Bismillahir Rahmaanir Rahiem.
Assalamu'alaikum wr. wb.

Saya sekedar ingin urun rembug di wadah yang saya cintai ini.

Pernah suatu saat saya tanyakan kepada seseorang keistimewaan yang ada pada
wali. Beliau menjawab "  Keistimewaan seperti itu hak Allah untuk memberi.
Sayapun kalau dipukul kena dan sakit.  Itu SUNNATULLAH.  Saya tidak pernah ikut
tenaga dalam.  Tapi kalau saya memohon untuk membanting manusia dari jauh dan
Allah memperkenankan, kan pasti terjadi"

Sunnatullah, itulah yang saya tangkap dari pembicaraan kami.  Sebab-akibat yang
terjadi didunia ini ialah sunnatullah.  Durian yang jatuh kebawah, Manusia yang
jika tertabrak cedera dan kakinya patah, dan contoh lainnya (Jika tidak ingin
flu jangan dekat-dekat orang yang kena flu...:-)  ) itu insya Allah juga
termasuk sunnatullah.

Dalam perenungan saya, saya tahu Allah lebih tahu apa yang terbaik buat kita.
Allah Maha Tahu dan Maha Adil.  Kita orang muslim, insya Allah, bukanlah orang
yang oleh Allah dibiarkan dalam kerusakan berlarut-larut.  Jika orang kafir
dibiarkan oleh Allah dengan segala usaha dan hasil yang mereka dapatkan,
sehingga timbul dihati mereka akan ke-aku-an mereka, dengan segala penyakit hati
yang mungkin timbul.  Dan ketika mereka begitu tinggi kedudukan mereka di dunia
mereka, dengan segala perencanaan dan persiapan yang matang, dan Allah
ditunjukkan kekuasaan-Nya, dan mereka tetap tidak bisa melihat kekuasaan Allah
diatas kegagalan mereka.

Mungkin oleh Allah ditetapkan dalam suatu masalah atas apapun jalan yang kita
pilih, mungkin seperti jika kita mau ke Jawa Tengah dari Jakarta.  Maka kita
dibawa ke pilihan naik apa, jam berapa, kapan, lewat mana ?  Akan tetapi
ternyata saya pernah berdo'a "wa afiatan fil jasad.." dan itu didengar oleh
Allah, maka diberiNya saya sakit, yang sakit itu belum seberapa sakitnya bila
saya sakit ketika berada di Jawa Tengah.  Dan saya pernah berdoa "wa ziadatan fi
ilmi" maka dalam sakit saya, saya bisa membaca-baca buku tasawuf, yang ternyata
meningkatkan pengetahuan saya atas Allah.

Maka sekarang jika saya mengalami sesuatu yang tidak saya inginkan, sedang saya
sudah berusaha keras dengan perencanaan yang matang, dan saya sudah sholat hajat
untuk keberhasilan hajat saya tersebut,  maka yang tertinggal atas saya adalah
memperbesar sabar saya dan saya tinggal mengambil hikmahnya.  Segala sesuatu ada
hikmahnya.  Dan jika sudah bisa mengambil hikmah tersebut, sungguh berbahagialah
kita jika tahu bahwa Allah masih memperhatikan kita.

Segala kesalahan dari saya lah sumbernya, sedang kebenaran dan kesempurnaan
hanya milik Allah semata.

Wallahu a'lam bs.

Wassalaamu'alaikum wr. wb.

Ali Abidin wrote:

