Di Indonesia termasuk sumatra , kemajuan memang dirasakan sejak pada era 1970an. Sebenarnya bukan karena kemajuan itu sendiri tetapi karena era 1940-1960an merupakan era dengan kesejahteraan yang relatif rendah di Indonesia.
Masyrakat Indonesia lumayan sejahtera pada 1930an , lalu mendadak sangat miskin pada era 1940an akibat penjajahan Jepang. Setelah merdeka dan berdaulat penuh tahun 1950an juga tidak berarti kesejehtaraan membaik. Bahkan era 1930an lebih baik secara relatif dibanding era 1950an. Masuk 1960an gitu lagi , tidak ada peningkatan kesejahteraan. Lalu pelan2 orba masuk dan "kesejahteraan" melonjak drastis sejak era 1970an terutama sejak booming oil dunia..kesejahteraan tersebut kian naik di era 80an dan puncaknya pada 1990an........kalau sekarang dari daya beli dan indeks kesejahteraan kt balik lagi ke era 1960an... carlos --- In [email protected], "gintingmu" <gintin...@...> wrote: > > Kelihatannya gedungnya sangat dipentingkan dan dibanggakan, > th 70-80 an pertanian Karo termasuk bagus tanpa peresmian gedung BPP. > Sekiranya peningkatam gedung BPP bisa sejajar dengan peningkatan > atau dengan kemerosotan pertanian Karo sekarang . . . > MUG > > --- In [email protected], Alexander Firdaust <daustcoker@> wrote: > Untuk mengulangi zaman keemasan produk pertanian Karo seperti dekade 70 > hingga 80-an, pola pertanian di Karo harus diubah. Salah satunya dengan > penerapan sistem pola teknologi pertanian, khususnya menghadapi pasar global > seperti saat ini. > > âPemanfaatan Balai Penyuluh Pertanian (BPP) merupakan salah satu sarana > untuk mendukung penerapan sistem pola tekhnologi pertanian,â ujar bupati > Karo, Daulat Daniel Sinulingga pada peresmian sembilan Gedung BPP di Karo, di > desa Melas kecamatan Dolat Rayat, malam ini. > > Dikatakannya, dari 212.725 ha luas daerah tersebut, 129.222 ha diantaranya > atau mencapai 60 persen merupakan terdiri dari areal pertanian, diantaranya > jenis tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan dan perikanan. > > âHal tersebut didukung pula dengan iklim dan kondisi tanah yang cukup > subur. Kenyataan ini membuat sekitar 75 persen masyarakat Karo menggantungkan > hidupnya di sektor pertanian,â ujarnya. > > Bupati menambahkan, pada era 70 hingga 80-an, ekspor komoditi pertanian dari > Karo merupakan yang terunggul dari daerah lain di Sumatera Utara. Pada masa > itu, 75 persen dari total ekspor komoditi pertanian Sumut berasal dari > kabupaten Karo. > > Bila dibandingkan dengan saat ini, imbuhnya, kondisi pertanian Karo cukup > memprihatinkan. Karo hanya mampu menyumbang 10 persen, itu pun digabung > dengan daerah lain seperti Simalungun, Dairi, Taput dan daerah lainnya. > > âOleh karenanya pola pertanian di Karo memerlukan pembenahan untuk mengejar > ketinggalan, yaitu dengan banyak belajar dan menggali pengalaman dari > berbagai sumber tekhnologi,â pungkas Bupati. > > Bupati Karo meresmikan sembilan Gedung BPP yang tersebar di beberapa > kecamatan melalui dana APBN dan Dana DAK pada 2009 lalu, yaitu, kecamatan > Kabanjahe, Dolat Rayat, Naman Teran, Merdeka, Kutabuluh, Barusjahe, Merek, > Tigabinanga dan BPP kecamatan Juhar. > > Sementara, BPP yang sudah tersedia sebelumnya adalah BPP Kutagadung kecamatan > Berastagi, Tigapanah, Simpang Empat, Tiganderket, Munte dan BPP Kecamatan > Laubaleng. Khusus untuk dua kecamatan, yakni Mardinding dan Payung, belum > memiliki gedung BPP. > > Sumber: > http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=101542:tekhnologi-akan-ulangi-kejayaan-pertanian-karo-&catid=15:sumut&Itemid=28 > > Salam Mejuah Juah > > Karo Cyber Community >
