Ini postingan mau ngajak perang saja hehe...
Baca lagi tulisan blog tersebut lamat-lamat, mendalam, hayati penuh
perasaan... :-)
Semua itu tergantung yang megang kok, kalo' memang dodol, ya maunya
dodol aja, komputernya disalahin, Linuxnya disumpelin, dikatain jelek,
padahal aselinya memang dodol tadi, giliran Windows-nya virusan baru
deh misuh-misuh "Virus sialan!!", atau gak usah jauh2 deh, drivernya
kurang aja sudah bingung kok... suwer deh...

Btw, saya sendiri sehari-hari tanpa Windows kok bisa saja, tapi tak
benci Windows, malahan kagum pada model bisnisnya Microsoft. Saya
punya banyak license aseli tapi malah ada yang saya berikan orang lain
gratis, apakah saya dodol? Entahlah... up to you... :-)

Salam,
sa

* mari produktif saja apapun alatnya, tak usah terjebak dalam
flame-war ini, tendang tulisan FUD itu.


2009/8/12 suryo hadi prabowo <[email protected]>:
> luar biasa om ... terbiasa di luar.
>
> Pengalaman gue pake linux itu susah. Mendingan tetep pake windows. Segalanya
> mudah. Kita serasa di-ninabobokan-kan oleh windows. Office-nya mudah.
> Windowsnya juga mudah. Multimedia? Mau muter jenis film apa saja bisa
> (hampir). Dengerin musik? Hampir semua tipe file musik bisa di install.
> Game? Rasanya tak ada game yg tidak bisa dijalankan di windowsnya om bill.
>
> Jadi ngapain mesti ngabisin waktu ngoprek didepan komputer mempelajari
> linux? Ngapain ngabisin waktu berjam-jam cuma untuk mempelajari openoffice
> yg memang sudah mirip windows tapi tidak tetep aja bukan ms.office yg pasti
> banyak bedanya.
>
> So...kalau mau enak silahkan tetep di windows.
>
> Pesenku satu; kalau sampean sebagai IT di perusahaan. Dan windows yg
> digunakan di perusahaan itu masih windows bajakan, hati-hati. Sekarang PAK
> POLISI SERING MENGADAKAN RAZIA SOFWARE BAJAKAN. gw sering melihat beritanya
> di tv dan di www.detik.com. Kalau udah razia dan kedapatan pake os bajakan
> komputer yg pake os bajakan disita (sebagai barang bukt), bos perusahaan ybs
> juga diciduk, dan juga IT-nya (kurang lebih itu yg aku dengar).
>
> Pertanyaannya, kalau kita pilih linux, bisakah kita "hidup" tanpa microsoft
> office, tanpa ms outlook, tanpa foxpro, tanpa ms access, tanpa potoshop,
> tanpa adobe ilustrator, tanpa windows media player?
>
> Bisakah kita "hidup" dengan openoffice, dengan nautilus, dengan firefox,
> dengan thunderbird, dengan evolution, dengan gimp, dengan krita, dengan NFS
> (network file system), dengan samba, sengan ssh, dengan abiword, dengan
> gnumerik, dan dengan program linux laiinya.
>
> wOkeh sodaraku. Selamat memilih. Semua ada di tangan anda. Dan setiap
> pilihan ada konsekwensinya sendiri-sendiri. ambil semua itu sebagai
> pembelajaran, brother and sister. peace RGDS.
>
> SHP
>
>
>
> --- Pada Rab, 12/8/09, Bonie <[email protected]> menulis:
>
> Dari: Bonie <[email protected]>
> Judul: [balikpapan-ict] Re: Linuxer yang Kecewa
> Kepada: [email protected]
> Tanggal: Rabu, 12 Agustus, 2009, 8:24 PM
>
> makanya gunakan windows xp bajakan,supaya gak fanatik hihihi,banyak yang gak
> bisa diafford dengan linux kok,kenapa juga harus skeptis,apalagi kalo
> bekerja di IT integrator masa mo maksain kalo ternyata bukan linux solusinya
> hehehe,hidup bajakan,maap yah ini sekedar share pengalaman dari sayah ,semua
> kembali ke flavor masing - masing..
>
> 2009/8/12 Suwito Pomalingo <[email protected]>
>>
