R. Oto Iskandar Di Nata

Dalam sebuah sidang Voksraad tahun 1931 dengan bahasa
pengantar Bahasa Belanda.

R. Oto Iskandar Di Nata: “… contohnya, sewaktu Ratu
Wilhelmina ulang tahun pada tanggal 31 Agustus yang
harus dirayakan di seluruh penjuru negeri. Para
pengrehpraja sibuk mengumpulkan biaya perayaan dengan
memotong gaji pegawai dan memungut iuran dari rakyat
yang miskin. Katanya iuran itu sukarela, padahal
merupakan pemaksaan. Mereka menurut karena takut. Maka
uang itu tidak halal; pesta perayaannya juga tidak
halal. Katanya Ratu itu ibu rakyat, bila dipestakan
dengan cara begitu sama saja dengan merendahkan
derajatnya. Tanda penghormatan itu hanya kemunafikan.”

Ketua Sidang: “Ucapan-ucapan itu sangat tidak pantas!”

R. Oto Iskandar Di Nata: “Memang tidak baik, tetapi
Tuan Ketua, itu karena pesta itu merugikan pendidikan
rakyat. Pesta-pesta hanya dipergunakan untuk meraih
kedudukan. Saya yakin kalau Ratu mengetahui hal ini,
beliau tidak akan mau dihormati dengan cara begitu.
Bahkan mungkin marah!”

Tuan Frain: “Saudara buruk sangka, kepada rakyat
Saudara sendiri!”

R. Oto Iskandar Di Nata: “Salah susunan!”

Tuan Monod de Froideville: “Biasa, menyalahkan orang
lain!”

R. Oto Iskandar Di Nata: “Tentu, Lihat saja, berapa
banyak rakyat Indonesia tidak mendapatkan pengajaran
di sekolah!”

Tuan Hamer: “Bayar sekolah sendiri!”

R. Oto Iskandar Di Nata: “Itu urusan negara!”

Tuan Hamer: “Itu perkiraan Saudara saja!”

R. Oto Iskandar Di Nata: “Pendidikan yang ada sekarang
hanya sebagai klerek pabrik dan jurutulis. Para
pangrehpraja berperilaku sebagai penjilat, karena
salah mendidik!”

Itulah sekelumit keberanian Raden Oto Iskandar Di Nata
yang terlahir di Bojongsoang, Bandung, 31 Maret 1897,
kritikannya yang pedas dan suaranya yang keras membuat
ia dijuluki Si Jalak Harupat, ayam jago yang keras dan
tajam menghantam lawan, kencang berkokok dan selalu
menang jika diadu. Julukan ini dilontarkan oleh
Wirasendjaja, guru HIS Cianjur, kakak Soetisna
Sendjaja, pemimpin redaksi pertama surat kabar
Sipatahoenan.

Almarhum Raden Oto Iskandar Di Nata meninggal dan
tidak pernah ditemukan jasadnya, ia diculik pada
tanggal 31 Oktober 1945 dan menulis surat terakhir di
tanggal yang sama untuk istri dan sebelas orang
anak-anaknya. Menjelang akhir Desember 1945 terdengar
berita bahwa Oto diculik oleh Laskar Hitam di Pantai
Mauk, Tangerang.

Bermula dari aktifnya sebagai guru HIS dan aktif di
partai Boedi Oetomo Pekalongan, Oto membongkar kasus
Bendungan Kemuning yang menyelamatkan rakyat dari
penipuan pengusaha Belanda, hingga akhirnya ia
dipindahkan ke Batavia. Di Jakarta ia kemudian aktif
dan menjadi pimpinan Pagoejoeban Pasoendan pada tahun
1929, sebuah organisasi dan partai yang tidak hanya
untuk orang Sunda, ketua pertamanya sewaktu didirikan
tahun 1913 adalah orang Bugis, Daeng Kandoeroean
Ardiwinata. Semenjak dipimpin oleh Oto Pagoejoeban
Pasoendan mengalami perkembangan pesat dalam bidang
politik, pendidikan, budaya, ekonomi serta
pemberdayaan istri. Tahun 1931 Oto duduk di dewan
rakyat Volksraad sebagai utusan dari Pagoejoeban
Pasoendan.

Tahun 1942 Oto aktif memimpin surat kabar Sipatahoenan
yang menjadi corong Pagoejoeban Pasoendan, kemudian
memimpin surat kabar Tjahaja selama pendudukan Jepang.
Oto mengambil sikap kooperatif selama masa pendudukan
hingga kemerdekaan, yang juga membuat beberapa
sahabatnya heran dengan sikap Oto yang biasanya
frontal sesuai dengan julukan Si Jalak Harupat.

Ada pendapat bahwa Oto dianggap kolaborator Jepang
hingga ia diculik oleh Laskar Hitam, saat itu Oto yang
menjabat Menteri Negara mengambil sikap kooperatif
dalam revolusi yang terjadi setelah proklamasi,
terutama pada saat Sekutu masuk Bandung pada bulan
September 1945. Melalui diplomasi Sekutu gagal
menguasai Bandung, hingga bulan Maret Sekutu membuat
ultimatum kepada Republik, namun dijawab dengan
pengungsian dan pembakaran kota Bandung oleh tentara
dan rakyat, yang dikenal sebagai Bandung Lautan Api.

Selain Oto korban penculikan saat itu –entah oleh
siapa– adalah Residen Priangan Poerdiredja, Walikota
Bandung Oekar Bratakoesoemah dan Niti Soemantri Ketua
KNI Karesidenan Priangan.

Kisah lebih lengkap bisa anda baca dalam biografi yang
ditulis oleh sejarawan Bandung, Nina H. Lubis: Si
Jalak Harupat. 

======
Sumber:
http://yulian.firdaus.or.id/2005/09/19/si-jalak-harupat/
Senin, 19 September 2005M
15 Syaban 1426H


=====
Situs: http://www.urang-sunda.or.id/
[Pupuh17, Wawacan, Roesdi Misnem, Al-Quran, Koropak]

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke