Setuju mas,...
Film ini melihat dan membentuk opini bahwa pesantren itu jelek, padahal
kenyataannya para Kiyai dan keluarga pesantren itu memiliki pola pendidikan
yg luar biasa. setiap pesantren memiliki gaya mendidik yg berbeda tapi
sangat baik dan efektif. Buktinya? Nggak perlu jauh2, Tebuireng saja, kita
bisa melihat bagaimana Hadrotus Syaikh KH Hasyim Asy'ari menjadikan KH Wahid
Hasyim sedemikian hebatnya, begitu juga KH Wahid Hasyim kepada putra2nya
meskipun berbagai macam latar belakangnya, ada yg jadi dokter, anggota DPR,
Presiden, dll. tapi semuanya masih tetap bisa memegang pesantren.

Contoh lain di lingkungan saya adalah KH Ghozalie Masrurie yg biasanya dapat
teman2 lihat di televisi pas sidang isbat dalam penetapan 1 syawal. Beliau
adalah ketua Lajnah Falaqiyah PBNU. Putra beliau banyak (kalo nggak salah
9), tapi semuanya memiliki pengetahuan agama yg sangat bagus dan juga
akademisnya. Caranya? Beliau matangkan agamanya, lalu akademisnya, kemudian
keduanya berjalan bersama2. Jadi pas kuliah, mereka sambil mondok.

Nah, itu kan contoh bukti bahwa pesantren tidak seperti yg digambarkan di
film Perempuan Berkalung Sorban to?
Itu semua juga sangat bergantung kepada tingkat kecintaan orang tua thdp
ilmu agama. Bagi orangtua yg tidak concern sama ilmu agama ya mungkin akan
setuju dengan pola pikir film itu. atau, banyak orangtua yg akan khawatir
jika anaknya dipondokkan, maka ia akan sulit dalam kehidupan dunianya.
padahal tidak demikian. Sudah banyak pesantren yg memasukkan kurikulum
akademis dalam pondoknya. jadi tetap ia bisa melanjutkan pendidikan di
sekolah/perguruan tinggi umum/negeri. Malahan, ia punya nilai plus, karena
dasar agamanya sudah manteb.

Selain itu, apakah kita akan memilih untuk  memiliki anak yg prestasi
akademisnya baik tapi agama/akhlaknya buruk, ataukah anak yg baik agamanya
dan baik pula akademisnya? Kitalah yg berperan untuk mengarahkan ke sana.
Wallohu a'lam.





2009/2/6 kafi hidonis <[email protected]>

> Catatan Untuk Film Perempuan Berkalung Sorban
>
> Tulisan
> ini disusun sebagai bahan "panduan" dalam tatanan pemikiran bagi siapa
> saja yang sudah maupun yang akan menonton film Perempuan Berkalung
> Sorban. Beberapa catatan yang saya maksud yaitu :
>
> 1.
> Kita harus menerima bahwa film ini memang menggambarkan realita yang
> ada di Indonesia mulai dari pemahaman maupun pelaksanaan hukum Islam
> serta perdebatan seputarnya sampai tradisi yang dibangun di pesantren
> tertentu.
>
>  2.
> Film ini sekali lagi menjadi kampaye faham Liberalisme (kebebasan).
> Kembali diangkat isu-isu tentang ruang lingkup aktivitas perempuan.
> Antara peran domestik perempuan dan hak publiknya (luar rumah). Konsep
> pernikahan dimana laki-laki sebagai pemimpin kembali digugat. Melalui
> film ini sangat kental propaganda faham kesetaraan gender laki-laki dan
> perempuan, sampai hak pengajuan cerai tidak luput mendapatkan sorotan.
> Praktek poligami menjadi sasaran selanjutnya. Dengan menggambarkan
> praktek yang buruk dari laki-laki yang melaksanakan poligami melalui
> film ini kembali diopinikan bahwa dengan poligami perempuanlah yang
> menjadi korban. Sebuah kampanye khas aktivis perempuan liberal.
> Terakhir adalah gugatan terhadap institusi pesantren yang diopinikan
> sebagai sebuah lembaga yang zumud dan melestrarikan keterbelakangan
> pemikiran.
>
>  3.
> Kesalahan fatal dari visi film ini adalah mengkritisi fakta pada point
> 2 diatas dengan kacamata ideologi kebebasan. Film ini sungguh tidak
> bisa menjadi alat menilai bahwa ada yang salah dari pemikiran-pemikiran
> Islam. Kenapa ? karena sebenarnya khazanah pemikiran Islam yang sudah
> ada melalui karya para ulama yang terpercaya sudah menjawab dengan
> tuntas persoalan-persoalan yang "dipertanyakan" melalui film ini.
> Melalui film ini tidak ada upaya melakukan "studi literatur" terhadap
> literatur-literatur ulama yang terpercaya itu. Film ini justru
> menjadikan literatul-literatur liberal dan sosialis sebagai acuannya.
> Dengan jelas buku-buku Pramoedya Ananta Toer di perlihatkan sebagai
> "kitab" yang menjadi jawaban "kezumudan" pemahaman Islam yang ada.
>
>  4.
> Ditengah isu invasi militer Zionis Yahudi ke kawasan Gaza film ini
> menjadi bentuk invasi pada level pemikiran yang kembali dikeluarkan.
> Kalau Imam Syafi'i pernah mengharamkan non ulama untuk belajar ilmu
> filsafat, sebagai syafiiyah saya juga memberikan warning yang sangat
> kuat bagi siapa pun yang menonton film ini, jeratan pemikiran sesat
> yang coba diopinikan melalui film ini sangat halus dan bisa membuat
> kita tertarik membenarkan jika bangunan pemikiran Islam kita belum
> kokoh seperti menjulangnya gunung.
>
>  5.
> Disinilah arti pentingnya kita memiliki kesadaran idelogi Islam. Negeri
> ini memang belum dipilih untuk menjadi sasaran invasi militer. Tetapi
> sungguh, saat ini kita sudah berada di medan perang pada level
> pemikiran. Sahabat.,,. Sungguh telah saya sampaikan peringatan yang
> nyata ini. Ya Alloh sudah saya sampaikan, maka saksikanlah.
>
> copas dari:http:/www.facebook.com/note.php?note_id=51039266970
>
>
>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
> ------------------------------------
>
> ----Hapus qoute yang tidak relevan jika me-reply!----
> Arsip milis ada di:
> http://www.mail-archive.com/[email protected]/
> Situs sekolah ada di:
> http://www.smun2-jbg.sch.id | http://www.smadajo.org
> Blog tidak resmi ada di:
> http://http://smun2jombang.wordpress.com/Yahoo! Groups Links
>
>
>
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke