bung Ramli,

setahu saya, konsep good corporate gov dan sebangsanya
yang diintrodusir world bank, imf, dst, tidak banyak
menukik pada persoalan struktural khas negara dunia
ketiga yg relasi strukturalnya dominatif. bagaimana
mungkin akuntabilitas dan transparansi berjalan dalam
kerangka relasi struktur model itu dan kuat aroma
klientilismenya?

maka, saya mengulangi pertanyaan terdahulu, bisa tidak
anda kaji persoalan2 struktural dan relasinya di
indonesia terkait problem korupsi di indonesia? dan
karena anda telah mengkaji persoalan korupsi di
beberapa negara yg pernah anda sebut, ada tidak
perbedaan yang mendasar terkait keberhasilan negara2
itu berhasil menumpas korupsi di aparatus negara
dengan relasi strukturalnya?

sekali lagi mohon pencerahan, terimakasih. 

c_harseno
masih tetap kaki merapi


--- Ferizal Ramli <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Yth Teteh dan Akang semua,
> 
> Saya yakin pasti ada banyak kebenaran tentang cerita
> Banten yang saat
> ini masih berkubangan dengan korupsi. Saya pun tidak
> keberatan jika
> banyak orang yang pesimis tentang pemberantasan
> korupsi. Sangat
> dimaklumi pula jika ada diantara rek�n yang
> pengennya ingin langsung
> melakukan aksi dari pada berteori. "Apalah arti
> teori jika tidak ada
> aksi?" pikir sebagian temen. Jadi, keberatan dari
> sebagai temen
> seperti ini bisa dipahami dan bisa diterima. Oleh
> karena itu, secara
> moral saya yakin Masyarakat Banten akan mendoakan
> jika ada diantara
> wong Banten yang langsung turun beraksi membuat
> pergerakan melawan
> korupsi. 
> 
> Sebelum masuk pada tawaran bagus dari para akang
> yang ingin menukik
> pada diskursus "Good Corporate Government". Tawaran
> diskursus tentang
> pemberantas korupsi di level birokrasi dan politisi
> dan pembentukan
> sistem yang bersih. Ijinkanlah saya "tergoda"
> terlebih dahulu dengan
> tulisan menarik tentang budaya korupsi di
> masyarakat. Prof. MT Zen
> menyatakan bahwa budaya masyarakatlah yang
> menyebabkan suburnya
> korupsi. Tulisan beliau merupakan kajian introspeksi
> menarik untuk
> kebaikan kita ke depan.
> 
> Hanya saja, selain sisi instropeksi, sebenarnya ada
> sisi tangguh yang
> merupakan watak asli dari masyarakat kita. Contoh-2
> yang saya tulis
> dibawah ini sangat mungkin tidak berhubungan
> langsung dengan wacana
> tentang korupsi, tapi saya melihat bahwa budaya
> masyarakat kita
> sebenarnya tangguh. Saya pribadi menolak stigma yang
> menyalahkan
> budaya masyarakat Indonesia penyebab suburnya
> korupsi atau kemiskinan
> atau anarkisme, dll. Bagi saya, kenyataannya justru
> budaya masyarakat
> kita lah yang membuat kita tetap survive meskipun
> beban kita begitu
> berat saat ini.
> 
> Lihatlah, pada saat banyak ahli sosialogi menuduh
> bahwa bangsa
> Indonesia itu bangsa pemalas sehingga kita tidak
> bisa maju. Pada saat
> yang bersamaan realitas yang saya lihat di Banten
> ataupun di Yogya
> (dan saya yakin terjadi di belahan manapun di
> Indonesia) justru
> sebaliknya. Lihatlah masyarakat Cipala (di Puncak
> Gunung di Merak),
> sehabis sholat Shubuh dengan penuh optimis memanggul
> hasil taninya
> (bertandan-tandan pisang dan buah-2 lainnya) yang
> begitu berat di
> pundaknya turun gunung ke pasar Merak, untuk
> menjemput rejekinya hari
> itu. Di Yogya, jam 2 pagi dini hari, setiap hari,
> ribuan para si-mbok
> pedagang sayur mengayuh sepeda ontel-nya
> berpuluh-puluh kilo meter
> untuk menuju Pasar Beringharjo, untuk menjemput
> rejekinya hari itu.
> Mereka bekerja keras disaat orang-2 bule di Eropa
> sana tidur nyenyak.
> 
> Inikah yang dikatakan orang bahwa budaya bangsa
> Indonesia adalah
> budaya para pemalas? Mampukah orang-2 Bule di Eropa
> sana punya punya
> ketangguhan yang sama dengan masyarakat kita? Tapi
> jika kita bertanya;
> "Mengapa orang yang begitu tangguh dan rajin tetap
> saja hidup dalam
> kemiskinan?" Jawabnya, karena kita sampai hari ini
> gagal merumuskan
