Yth Teteh dan Akang semua,

Saya yakin pasti ada banyak kebenaran tentang cerita Banten yang saat
ini masih berkubangan dengan korupsi. Saya pun tidak keberatan jika
banyak orang yang pesimis tentang pemberantasan korupsi. Sangat
dimaklumi pula jika ada diantara rekän yang pengennya ingin langsung
melakukan aksi dari pada berteori. "Apalah arti teori jika tidak ada
aksi?" pikir sebagian temen. Jadi, keberatan dari sebagai temen
seperti ini bisa dipahami dan bisa diterima. Oleh karena itu, secara
moral saya yakin Masyarakat Banten akan mendoakan jika ada diantara
wong Banten yang langsung turun beraksi membuat pergerakan melawan
korupsi. 

Sebelum masuk pada tawaran bagus dari para akang yang ingin menukik
pada diskursus "Good Corporate Government". Tawaran diskursus tentang
pemberantas korupsi di level birokrasi dan politisi dan pembentukan
sistem yang bersih. Ijinkanlah saya "tergoda" terlebih dahulu dengan
tulisan menarik tentang budaya korupsi di masyarakat. Prof. MT Zen
menyatakan bahwa budaya masyarakatlah yang menyebabkan suburnya
korupsi. Tulisan beliau merupakan kajian introspeksi menarik untuk
kebaikan kita ke depan.

Hanya saja, selain sisi instropeksi, sebenarnya ada sisi tangguh yang
merupakan watak asli dari masyarakat kita. Contoh-2 yang saya tulis
dibawah ini sangat mungkin tidak berhubungan langsung dengan wacana
tentang korupsi, tapi saya melihat bahwa budaya masyarakat kita
sebenarnya tangguh. Saya pribadi menolak stigma yang menyalahkan
budaya masyarakat Indonesia penyebab suburnya korupsi atau kemiskinan
atau anarkisme, dll. Bagi saya, kenyataannya justru budaya masyarakat
kita lah yang membuat kita tetap survive meskipun beban kita begitu
berat saat ini.

Lihatlah, pada saat banyak ahli sosialogi menuduh bahwa bangsa
Indonesia itu bangsa pemalas sehingga kita tidak bisa maju. Pada saat
yang bersamaan realitas yang saya lihat di Banten ataupun di Yogya
(dan saya yakin terjadi di belahan manapun di Indonesia) justru
sebaliknya. Lihatlah masyarakat Cipala (di Puncak Gunung di Merak),
sehabis sholat Shubuh dengan penuh optimis memanggul hasil taninya
(bertandan-tandan pisang dan buah-2 lainnya) yang begitu berat di
pundaknya turun gunung ke pasar Merak, untuk menjemput rejekinya hari
itu. Di Yogya, jam 2 pagi dini hari, setiap hari, ribuan para si-mbok
pedagang sayur mengayuh sepeda ontel-nya berpuluh-puluh kilo meter
untuk menuju Pasar Beringharjo, untuk menjemput rejekinya hari itu.
Mereka bekerja keras disaat orang-2 bule di Eropa sana tidur nyenyak.

Inikah yang dikatakan orang bahwa budaya bangsa Indonesia adalah
budaya para pemalas? Mampukah orang-2 Bule di Eropa sana punya punya
ketangguhan yang sama dengan masyarakat kita? Tapi jika kita bertanya;
"Mengapa orang yang begitu tangguh dan rajin tetap saja hidup dalam
kemiskinan?" Jawabnya, karena kita sampai hari ini gagal merumuskan
sistem yang berpihak pada masyarakat banyak. Kita miskin bukan karena
masyarakat kita malas, tapi kita gagal merumuskan sistem yang
mensejahterakan kita. Ini bukan persoalan budaya atau kultur. Ini
persoalan manajemen dan struktur. 

Lihat kasus pemilu 2,5 tahun yang lalu. Itu adalah pemilu langsung
yang pertama dalam sejarah kita. Menariknya tidak ada darah, kerusuhan
dan pembunuh dalam pemilu itu. Masyarakat kita dengan keteladanan
nilai-2nya, justru membalikkan ramalan seluruh pakar dalam dan luar
negeri. Ramalan para pakar yang menuduh kita bangsa anarkis, bla…,
bla.., ternyata salah semua. Bandingkan dengan India, bangsa yang
puluhan kali mengadakan pemilu langsung. Tapi darah dan pembunuhan
disana (di India) adalah konsekuensi langganan yang selalu terjadi
setiap pemilu berlangsung. Apakah peristiwa ini bukan merupakan contoh
agung dari ketangguhan masyarakat kita tentang toleransi?

