Mbak, Nimbrung jg nih, klo pun akirnya udah ga bisa disatukan sbaiknya jangan dipaksain. Namun untuk mencapai kata cerai jg jangan cuma gara2 lagi emosi, cerai bisa jadi mrupakan keputusan final, yang biasanya jg dengan dalih untuk kebaikan bersama, ya itu tadi biar si kecil ngga stress liat ortunya uring2an trus, cemberut2an, diem2an, lama2 suasana rumah jd ga sehat. Biasanya sih klo sudah ada anak, baik laki2 maupun perempuan akan berusaha untuk mempertahankan pernikahan, beda lagi klo sudah ga bisa berpikir jernih, campur emosi sgala macam. Masalah per"uang"an memang gada habisnya klo dibahas, aku rasa setelah menikah kita perempuan harus menjunjung tinggi posisi suami, walau mungkin keluarga kita berlebih secara materi, walau mungkin kita sbg perempuan memiliki karir lbih sukses, dsb. Coba dibicarakan baik2 dengan kepala yang dingin, apalagi jk masalahnya bukan prinsip. Klo sudah menyangkut area ego alias harga diri, yang namanya laki2 memang ga bisa kompromi, ya kitanya harus banyak ngerti. Jika mereka sudah merasa terinjak2 bisa jadi justru merasa tertantang. Kasarnya udah capek hati ngadepin istri yg gamau nurut sama suami. Toh gimanapun juga suami adalah kepala keluarga, sang nakhoda kapal. Sebagai teman tentunya Mba sudah bicara dari hati ke hati kepada temen Mba, mungkin ada hal2 yang mengganjal dari sikap suaminya, dan sebaliknya. Mungkin mreka hanya sedang sama2 emosi, jadi bawaannya negative thinking. Semoga Mba bisa mengclearkan kesalahpahaman antara mereka. Gud luck ya Mba..semoga temen2 Mba baik2 aja.. Salam, Lupi~Ara's mum~