> sistem yang berpihak pada masyarakat banyak. Kita
> miskin bukan karena
> masyarakat kita malas, tapi kita gagal merumuskan
> sistem yang
> mensejahterakan kita. Ini bukan persoalan budaya
> atau kultur. Ini
> persoalan manajemen dan struktur. 
> 
> Lihat kasus pemilu 2,5 tahun yang lalu. Itu adalah
> pemilu langsung
> yang pertama dalam sejarah kita. Menariknya tidak
> ada darah, kerusuhan
> dan pembunuh dalam pemilu itu. Masyarakat kita
> dengan keteladanan
> nilai-2nya, justru membalikkan ramalan seluruh pakar
> dalam dan luar
> negeri. Ramalan para pakar yang menuduh kita bangsa
> anarkis, bla�,
> bla.., ternyata salah semua. Bandingkan dengan
> India, bangsa yang
> puluhan kali mengadakan pemilu langsung. Tapi darah
> dan pembunuhan
> disana (di India) adalah konsekuensi langganan yang
> selalu terjadi
> setiap pemilu berlangsung. Apakah peristiwa ini
> bukan merupakan contoh
> agung dari ketangguhan masyarakat kita tentang
> toleransi?
> 
> Mari kita renungkan kembali krisis moneter yang
> terjadi sampai hari
> ini. Sektor manakah yang tidak diproteksi, tidak
> disubsidi, tidak
> mendapat bantuan kredit, tidak diperdulikan tetapi
> tetap survive?
> Jawabnya, Sektor kaki lima. Sektor ekonomi usaha
> kecil lah yang tetap
> tangguh menopang jutaan dapur masyarakat agar tetap
> mengepul. Tukang
> baso, pecel lele, mbok pedagang sayur, warung tegal,
> adalah bukti
> ketangguhan budaya masyarakat kita yang tetap
> survive meskipun negara
> tidak pernah peduli dengan mereka sama sekali.
> 
> Akang atau Teteh semua boleh berbeda pendapat dengan
> saya. Tapi bagi
> saya pribadi keyakinan saya cuma satu, saya menolak
> keras ada yang
> mengatakan bahwa budaya masyarakat lah penyebab kita
> terpuruk dalam
> kemiskinan ini. Contoh-2 kecil diatas merupakan
> fakta keras tak
> terbatahkan bahwa budaya masyarakat kita itu
> tangguh. Pertanyaanya,
> kenapa dengan budaya begitu tangguh kita tetap
> miskin? Mengapa bangsa
> dengan budaya tangguh seperti itu justru terjerumus
> dalam kubangan
> korupsi yang begitu hitam? 
> 
> Bagi saya pribadi, jawabnya bukan pada budaya
> masyarakat. Jawabnya,
> pada kegagalan kita untuk membangun sistem yang
> benar. Ini persoalan
> manajemen dan profesionalitas kerja para pemimpin
> dan para
> intelektual. Kedua kelompok inilah yang paling
> bersalah. Jadinya,
> solusinya bukan solusi budaya. Solusinya harus
> solusi struktural.
> Korupsi di Indonesia mewabah karena kita gagal
> membangun sistem yang
> transparansi dan akuntanbilitas. Kerja professional
> dan visioner
> adalah solusinya. "Good Corporate Government" adalah
> kata kuncinya.
> Kesanalah biduk perahu harus diarahkan. 
> 
> Tapi kalau ada yang menuduh ini cuma teori, maka
> maafkan lah
> keterbatasan saya...
> 
> Salam,
> 
> Ferizal Ramli
> 
> 
> --- In [email protected], dian agusdiana
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > korupsi aparat..
> > benar kata akang , kalo aparat dia takut jika
> > peraturan dan atasnnya sangat kuat dan bersih. 
> > tapi bagai ayam dan telur, bagimana bisa dibuat
> > regulasi yang kuat apabila pembuatnya punya
> > kepentingan dalam korupsi? contohnya UU tentang
> > Peradilan Tipikor malah mau dibuat utk memberangus
> > pengadilan khusus itu sendiri. wacananya sudah
> jelas
> > "asal pakar ia bisa asal berkomentar" ia bisa asal
> > berkomentar bahwa korupsi bukan extraordinary
> crime,
> > yg buat ekstra apabila uang yg dikorupsinya dlm
> jumlah
> > guede.
> > ia gelap tak bisa melihat jika seluruh aspek
> > administratur dinegeri ini mulai dr kelurahan
> sampe
> > lembaga kepresidenan, suka ama jenis kriminal yang
> 
=== message truncated ===



 
____________________________________________________________________________________
Finding fabulous fares is fun.  
Let Yahoo! FareChase search your favorite travel sites to find flight and hotel 
bargains.
http://farechase.yahoo.com/promo-generic-14795097

Kirim email ke