Mari kita renungkan kembali krisis moneter yang terjadi sampai hari
ini. Sektor manakah yang tidak diproteksi, tidak disubsidi, tidak
mendapat bantuan kredit, tidak diperdulikan tetapi tetap survive?
Jawabnya, Sektor kaki lima. Sektor ekonomi usaha kecil lah yang tetap
tangguh menopang jutaan dapur masyarakat agar tetap mengepul. Tukang
baso, pecel lele, mbok pedagang sayur, warung tegal, adalah bukti
ketangguhan budaya masyarakat kita yang tetap survive meskipun negara
tidak pernah peduli dengan mereka sama sekali.

Akang atau Teteh semua boleh berbeda pendapat dengan saya. Tapi bagi
saya pribadi keyakinan saya cuma satu, saya menolak keras ada yang
mengatakan bahwa budaya masyarakat lah penyebab kita terpuruk dalam
kemiskinan ini. Contoh-2 kecil diatas merupakan fakta keras tak
terbatahkan bahwa budaya masyarakat kita itu tangguh. Pertanyaanya,
kenapa dengan budaya begitu tangguh kita tetap miskin? Mengapa bangsa
dengan budaya tangguh seperti itu justru terjerumus dalam kubangan
korupsi yang begitu hitam? 

Bagi saya pribadi, jawabnya bukan pada budaya masyarakat. Jawabnya,
pada kegagalan kita untuk membangun sistem yang benar. Ini persoalan
manajemen dan profesionalitas kerja para pemimpin dan para
intelektual. Kedua kelompok inilah yang paling bersalah. Jadinya,
solusinya bukan solusi budaya. Solusinya harus solusi struktural.
Korupsi di Indonesia mewabah karena kita gagal membangun sistem yang
transparansi dan akuntanbilitas. Kerja professional dan visioner
adalah solusinya. "Good Corporate Government" adalah kata kuncinya.
Kesanalah biduk perahu harus diarahkan. 

Tapi kalau ada yang menuduh ini cuma teori, maka maafkan lah
keterbatasan saya...

Salam,

Ferizal Ramli


--- In [email protected], dian agusdiana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> korupsi aparat..
> benar kata akang , kalo aparat dia takut jika
> peraturan dan atasnnya sangat kuat dan bersih. 
> tapi bagai ayam dan telur, bagimana bisa dibuat
> regulasi yang kuat apabila pembuatnya punya
> kepentingan dalam korupsi? contohnya UU tentang
> Peradilan Tipikor malah mau dibuat utk memberangus
> pengadilan khusus itu sendiri. wacananya sudah jelas
> "asal pakar ia bisa asal berkomentar" ia bisa asal
> berkomentar bahwa korupsi bukan extraordinary crime,
> yg buat ekstra apabila uang yg dikorupsinya dlm jumlah
> guede.
> ia gelap tak bisa melihat jika seluruh aspek
> administratur dinegeri ini mulai dr kelurahan sampe
> lembaga kepresidenan, suka ama jenis kriminal yang
> renyah ini!!! dan itu dia menganggap kejahatan biasa.
> pertanyaannya, dia biasa juga melakukan kejahatan ini
> ga ya? kan sudah dia anggap lumrah!
> jika demikian maka korupsi sama dengan minum alkohol
> bagi muslim di negeri ini. dilarang oleh agama tapi
> dijadikan komoditi oleh negara. kenapa tidak sekalian
> saja dia berkata demikian? pasti banyak yang
> mengamini, apalagi dikatakan dari mulut seorang pakar
> pidana. ilmiah gitulho...
> kalo dipersamakan mana yang lebih dahulu, ayam atau
> telur, maka jawabannya menurut saya, yang lebih dahulu
> adalah pencipta tebak-tebakan itu. artinya dia cerdas
> dan kreative sehingga mampu membuat tebak2an yang
> melegenda gitu. jadi dikaitkan dengan pembasmian
> korupsi maka , pencipta regulasi dan pencipta aparatur
> yang lebih dahulu dibersihkan, supaya produk yang
> ditelorkannya bagus-bagus.
> duh account warnetnya dah abis.....
> sambung lagi ntar lah..
> 
> 
> 
> NB: katanya KPK itu ada tugas lain selain penindakan,
> ia juga mempunyai mandat mengantisipasi korupsi
> (prefentive). isinya mungkin kampanye-kampanye gitu,
> seandainya ada wongbanten yang di KPK (kalo ketua na
> mah sigana sibuk pisan meureun nya) bisa kasih masukan
> ka milis ieu wuih kayaknya jadi lebih rame yeuh
> diskusi.
> 
> 
> 
>  
>
____________________________________________________________________________________
> It's here! Your new message!  
> Get new email alerts with the free Yahoo! Toolbar.
> http://tools.search.yahoo.com/toolbar/features/mail/
>


Kirim email ke