mas don, mungkin ini pertanyaan bodoh... maap ya. kalau open marriage itu, terutama yg dipraktekkan di indonesia.. teknisnya gimana sih? apakah tetap ngasih tau satu sama lain, kalau memang sekarang lagi "berhubungan" juga sama si a, si b atau si c. dan apakah si pelaku open marriage ini terbuka dng pasangan di luar perkawinan sahnya (si a, si b atau si c) tadi bahwa dia punya suami/istri tapi ya itu, open marriage.
kalau mereka beranak-pinak, mereka mengatakan jujur juga dng anaknya bahwa mereka adalah suami-istri dalam ikatan open marriage? tentu dalam usia tertentu bagi si anak.. saya cuma tau satu orang yg open marriage dan membeberkan kisah2 cintanya di blog pribadinya... tapi dia ndak nyebut2 bahwa dirinya open marriage.. malah mengesankan dirinya masih single.. (buat saya sih, kesian aja suaminya, gak diakui hehehe... atau memang mereka merasa tidak perlu pengakuan dari pasangan?) cuma yg dia katakan... dia gak bisa sama satu pasangan (seksual) aja.. pertanyaan kedua, apa batas2 atau gejala sex addict atau apa sih istiilahnya (lupa, hehehe) pokoknya yg nge-seks berlebihan, hyper sex? yg perlu diterapi? hehehe maaf pertanyaannya banyak.. bukan berarti saya setuju atau mau mengikuti praktik spt ini... cuma sekedar pengen tau aja ;-) tengkiuuu, herni 2008/8/14 Donnie <[EMAIL PROTECTED]> > Bukan kasus, > ada satu segmen dari masyarakat yang bisa menerima model institusi > perkawinan yang seperti ini. Kasus itu apabila satu dua. > Kalau sampai ada klub swinger dengan banyak anggota, saya rasa itu > bukan kasus lagi. > > Dan saya tidak tahu apa definisi normal yang mbak Rama maksudkan? > Definisi normalitas sudah pernah didiskusikan oleh milis ini, e.g. > 1. sebagian besar dari populasi mempunyai atribut itu, pertanyaanya > kemudian seberapa besar? (sering kita taken for granted saja) > 2. bisa tidaknya seseorang melakukan fungsi sosialnya di masyarakat > 3. sehat secara jasmani dan mental > or.. yang mana? > > regards, > D > > ps: tolong dicatat, jangan diinterpretasikan bahwa dengan membuat > argumentasi seperti itu kemudian saya dianggap sebagai setuju, > pendukung atau malah praktisi model perkawinan tersebut. > keluh... > > > [Non-text portions of this message have been removed]
