sedikit pengalaman....0pribadi
3 thn yg lalu dalam acara seminar yg di prakarsai oleh USAID-AMARTA di hotel 
sibayak, terjadi dialog kami dengan salah seorang Dirjen dari Deptan yang 
menangani benih / bibit. Pada waktu itu kami menanyakan kemungkinan pencabutan 
larangan import bibit kentang dari Belanda. Jawaban beliau : " pemerintah sudah 
menetapkan untuk menggalakkan pemakaian bibit dalam negeri yg katanya sudah 
sangat baik", Kami tanyakan dimana kami dapat membeli bibit kentang yg 
bersertifikat.... beliau menjawab gak usah jauh jauh lah ada di kutagadung 
(loka pembibitan milik Deptan)...Sewaktu kami kesana... ternyata sebutir bibit 
kentang pun ga ada....
Yah begitulah... jangan jangan dana sudah dialokasikan, dan lporan sangat 
mantap.... tapi kenyataan jauh panggang dari api....jadilah kami hanya 
menggantang asap...
Mudah mudahan sekarang sudah lebih mantap.... karena sejak saat itu kami tidak 
berminat lagi kesana.....mendingan cari sendiri ke pengalengan.....

--- Pada Rab, 31/3/10, shodan purba <[email protected]> menulis:

Dari: shodan purba <[email protected]>
Judul: Re: [tanahkaro] Re: (CAP-CAI) Tekhnologi akan ulangi kejayaan pertanian 
Karo
Kepada: [email protected], "Kom Karo" <[email protected]>, 
[email protected]
Tanggal: Rabu, 31 Maret, 2010, 11:54 PM







 



  


    
      
      
      MJJ:
Salah satu fokus dari pengembangan pertanian seperti di dataran tinggi Karo 
adalah "Strategi Cap-Cai", aneka-tanam, mix-farming, mau sebut apa saja, tetapi 
tidak harus tumpang sari. Di era 70-an 'erjuma cap-cai' sudah diadopsi oleh 
petani di sekitar Gongsol, Kampung Merdeka (d/h Keling) di balik Gundaling 
Berastagi, untuk menghindari resiko fluktuasi harga. Ada keterbatasan lahan di 
perparah dengan keausan lahan dan tentunya fluktuasi harga serta faktor cepat 
rusak atau perishability komoditas pertanian. Small is beautiful.  Selain 
resiko kejatuhan harga yang terkendali, petani yang mengikuti akan dapat 
mendistribusikan waktu kerja mereka dengan baik sepanjang tahun. Arus kas juga 
menjadi lebih stabil. Pilihan komoditas di sekitar Berastagi
 cukup beragam. Berbagai seledri, (sop ruah, sop daun), Peleng, Wartel, Lobak, 
Tang-ho, Arcis, Cina Renceng, Parsley, Prei dan lain sebagainya.  Dengan 
strategi seperti ini, bila dengan sengaja di-fasilitasi,  
siapapun yang 'merasa' menjadi penanggung jawab kejatuhan telak harga, 
dapat menyatakan kepada yang mengeluh: emaka
 ola kena erpasang, nake! 

Tadi malam masuk ke "Toko Buah & Sayur Segar" tertegun melihat sudah ada 
"Bawang Prei" (bukan daun bawang/son ex Puncak) yang disebut "Bawang Son", ex 
China!!! Puluhan tahun bawang prei ex dataran tinggi Karo menjadi primadona 
'high-valued vegetables' di Singapore dan Malaysia. Jadi teringat bagaimana 
seorang Tauke di Pasir Panjang Wholesale market di Singapura menunjukkan 
bagaimana mengetahui bawang prei ex Doulu dan Raja Berneh  dengan yang dari 
sekitar Gongsol dan Keling. Beliau patahkan daunnya dan ada yang patah, yang 
lebih disukai, dan ada yang lebih liat. Sayang sekali, praktis sama sekali 
tidak ada upaya fasilitator yang berhasil untuk mempertahankan keunggulan yang 
sudah ada! Walau sudah dibantu lembaga asing (FES denga PASMAKOP-nya) 
mempertahankan kualitas atau regenerasi bibit (diambil anaknya, seperti
 pisang) tidak dapat dilakukan. Sekarang ini permasalahan bibit sudah semakin 
parah.  Saya dengar ada "embargo" bibit yang dilakukan oleh petani daerah 
Gongsol dan Keling bagi petani di sekitar Peceren, Lau Gendek dan sekitar Aji 
Si Empat. Adakah perhatian dari lembaga seperti BPP untuk mengatasi 
permasalahan sejenis ini? Mbera-mbera.   

Sentabi,
Bp Nona Sampaguita
From: gintingmu <gintin...@yahoo. se>
To: tanahk...@yahoogrou ps.com
Sent: Thu, April 1, 2010 3:26:32 AM
Subject: [tanahkaro]
 Re: Tekhnologi akan ulangi kejayaan pertanian Karo









 



    
      
      
      Kelihatannya gedungnya sangat dipentingkan dan dibanggakan, 

th 70-80 an pertanian Karo termasuk bagus tanpa peresmian gedung BPP.

Sekiranya peningkatam gedung BPP bisa sejajar dengan peningkatan

atau dengan kemerosotan pertanian Karo sekarang . . .  

MUG



--- In tanahk...@yahoogrou ps.com, Alexander Firdaust <daustcoker@ ...> wrote:

Untuk mengulangi zaman keemasan produk pertanian Karo seperti dekade 70 hingga 
80-an, pola pertanian di Karo harus diubah. Salah satunya dengan penerapan 
sistem pola teknologi pertanian, khususnya menghadapi pasar global seperti saat 
ini. 



“Pemanfaatan Balai Penyuluh Pertanian (BPP) merupakan salah satu sarana untuk 
mendukung penerapan sistem pola tekhnologi pertanian,” ujar bupati Karo, Daulat 
Daniel Sinulingga pada peresmian sembilan Gedung BPP di Karo, di desa Melas 
kecamatan Dolat Rayat, malam ini. 



Dikatakannya, dari 212.725 ha luas daerah tersebut, 129.222 ha diantaranya atau 
mencapai 60 persen merupakan terdiri dari areal pertanian, diantaranya jenis 
tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan dan perikanan.  



“Hal tersebut didukung pula dengan iklim dan kondisi tanah yang cukup subur. 
Kenyataan ini membuat sekitar 75 persen masyarakat Karo menggantungkan hidupnya 
di sektor pertanian,” ujarnya. 



Bupati menambahkan, pada era 70 hingga 80-an, ekspor komoditi pertanian dari 
Karo merupakan yang terunggul dari daerah lain di Sumatera Utara. Pada masa 
itu, 75 persen dari total ekspor komoditi  pertanian Sumut berasal dari 
kabupaten Karo. 



Bila dibandingkan dengan saat ini, imbuhnya, kondisi pertanian Karo cukup 
memprihatinkan. Karo hanya mampu menyumbang 10 persen, itu pun digabung dengan 
daerah lain seperti Simalungun, Dairi, Taput dan daerah lainnya. 



“Oleh karenanya pola pertanian di Karo memerlukan pembenahan untuk mengejar 
ketinggalan, yaitu dengan banyak belajar dan menggali pengalaman dari berbagai 
sumber tekhnologi,” pungkas Bupati. 



Bupati Karo meresmikan sembilan Gedung BPP yang tersebar di beberapa kecamatan 
melalui dana APBN dan Dana DAK pada 2009 lalu, yaitu, kecamatan Kabanjahe, 
Dolat Rayat, Naman Teran, Merdeka, Kutabuluh, Barusjahe, Merek, Tigabinanga dan 
BPP kecamatan Juhar. 



Sementara, BPP yang sudah tersedia sebelumnya adalah BPP Kutagadung kecamatan 
Berastagi, Tigapanah, Simpang Empat, Tiganderket, Munte dan BPP Kecamatan 
Laubaleng. Khusus untuk dua kecamatan, yakni Mardinding dan Payung, belum 
memiliki gedung BPP.



Sumber: http://www.waspada. co.id/index. php?option= com_content& view=article& 
id=101542: tekhnologi- akan-ulangi- kejayaan- pertanian- karo-&catid= 15:sumut& 
Itemid=28



Salam Mejuah Juah



Karo Cyber Community





    
     








      

    
     

    
    


 



  






      Lebih aman saat online. Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih 
cepat yang dioptimalkan untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis. 
Dapatkan IE8 di sini! 
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer/

Kirim email ke