa perubahan dan angin segar
> >> dalam menerapkan kebijakan-kebijakan baru yg menguntungkan negara
> >> berkembang
> >> setelah beliau memulai kiprahnya di World Bank bulan depan. kita rakyat
> >> kecil cuma bisa berdoa :-)
> >>
> >> salam
> >>
> >>
> >> -----------------------
> >>
> >> Kejamnya Liberalisme Ekonomi
> >>
> >> Oleh Dina Sulaeman
> >>
> >> Minggu, 16 Mei 2010
> >>
> >> Pendahuluan: Bunuh Diri Para Petani
> >>
> >> Dalam sidang WTO di Cancun (Meksiko), 9 September 2003, seorang petani
> >> dari
> >> Korea Selatan, Lee Kyung Hae, melakukan aksi bunuh diri di depan gedung
> >> tempat berlangsungnya sidang. Saat itu dia menggunakan pakaian
> bertuliskan
> >> "WTO Membunuh Para Petani". Lee adalah seorang petani padi yang memiliki
> >> lahan luas di Korsel, namun kemudian bangkrut karena negaranya dibanjiri
> >> oleh beras impor yang harganya jauh lebih murah. Lee memperjuangkan
> nasib
> >> petani di negaranya dengan berbagai cara, namun gagal. Sejak Korsel
> >> mematuhi
> >> aturan liberalisasi perdagangan, jumlah petani di negara itu telah
> >> berkurang
> >> setengahnya (dari sekitar 6 juta menjadi sekitar 3 juta petani).
> Padahal,
> >> Korsel adalah negara agraris, persis Indonesia. Perjuangan Lee berakhir
> >> dengan aksi bunuh diri di Cancun.[1]
> >> Di India, pada tanggal 3 September 2009 lebih dari 50 ribu petani dari
> >> berbagai penjuru India berkumpul di New Delhi dengan membawa poster
> >> bertuliskan "WTO keluar dari pertanian". Mereka memrotes Pemerintah
> India
> >> yang tidak melindungi petani lokal. Karena terikat perjanjian WTO, India
> >> hanya bisa melindungi 5 persen dari produk pertaniannya dari pemotongan
> >> tarif. Akibatnya, produk lokal India kalah bersaing dari produk pangan
> >> bersubsidi dari AS dan Uni Eropa.
> >>
> >>
>
>
>  
>

Kirim email ke