blom nonton filmnya dah banyak banget review yang menjelekan....wah jadinya ndak jadi nonton deh...............
On 2/7/09, Bachrul Ulum <[email protected]> wrote: > Setuju mas,... > Film ini melihat dan membentuk opini bahwa pesantren itu jelek, padahal > kenyataannya para Kiyai dan keluarga pesantren itu memiliki pola pendidikan > yg luar biasa. setiap pesantren memiliki gaya mendidik yg berbeda tapi > sangat baik dan efektif. Buktinya? Nggak perlu jauh2, Tebuireng saja, kita > bisa melihat bagaimana Hadrotus Syaikh KH Hasyim Asy'ari menjadikan KH Wahid > Hasyim sedemikian hebatnya, begitu juga KH Wahid Hasyim kepada putra2nya > meskipun berbagai macam latar belakangnya, ada yg jadi dokter, anggota DPR, > Presiden, dll. tapi semuanya masih tetap bisa memegang pesantren. > > Contoh lain di lingkungan saya adalah KH Ghozalie Masrurie yg biasanya dapat > teman2 lihat di televisi pas sidang isbat dalam penetapan 1 syawal. Beliau > adalah ketua Lajnah Falaqiyah PBNU. Putra beliau banyak (kalo nggak salah > 9), tapi semuanya memiliki pengetahuan agama yg sangat bagus dan juga > akademisnya. Caranya? Beliau matangkan agamanya, lalu akademisnya, kemudian > keduanya berjalan bersama2. Jadi pas kuliah, mereka sambil mondok. > > Nah, itu kan contoh bukti bahwa pesantren tidak seperti yg digambarkan di > film Perempuan Berkalung Sorban to? > Itu semua juga sangat bergantung kepada tingkat kecintaan orang tua thdp > ilmu agama. Bagi orangtua yg tidak concern sama ilmu agama ya mungkin akan > setuju dengan pola pikir film itu. atau, banyak orangtua yg akan khawatir > jika anaknya dipondokkan, maka ia akan sulit dalam kehidupan dunianya. > padahal tidak demikian. Sudah banyak pesantren yg memasukkan kurikulum > akademis dalam pondoknya. jadi tetap ia bisa melanjutkan pendidikan di > sekolah/perguruan tinggi umum/negeri. Malahan, ia punya nilai plus, karena > dasar agamanya sudah manteb. > > Selain itu, apakah kita akan memilih untuk memiliki anak yg prestasi > akademisnya baik tapi agama/akhlaknya buruk, ataukah anak yg baik agamanya > dan baik pula akademisnya? Kitalah yg berperan untuk mengarahkan ke sana. > Wallohu a'lam. > > > > > > 2009/2/6 kafi hidonis <[email protected]> > >> Catatan Untuk Film Perempuan Berkalung Sorban >> >> Tulisan >> ini disusun sebagai bahan "panduan" dalam tatanan pemikiran bagi siapa >> saja yang sudah maupun yang akan menonton film Perempuan Berkalung >> Sorban. Beberapa catatan yang saya maksud yaitu : >> >> 1. >> Kita harus menerima bahwa film ini memang menggambarkan realita yang >> ada di Indonesia mulai dari pemahaman maupun pelaksanaan hukum Islam >> serta perdebatan seputarnya sampai tradisi yang dibangun di pesantren >> tertentu. >> >> 2. >> Film ini sekali lagi menjadi kampaye faham Liberalisme (kebebasan). >> Kembali diangkat isu-isu tentang ruang lingkup aktivitas perempuan. >> Antara peran domestik perempuan dan hak publiknya (luar rumah). Konsep >> pernikahan dimana laki-laki sebagai pemimpin kembali digugat. Melalui >> film ini sangat kental propaganda faham kesetaraan gender laki-laki dan >> perempuan, sampai hak pengajuan cerai tidak luput mendapatkan sorotan. >> Praktek poligami menjadi sasaran selanjutnya. Dengan menggambarkan >> praktek yang buruk dari laki-laki yang melaksanakan poligami melalui >> film ini kembali diopinikan bahwa dengan poligami perempuanlah yang >> menjadi korban. Sebuah kampanye khas aktivis perempuan liberal. >> Terakhir adalah gugatan terhadap institusi pesantren yang diopinikan >> sebagai sebuah lembaga yang zumud dan melestrarikan keterbelakangan >> pemikiran. >> >> 3. >> Kesalahan fatal dari visi film ini adalah mengkritisi fakta pada point >> 2 diatas dengan kacamata ideologi kebebasan. Film ini sungguh tidak >> bisa menjadi alat menilai bahwa ada yang salah dari pemikiran-pemikiran >> Islam. Kenapa ? karena sebenarnya khazanah pemikiran Islam yang sudah >> ada melalui karya para ulama yang terpercaya sudah menjawab dengan >> tuntas persoalan-persoalan yang "dipertanyakan" melalui film ini. >> Melalui film ini tidak ada upaya melakukan "studi literatur" terhadap >> literatur-literatur ulama yang terpercaya itu. Film ini justru >> menjadikan literatul-literatur liberal dan sosialis sebagai acuannya. >> Dengan jelas buku-buku Pramoedya Ananta Toer di perlihatkan sebagai >> "kitab" yang menjadi jawaban "kezumudan" pemahaman Islam yang ada. >> >> 4. >> Ditengah isu invasi militer Zionis Yahudi ke kawasan Gaza film ini >> menjadi bentuk invasi pada level pemikiran yang kembali dikeluarkan. >> Kalau Imam Syafi'i pernah mengharamkan non ulama untuk belajar ilmu >> filsafat, sebagai syafiiyah saya juga memberikan warning yang sangat >> kuat bagi siapa pun yang menonton film ini, jeratan pemikiran sesat >> yang coba diopinikan melalui film ini sangat halus dan bisa membuat >> kita tertarik membenarkan jika bangunan pemikiran Islam kita belum >> kokoh seperti menjulangnya gunung. >> >> 5. >> Disinilah arti pentingnya kita memiliki kesadaran idelogi Islam. Negeri >> ini memang belum dipilih untuk menjadi sasaran invasi militer. Tetapi >> sungguh, saat ini kita sudah berada di medan perang pada level >> pemikiran. Sahabat.,,. Sungguh telah saya sampaikan peringatan yang >> nyata ini. Ya Alloh sudah saya sampaikan, maka saksikanlah. >> >> copas dari:http:/www.facebook.com/note.php?note_id=51039266970 >> >> >> >> >> >> [Non-text portions of this message have been removed] >> >> >> >> ------------------------------------ >> >> ----Hapus qoute yang tidak relevan jika me-reply!---- >> Arsip milis ada di: >> http://www.mail-archive.com/[email protected]/ >> Situs sekolah ada di: >> http://www.smun2-jbg.sch.id | http://www.smadajo.org >> Blog tidak resmi ada di: >> http://http://smun2jombang.wordpress.com/Yahoo! Groups Links >> >> >> >> > > > [Non-text portions of this message have been removed] > >
