Catatan Untuk Film Perempuan Berkalung Sorban

Tulisan
ini disusun sebagai bahan “panduan” dalam tatanan pemikiran bagi siapa
saja yang sudah maupun yang akan menonton film Perempuan Berkalung
Sorban. Beberapa catatan yang saya maksud yaitu : 

1.
Kita harus menerima bahwa film ini memang menggambarkan realita yang
ada di Indonesia mulai dari pemahaman maupun pelaksanaan hukum Islam
serta perdebatan seputarnya sampai tradisi yang dibangun di pesantren
tertentu.

 2.
Film ini sekali lagi menjadi kampaye faham Liberalisme (kebebasan).
Kembali diangkat isu-isu tentang ruang lingkup aktivitas perempuan.
Antara peran domestik perempuan dan hak publiknya (luar rumah). Konsep
pernikahan dimana laki-laki sebagai pemimpin kembali digugat. Melalui
film ini sangat kental propaganda faham kesetaraan gender laki-laki dan
perempuan, sampai hak pengajuan cerai tidak luput mendapatkan sorotan.
Praktek poligami menjadi sasaran selanjutnya. Dengan menggambarkan
praktek yang buruk dari laki-laki yang melaksanakan poligami melalui
film ini kembali diopinikan bahwa dengan poligami perempuanlah yang
menjadi korban. Sebuah kampanye khas aktivis perempuan liberal.
Terakhir adalah gugatan terhadap institusi pesantren yang diopinikan
sebagai sebuah lembaga yang zumud dan melestrarikan keterbelakangan
pemikiran. 

 3.
Kesalahan fatal dari visi film ini adalah mengkritisi fakta pada point
2 diatas dengan kacamata ideologi kebebasan. Film ini sungguh tidak
bisa menjadi alat menilai bahwa ada yang salah dari pemikiran-pemikiran
Islam. Kenapa ? karena sebenarnya khazanah pemikiran Islam yang sudah
ada melalui karya para ulama yang terpercaya sudah menjawab dengan
tuntas persoalan-persoalan yang “dipertanyakan” melalui film ini.
Melalui film ini tidak ada upaya melakukan “studi literatur” terhadap
literatur-literatur ulama yang terpercaya itu. Film ini justru
menjadikan literatul-literatur liberal dan sosialis sebagai acuannya.
Dengan jelas buku-buku Pramoedya Ananta Toer di perlihatkan sebagai
”kitab” yang menjadi jawaban ”kezumudan” pemahaman Islam yang ada. 

 4.
Ditengah isu invasi militer Zionis Yahudi ke kawasan Gaza film ini
menjadi bentuk invasi pada level pemikiran yang kembali dikeluarkan.
Kalau Imam Syafi’i pernah mengharamkan non ulama untuk belajar ilmu
filsafat, sebagai syafiiyah saya juga memberikan warning yang sangat
kuat bagi siapa pun yang menonton film ini, jeratan pemikiran sesat
yang coba diopinikan melalui film ini sangat halus dan bisa membuat
kita tertarik membenarkan jika bangunan pemikiran Islam kita belum
kokoh seperti menjulangnya gunung. 

 5.
Disinilah arti pentingnya kita memiliki kesadaran idelogi Islam. Negeri
ini memang belum dipilih untuk menjadi sasaran invasi militer. Tetapi
sungguh, saat ini kita sudah berada di medan perang pada level
pemikiran. Sahabat.,,. Sungguh telah saya sampaikan peringatan yang
nyata ini. Ya Alloh sudah saya sampaikan, maka saksikanlah. 

copas dari:http:/www.facebook.com/note.php?note_id=51039266970 



      

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

----Hapus qoute yang tidak relevan jika me-reply!----
Arsip milis ada di:
http://www.mail-archive.com/[email protected]/
Situs sekolah ada di:
http://www.smun2-jbg.sch.id | http://www.smadajo.org
Blog tidak resmi ada di:
http://http://smun2jombang.wordpress.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://uk.groups.yahoo.com/group/smu2jombang/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://uk.groups.yahoo.com/group/smu2jombang/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://uk.docs.yahoo.com/info/terms.html

Kirim email ke