Dear Ian,

DNA sequencing apparatus adalah alat untuk mengurai
molekul DNA sehingga bisa diketahui susunan nucleotidenya.
Sampel molekul DNA bisa didapat dengan berbagai cara
misalnya dengan teknik cloning apakah itu cDNA
(c = complementary) atau genomic DNA; juga bisa
dengan cara yang lebih mudah yakni PCR (Polymerize
Chain Reaction) atau RT-PCR (RT= Reverse Trancriptase)
yang terakhir sampelnya berupa RNA (total atau mRNA).
Karena mendeteksi gen-2 yang mengalami tanskripsi
metode RT-PCR lebih menggambarkan gen-2 yang
aktif (functional). Dari sequencing akan bisa diketahui
apa bila suatu gen mengalami mutasi.

Untuk mengerjakan sequencing (manually) selain harus
bisa mempersiapkan sampel DNA extraction) sendiri juga
harus mempunyai primers (yang ini bisa pesen). Primers
adalah suatu oligonucleotide berperan sebagai pemulanya.
Dasar reaksinya adalah juga polymerization dengan enzyme
DNA polymerase I Klenow fragment dari E coli (enzim ini
ditanggung halal : )). Salah satu dNTPsnya (misalnya dCTP)
dilabel dengan radioaktif (misalnya S35, atau bisa non-radioaktif
misalnya biotin). Berfungsi sebagai peterminasi reaksi tsb
adalah ddNTPs. Selanjutnya hasil akhir dari reaksi tsb
dielektrophoresis (diurai) dengan menggunakan Denaturing
Polyacrilamide Gel electrophoresis (mengandung urea dan
dijalankan dengan voltage yang tinggi supaya menghasilkan
panas sekitar 50 derajat celcius.

Demikian kurang lebih keterangan singkat dan spontan
mengenai sequencing. Disini, University of Calgary,
sequencing umumnya dikerjakan dengan mesin. Seperti
di lab dimana saya bekerja (sebagai Research Associate)
saya tidak lagi memakai manual sequencing. Oleh karena
itu alat sequencing milik saya saya berikan ke pak Indra
Wijaya supaya tidak mubazir (maaf apa betul spellingnya?
jangan-2 ada orang yang namanya Drs Mubazir).
Dulu saya sering mengerjakan sequencing manually sehingga
saya punya banyak pengalaman mengenai troble shooting dst
Kalau kebetulan saya ke Indonesia, saya tidak keberatan untuk
melatih siapa saja (dosen atau mahasiswa) yang benar-2 tertarik
dan membutuhkan. Sebab manual sequencing adalah sangat
handy dan perannya sangat penting dalam research yang
menyangkut bidang molecular biology. HANYA research
institution yang volume kebutuhan sequencing sangat besar
perlu untul membeli mesin pesequencing.

Kira-2 10 tahun yl PAU UGM sudah memiliki mesin sequencing
meskipun tidak pernah ada satupun orang yang butuh sequencing
akibatnya mesin MAHAL tsb nganggur, kedaluwarsa dan rusak.
Ini ibaratnya kantor yang setahun sekali belum tentu bikin
surat kok beli komputer tentu saja menjadi piece of junk, mubazir!
Kan mestinya cukup beli mesin ketik bekas di pasar loak (mesin
ketik seperti sepeda tidak pernah out of date tidak seperti mobil
dan komputer). Semoga saja mentalitas orang di perguruan tinggi
sudah berubah tidak lagi berorientasi ke "PROYEK" ! Kalau
masih tetap begitu ya payah.

Semoga membantu
Eko Raharjo

Pak Eko,
Terima kasih atas informasi biaya pengiriman alat squensing DNA
tersebut, tolong kalau dapat lebih cepat dikirim lebih baik (agar saya
tidak keburu di DO), walaupun nanti saya harus mencoba-coba sendiri atas
tanya kanan-kiri untuk memakainya. Masalahnya adalah pada saat
mengajukan proposal S3 di sini diharuskan melakukan penelitian yang
basisnya biomolekular dan original. Setelah beberapa kali tidak
disetujui, saya mencoba meneliti yang belum pernah diteliti di sini
yaitu analisis gen CMM1, CMM2 dan CMM3 pada kasus melanoma maligna.
Ternyata ekstraksi DNA dari blok parafin kasus-kasus itu di sini pun
sulit dilakukan, yang sudah saya coba dapat melakukannya adalah Lab
Bioteknologi Unpad Bandung. Untuk squensing DNA yang saat ini bisa
melakukan adalah Lab Bioteknologi ITB, sedangkan PAU UGM tidak dapat
karena alatnya rusak. Lab Eijkman Jakarta tidak melakukan lagi karena
primernya mahal kalau hanya squensing dalam jumlah sedikit. Mau dikirim
saja ke luar untuk squensing selain biayanya mahal juga tidak
diperbolehkan karena harus dapat melakukannya sendiri, Jadi serba salah!
Metodologinya saja sebelumnya selalu disarankan 'case control study'
(supaya tidak bias!) otomatis kasusnya harus banyak! Bisa jual rumah
untuk penelitian!
Saya sedang mengupayakan grant dari UICC (International Union Against
Cancer) untuk shot visit (3 bulan) untuk meneliti kasus-kasus saya itu.
Syaratnya harus ada approved dari Prof yang akan membimbing.
Beberapa waktu yang lalu saya sudah membalas E-mail Pak Eko, tetapi
mungkin saat itu mailbox Undip sedang error sehingga mailnya kabur entah
ke mana!
Amat bermanfaat sekali kalau Pak Eko bisa mudik sebentar untuk mengajari
pemakaian alat tersebut karena ada pula beberapa mahasiswa S2
Patobiologi dan S3 di sini yang penelitiannya juga akan menggunakan alat
tersebut (mis dr. Hadi), tetapi tentu biayanya mahal dan saya khawatir
nanti timbul friksi lagi dengan otoritas (walaupun sekarang sudah agak
terbuka!).

Salam dari Semarang,
indra


--------------------------
Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. Number: 270
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList               http://www.undip.ac.id

Kirim email ke