MJJ:
Salah satu fokus dari pengembangan pertanian seperti di dataran tinggi Karo 
adalah "Strategi Cap-Cai", aneka-tanam, mix-farming, mau sebut apa saja, tetapi 
tidak harus tumpang sari. Di era 70-an 'erjuma cap-cai' sudah diadopsi oleh 
petani di sekitar Gongsol, Kampung Merdeka (d/h Keling) di balik Gundaling 
Berastagi, untuk menghindari resiko fluktuasi harga. Ada keterbatasan lahan di 
perparah dengan keausan lahan dan tentunya fluktuasi harga serta faktor cepat 
rusak atau perishability komoditas pertanian. Small is beautiful. Selain resiko 
kejatuhan harga yang terkendali, petani yang mengikuti akan dapat 
mendistribusikan waktu kerja mereka dengan baik sepanjang tahun. Arus kas juga 
menjadi lebih stabil. Pilihan komoditas di sekitar Berastagi cukup beragam. 
Berbagai seledri, (sop ruah, sop daun), Peleng, Wartel, Lobak, Tang-ho, Arcis, 
Cina Renceng, Parsley, Prei dan lain sebagainya.  Dengan strategi seperti ini, 
bila dengan sengaja di-fasilitasi,  
siapapun yang 'merasa' menjadi penanggung jawab kejatuhan telak harga, 
dapat menyatakan kepada yang mengeluh: emaka ola kena erpasang, nake! 


Tadi malam masuk ke "Toko Buah & Sayur Segar" tertegun melihat sudah ada 
"Bawang Prei" (bukan daun bawang/son ex Puncak) yang disebut "Bawang Son", ex 
China!!! Puluhan tahun bawang prei ex dataran tinggi Karo menjadi primadona 
'high-valued vegetables' di Singapore dan Malaysia. Jadi teringat bagaimana 
seorang Tauke di Pasir Panjang Wholesale market di Singapura menunjukkan 
bagaimana mengetahui bawang prei ex Doulu dan Raja Berneh  dengan yang dari 
sekitar Gongsol dan Keling. Beliau patahkan daunnya dan ada yang patah, yang 
lebih disukai, dan ada yang lebih liat. Sayang sekali, praktis sama sekali 
tidak ada upaya fasilitator yang berhasil untuk mempertahankan keunggulan yang 
sudah ada! Walau sudah dibantu lembaga asing (FES denga PASMAKOP-nya) 
mempertahankan kualitas atau regenerasi bibit (diambil anaknya, seperti pisang) 
tidak dapat dilakukan. Sekarang ini permasalahan bibit sudah semakin parah.  
Saya dengar ada "embargo" bibit yang dilakukan oleh petani
 daerah Gongsol dan Keling bagi petani di sekitar Peceren, Lau Gendek dan 
sekitar Aji Si Empat. Adakah perhatian dari lembaga seperti BPP untuk mengatasi 
permasalahan sejenis ini? Mbera-mbera.   

Sentabi,
Bp Nona Sampaguita


________________________________
From: gintingmu <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Thu, April 1, 2010 3:26:32 AM
Subject: [tanahkaro] Re: Tekhnologi akan ulangi kejayaan pertanian Karo

  
Kelihatannya gedungnya sangat dipentingkan dan dibanggakan, 
th 70-80 an pertanian Karo termasuk bagus tanpa peresmian gedung BPP.
Sekiranya peningkatam gedung BPP bisa sejajar dengan peningkatan
atau dengan kemerosotan pertanian Karo sekarang . . . 
MUG

--- In tanahk...@yahoogrou ps.com, Alexander Firdaust <daustcoker@ ...> wrote:
Untuk mengulangi zaman keemasan produk pertanian Karo seperti dekade 70 hingga 
80-an, pola pertanian di Karo harus diubah. Salah satunya dengan penerapan 
sistem pola teknologi pertanian, khususnya menghadapi pasar global seperti saat 
ini. 

“Pemanfaatan Balai Penyuluh Pertanian (BPP) merupakan salah satu sarana untuk 
mendukung penerapan sistem pola tekhnologi pertanian,” ujar bupati Karo, Daulat 
Daniel Sinulingga pada peresmian sembilan Gedung BPP di Karo, di desa Melas 
kecamatan Dolat Rayat, malam ini. 

Dikatakannya, dari 212.725 ha luas daerah tersebut, 129.222 ha diantaranya atau 
mencapai 60 persen merupakan terdiri dari areal pertanian, diantaranya jenis 
tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan dan perikanan. 

“Hal tersebut didukung pula dengan iklim dan kondisi tanah yang cukup subur. 
Kenyataan ini membuat sekitar 75 persen masyarakat Karo menggantungkan hidupnya 
di sektor pertanian,” ujarnya. 

Bupati menambahkan, pada era 70 hingga 80-an, ekspor komoditi pertanian dari 
Karo merupakan yang terunggul dari daerah lain di Sumatera Utara. Pada masa 
itu, 75 persen dari total ekspor komoditi  pertanian Sumut berasal dari 
kabupaten Karo. 

Bila dibandingkan dengan saat ini, imbuhnya, kondisi pertanian Karo cukup 
memprihatinkan. Karo hanya mampu menyumbang 10 persen, itu pun digabung dengan 
daerah lain seperti Simalungun, Dairi, Taput dan daerah lainnya. 

“Oleh karenanya pola pertanian di Karo memerlukan pembenahan untuk mengejar 
ketinggalan, yaitu dengan banyak belajar dan menggali pengalaman dari berbagai 
sumber tekhnologi,” pungkas Bupati. 

Bupati Karo meresmikan sembilan Gedung BPP yang tersebar di beberapa kecamatan 
melalui dana APBN dan Dana DAK pada 2009 lalu, yaitu, kecamatan Kabanjahe, 
Dolat Rayat, Naman Teran, Merdeka, Kutabuluh, Barusjahe, Merek, Tigabinanga dan 
BPP kecamatan Juhar. 

Sementara, BPP yang sudah tersedia sebelumnya adalah BPP Kutagadung kecamatan 
Berastagi, Tigapanah, Simpang Empat, Tiganderket, Munte dan BPP Kecamatan 
Laubaleng. Khusus untuk dua kecamatan, yakni Mardinding dan Payung, belum 
memiliki gedung BPP.

Sumber: http://www.waspada. co.id/index. php?option= com_content& view=article& 
id=101542: tekhnologi- akan-ulangi- kejayaan- pertanian- karo-&catid= 15:sumut& 
Itemid=28

Salam Mejuah Juah

Karo Cyber Community


 


      

Kirim email ke