Jelang ”Keranda Merah Putih” 15 – 26 Agustus di Rumah Dunia:
  PARA PELUKIS BANTEN MEMINTA GEDUNG PAMERAN
  Oleh Gola Gong – dimuat di Banten Raya Post, Senin 6 Agustus 2007
   
  Sekitar  lima tahun lalu, seperti biasa, diawali diskusi kecil karena 
keprihatinan pada situasi dan kondisi negeri tercinta ini, maka tercetuslah ide 
dari Firman Venayaksa untuk membuat kegiatan rutin memperingati tanggal keramat 
17 Agustus,. ”Jika orang-orang memperingatinya dengan suka-cita berupa 
lomba-loma, pawai dan upacara, Rumah Dunia justru berduka karena negeri ini 
sedang sekarat. Maka kami menyediakan ’keranda merah putih’, agar kita bangkit 
mengobati diri kita sendiri!” begitu Firman, Presiden Rumah Dunia, menjelaskan 
ikhwal mulanya.
   
  CERMIN
  Keranda Merah Putih (KM) bukanlah ungkapan rasa pesimis, tapi itu adalah 
cermin bagi kita semua untuk memperbaiki diri. Ada pepatah hebat yang 
mengingatkan, jika kita tidak mampu merubah dunia, maka semua dimulai dari diri 
kita, terus ke keluarga, tetangga, kampung, kota, dan pada akhirnya seluruh 
pelosok negeri. Jika itu dilakukan bersama-sama, percepatannya akan sangat luar 
biasa. Masyarakat madani yang kita dambakan, insya Allh, akan terwujud.
   
  Setidak-tidaknya pada KM pertama sekitar 2003 lalu, dengan cara pandang dunia 
(view world) tapi berkegiatan di tingkat lokal (orang biasa menyebutnya think 
global act local), anak-anak Rumah Dunia memulai caranya sendiri memperingati 
hari kemerdekaan Republik Indonesia yang jatuh pada 17 Agustus. Ada orasi 
budaya dari saya yang mengingatkan, agar kota Banten ini membersihkan dirinya 
dari kepentingan perseorangan atau kelompok, pergelaran teater dari para 
relawan Rumah Dunia; Rimba Alan-alang, Muhzen Den, Wangsa Nestapa, dan RG 
Kedungkaban, yang saling sikut berebut kursi sambil mengusung keranda negeri 
dengan kaki terikat,   musikalisasi puisi Firman, dan pembacaan puisi toto ST 
Radik.
   
  KM kedua pada 2005 masih dengan menu sama. Tahun 2007 ini hajatan ketiga dan  
 sangat luar biasa Komunitas Perupa Banten dan Forum Kesenian Banten ingin 
melakukan hajatan bersama dalam KM 2007 ini, yang akan dimulai pada 15 hingga 
26 Agustus 2007 di Rumah Dunia. Indra Kesuma, tutor wisata gambar RD yang 
ditunjuk jadi Ketua Pelaksana menyatakan, ”Tidak hanya pertunjukan teater, 
pembacaan dan musikalisasi puisi saja, tapi juga ada pameran lukisan, demo 
melukis, bimbingan melukis bagi guru TK/SD serta murid-muridnya, diskusi seni 
rupa.”
   
  PRIHATIN
  Pameran lukisan sangat mendominasi KM 2007 ini. Dimulai dari demo melukis 
pada acara pembukaan, yang akan dilaksanakan pada Jum’at, 15 Agustus 2007, 
pukul 14.00 WIB di Rumah Dunia hingga lomba melukis untuk tingkat SD pada 
Minggu 19 Agustus. ”Setiap sekolah mengirimkan 2 muridnya, gratis, dan bawa 
peralatan sendiri,” terang Shodiq, Sekretaris KM 2007. Kemudian ada bimbingan 
melukis untuk murid SD mulai 20 hingga 25 Agustus. ”Jika ada sekolah yang 
tertarik, silahkan kontak kami di 224955!” tambah Shodiq. Untuk guru-gurunya 
ada workshop seni lukis Minggu 25 Agutus. 
   
  Untuk menambah wawasan si pelukis, digelar diskusi Seni Rupa pada Sabtu 24 
Agustus, pukul 14.00 Wib. Dipandu Indra Kesuma sebagai moderator, para 
pembicaranya mumpuni; Tubagus Indra (Direktur Galeri Nasional), Si Uzi 
(karikaturis Radar Banten/Banten Raya Pos), dan Gebar Sasimta (pelukis asa 
Pandeglang). ”Dengan diskusi ini, semoga karya-karya pelukis Banten semakin 
dikenal luas, terutama oleh masyarakat Banten,” harap Indra.
   
  Hanya saja para pelukis yang tergabung di komunitas Perupa Banten; seperti 
Agus, Mhaex Maranoes, Gebar sasmita, Ali Lee Star, Widodom JS, Ali Bone, Deden, 
merasa prihatin melakukan pameran lukisan di Rumah Dunia. ”Kami bukannya 
meremehkan Rumah Dunia yang sudah berniat tulus dan ikhlas memestakan kami 
dengan mengurusi dan menyediakan tempat berpameran, tapi jujur saja, tempatnya 
tidak layak  untuk pameran. Lukisan itu rentan terhadap cuaca. Di Rumah Dunia 
tempatnya terbuka,” kata Mhaex.
   
  Menurut mereka, seharusnya Pemprov Banten mulai memikirkan sebuah tempat yang 
layak untuk para pelukis berpameran. Apakah itu gedung kesenian atau taman 
budaya. Di Banten banyak gedung yang layak untuk dipakai, seperti Gedung Joang 
di Kimas Jong atau bekas gedung DPRD Banten di Ciceuri.  ”Saya tahu, ini adalah 
cara Rumah Dunia melakukan kritik membangun kepada para petinggi di Pemprov 
Banten. Mestinya yang mengurusi pameran para pelukis bukan Rumah Dunia, tapi  
instansi terkait seperti Disbudbar,” Mhaex menambahkan.
   
  Ya, gedung yang layak di tengah kota untuk berpameran lukisan dirasakan 
sangat mendesak untuk dipikirkan. Itu terkait denan cita rasa warganya sendiri. 
Jika sebuah kota hanya melulu diisi kegiatan konsumtif, maka masyarakat sebuah 
kota tersebut akan terjerumus kepada prilaku hedonis; memuja kebendaan. 
Persoalannya sekarang, maukah para petinggi Banten memikirkan cita rasa seni 
warganya lewat lukisan? Bukankah Nabi Muhammad pernah berujar, ”Ajarkan 
anak-anakmu dengan seni, karena itu akan membuat hatinya menjadi lembut.” 
Percaya atau tidak?  (*)
   
   

   
   

       
---------------------------------
Need a vacation? Get great deals to amazing places on Yahoo! Travel. 

Kirim email ke