> Assalaamu 'alaikum wr. wb.
>
> >Hi...hi.....hi....
> >
> >Tunggu dulu Pak Ali...  relax dulu... ini masalah sulit,
>
> Iya mas Wargino, insyaallah saya relax..... :-)
>
> >Mungkin ada baiknya kita tidak berpanjang-panjang dalam masalah ini, karena
> >kita sebenarnya berada pada daerah bahaya yaitu mencoba memahami Kehendak
> >Allah. Kalau pun kita ingin, hendaknya harus ektra santun dan hati-hati
> >itupun di
> >daerah pingiran saja.
>
> Memang banyak lubang-lubangnya.... Saya juga maunya menghindar dari
> pembicaraan masalah ini tetapi karena tertarik pada konsep adanya Misi
> Hidup apalagi saya memang ditarik-tarik ke sini :-) maka terpaksa-lah
> saya bergerak ke daerah ini
>
> >Coba ijinkan saya balik bertanya:
> >Kalau tidak ingin sakit flu, jangan dekat-dekat orang sakit flu. Apakah
> >dengan
> >tidak dekat-dekat orang sakit flu kita tidak kena sakit flu?
>
> Alangkah anehnya jika kehendak bebas manusia hanya pada ikhtiar dan
> tidak boleh menyentuh pada daerah hasil karena dianggap itu adalah
> daerah Tuhan.
> Pak Wargino sangat cerdik dengan mempertanyakan contoh yang paling
> banyak parameternya , tetapi rasanya sudah saya jelaskan pada paragraph
> berikutnya pada posting tsb bahwa manusia memang berusaha pada daerah
> yang dipahaminya saja, semakin banyak dia menguasai parameter yang
> mempengaruhi pencapaian hasil, dan berikhtiar untuk memaksakan
> kehendaknya maka akan semakin besar  kemungkinan pecapaian hasilnya.
> Memang ada parameter yang mungkin terlalu sulit untuk kita kendalikan
> seperti kehendak bebas manusia lain dst. Atau parameter-parameter lain
> yang memang belum dipahami oleh manusia.
>
> Untuk contoh ini, kita tahu bahwa terlalu banyak parameter yang bisa
> menyebabkan kita sakit flu dan kita juga tahu bahwa usaha manusia
> menghindari sakit flu misalnya tidak mendekat ke orang yang sakit flu
> tentunya belum pasti akan membawa hasil yang diharapkan agar ybs tidak
> sakit flu. Karena masih ada parameter lain yang belum dikuasainya, jika
> misalnya ditambah dengan minum vitamin C, olahraga secukupnya, jangan
> kecapekan, vaksin flu dll maka bertambah besar kemungkinan manusia tsb
> akan tidak ketularan flu. Pasrah kepada Tuhan itu hanya minta agar Allah
> membantu kita agar parameter-perameter yang belum kita kuasai sepenuhnya
> tidak membawa kepada keadaan hasil berlawanan dengan kehendak kita.
>
> Tolong pak Wargino tidak membuat saya semakin pusing untuk memikirkan
> parameter lain agar tidak sakit flu :-). Pada intinya dengan semakin
> memahami takdir (ukuran, kadar + hukum-hukum alam yang berlaku pada
> ciptaannya) maka semakin besar manusia mampu memaksakan Kehendak
> Bebasnya.
>
> Bahwa kehendak bebas manusia itu akan mempengaruhi pada hasil, rasanya
> kita semua memahaminya. Janganlah saya dipaksa memahami bahwa kehendak
> bebas manusia itu cuman nisbi belaka karena itu berlawanan dengan
> bangunan pikir saya. Ketika saya sukses (ataupun gagal) dalam suatu
> proyek di kantor, maka saya yakin bahwa minimal sebagian itu disebabkan
> karena usaha saya, sebagian lagi disebabkan karena usaha manusia
> lainnya, sebagian lagi (mungkin) karena pertolongan Allah SWT. Meski
> pada saat yang sama saya juga yakin bahwa kemampuan saya untuk
> memaksakan Kehendak Bebas tsb juga karena rahmat-Nya.  Saya tidak
> mengembalikan seluruh pertanggungjawaban perbuatan kepada Allah SWT,
> karena saya bertanggungjawab atas apa-apa yang dalam batas-batas
> kemampuan saya.
>
> Wah......akhirnya ngelantur terlalu jauh dari pertanyaan untuk
> memperoleh penjelasan mengenai adanya Misi Hidup.......:-) Tapi bukan
> salah saya lho....
> >
> >Bagaimana kalau kita lari sebentar, kita bahas mengenai dua hal :
> >1. Makna "Bismillahirrahmanirrahiim" dan aplikasi dalam kehidupan kita.
> >2. Makna "Laa haula wala quwata illa billahil 'aliyil 'adzim"
>         Saya percaya dari rekan-rekan yang lain bisa membantunya.
>
> Wah, barangkali pak Wargino / yang lainnya bisa menjelaskan kepada saya
> tentang makna kedua kalimat di atas dalam kaitannya untuk memahami
> konsep adanya Misi Hidup yang unik bagi setiap Indivividu.
>
> Wassalaamu 'alaikum wr. wb.


---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke