wa'alaykum salam wr.wb

hmm..kalau dikritik aku masih suka, tapi kalau dituduh itu yg aku nda
suka..:)apalagi dipaksa untuk mengakui yg bukan perbuatanku, ini yg
paling aku kesel. hmm..aku terbiasa mendatangi guruku dan meminta
beliau untuk mengkritikku dan memarahiku, yg kira2 kesalahanku apa aja
yg terlihat olehnya dan tidak terlihat olehku untuk dimunculkan aja.
kadang beliau bilang.."kamu itu aneh..sukanya minta dimarahin, kenapa
kamu minta saya yg kritik dan buka semua kesalahanmu.." hehehe

ya..karena hanya bapak yg bisa bicara apa adanya dan nda pernah
melihat gimana perasaanku pada saat menerima semua omongan bapak:)
dari rasa sakit itu bisa aku ambil hikmah dan pelajaran.

hmm..aku terbiasa diajarkan untuk menerima kritik, asalkan..kritik itu
 disertai argumentasi yg kuat dan bukan mengada2. kalau aku melihat
hanya mengada2, biasanya aku lakukan dengan 2 cara yaitu meladeni
kritikan orang dengan argumenku dengan niat untuk mencari kesimpulan
dan ilmu or sekedar iseng bercanda, or membiarkan aja, kalau aku rasa
nda akan nyambung bicaranya bila diteruskan dan hanya akan buang2
waktu aja..:)

hmm..dulu waktu remaja, kalau aku dituduh oleh seseorang dan aku
merasa apa yg dituduhkannya itu merugikan diriku, biasanya aku akan
mendatangi orang itu dan meminta dia mencabut tuduhannya itu dan
mengkonfirmasikan ulang kepada semua orang yg sudah menerima omongannya. 

tapi sekarang..aku cuek aja..penilaian atas sikapku bukan untuk orang,
tapi untuk Allah. apapun yg kita kerjakan, biasanya selalu aja salah
dimata orang yg tidak sepaham dengan kita, tapi dimata Allah itu,
selama niat itu baik dan tidak merugikan orang lain, rasanya..insya
Allah aku akan selalu baik sangka padaNya..

kalau menurutku, orang jadi kuat itu karena banyaknya ujian dan cobaan
yg menimpanya, dan banyaknya kritik dan tuduhan yg dilemparkan
kepadanya, hingga orang itu mampu untuk memilah2 mana yg perlu
diperhatikan dan mana yg harus diabaikan..


salam
hana




--- In [email protected], Bango Samparan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Assalaamu'alaikum wr. wb.
> 
> Pernah satu saat, ketika Dale Carnigie sudah top, sekretarisnya yang
> masih baru melakukan kesalahan. Carnigie marah bukan main, ingin
> rasanya ia habis-habisan memarahi dan menunjukkan kesalahan si
> sekretaris. Tapi akhirnya semua keinginan itu dibatalkan oleh Carnigie,
> ia ingat bahwa dulu ketika ia memulai ia juga banyak melakukan
> kesalahan. Si sekretaris akhirnya malah dipuji oleh Carnigie, "Aku
> menyukai pekerjaan kamu, dan aku berharap kamu bisa menjadi lebih baik
> lagi." 
> 
> Ya begitulah, kita yang mengaku aktivis Islam seringkali lupa, bahwa
> kita dulu juga berproses dengan banyak kesalahan, sehingga kita bisa
> sampai pada kondisi yang saat ini. Karena lupa, akhirnya kerja kita
> adalah menghakimi orang lain - baik yang terdahulu atau sekarang - yang
> tidak seperti kita. Padahal, apa sih yang telah kita sumbangkan untuk
> izzul islam wal muslimin, lebih baikkah dibanding oleh orang lain yang
> sedang kita hakimi? Kalau lebih baik, syukur; tetapi jangan-jangan
> penghakiman kita akan membangkrutkan amal baik kita di timbangan Allah
> nantinya. Kalau tidak, betapa malunya kita nanti di hadapan Allah,
> bahwa orang yang kita hakimi ternyata kedudukannya lebih mulia dari
> kita.
> 
> Jujur saja, anda suka dikritik? Kalau saya tidak! Terus terang, saya
> bukan orang yang cukup optimis untuk menyatakan telah memiliki
> kebesaran jiwa untuk menerima kritik:-)
> 
> Wassalaamu'alaikum wr. wb.
> B. Samparan
> 
> --- suhana032003 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> > wa'alaikum salam wr.wb
> > 
> > hmm..aku jadi ingat omongan guruku, yaitu "perbesar semua kesalahan
> > kamu walau sekecil apapun juga dan anggap semua kebaikan yg sudah
> > kamu
> 
> 
> 
> 
> 
>        
>
____________________________________________________________________________________Pinpoint
customers who are looking for what you sell. 
> http://searchmarketing.yahoo.com/
>


Kirim email ke