>> Artikelnya lumayan lama, moga bermanfaat, maaf kalo repost. Link aslinya :
>> http://okto.silaban.net/2009/02/linux/linuxer-yang-kecewa/
>>
>> -------------------------
>>
>> Mereka yang *terjerumus* ke dunia Linux punya alasan yang berbeda – beda.
>> Ada yang karena tertarik saja, terpaksa (seperti saya), ingin terlihat cool
>> (jendela hitam itu keren po??), penasaran, cuma pengen coba – coba, dan
>> masih ada banyak alasan tak masuk akal lainnya.
>>
>> Sebagian dari mereka ini akhirnya menjadi pengguna Linux yang militan.
>> Begitu semangat mempromosikan Linux. Bahkan dengan begitu semangatnya
>> membuat flyer tentang bodohnya *kita* selama ini memakai software bajakan,
>> apa akibatnya, penegasan ancaman penjara dari UU Haki, sampai masalah masuk
>> neraka. Silahkan tertawa, tapi saya pribadi pernah melakukannya sendirian di
>> kampus waktu di semester 2.
>>
>> Ketika sudah jadi Linuxer-militan ini, seringkali fanatisme akan Linux
>> menjadi begitu *parah*. Mereka yang menggunakan software bajakan dianggap
>> sebagai manusia paling berdosa, pelanggar UU, bodoh, dst. Oh iya, dan
>> biasanya jadi anti-Microsoft.
>>
>> Tak lupa para pahlawan dunia opensource pun menjadi idola mereka, seperti
>> Linus Torvalds, Richard Stallman, dll. Di tingkat lokal (Indonesia) pun
>> Linuxer-militan ini punya idola juga, seperti …, …, …, *tak usah
>> disebutlah.. nanti pada ge er (ha..ha..). Ya anda tahulah siapa – siapa
>> mereka.
>>
>> Tapi dunia bagaikan runtuh, ketika Linuxer-militan ini mengetahui, para
>> pahlawan opensource lokal mereka juga *bersentuhan* dengan dunia
>> *propetiari*.. mmm.. ya maksud saya memang Windows.
>>
>> Dari beberapa sumber (kadang blog si idola tersebut, atau web
>> perusahaannya, milis, seminar, mulut ke mulut) diketahui bahwa para idola
>> mereka ini ternyata sehari – hari justru menggunakan software propetiary.
>> Ada pembuat distro Linux lokal yang tidak menggunakan distro buatannya itu,
>> dan kemudian menjalin kontrak dengan Microsoft untuk bidang akademik. Ada
>> juga yang gencar mempromosikan Linux & open source, tetapi perusahaannya
>> berkutat dengan training seputar Microsoft dan software – softwarenya.
>>
>> Di tingkat lebih kecil, ada anggota komunitas Linux yang justru malah
>> akhirnya *berpindah jalur* ke jalan tol berlogo Jendela. Ada juga anggota
>> komunitas yang begitu lihainya berdebat mengenai migrasi ke Linux, tetapi
>> ternyata di kosnya dia menggunakan Windows untuk kegiatan sehari – harinya.
>>
>> Masih belum cukup. Fakta lain yang terungkap adalah perusahaan –
>> perusahaan lokal yang terkenal sebagai penyedia support Linux, juga
>> menyediakan produk & servis untuk software yang hanya jalan di Windows.
>>
>> Sampai disini, ada saja Linuxer yang kecewa. DULU saya juga termasuk salah
>> satunya. Apalagi waktu itu saya masih begitu fanatiknya.
>>
>> Lalu? Ya lambat laun sudut pandang saya yang berubah. Saya tidak menjadi
>> sengit. Dulu saya kecewa karena salah saya sendiri memegang konsep yang
>> keliru. Beruntung saya bisa sadar kesalahan saya. Sekarang kata kunci yang
>> saya pegang adalah, yang terbaik itu memang “menggunakan software legal”.
>> Terserah OS nya apa. Tetapi lebih baik lagi kalau itu memberi *efek baik*
>> jangka panjang.
>>
>> Tapi, saya sekarang bertanya – tanya, selama transisi pergantian sudut
>> pandang saya ini, adakah Linuxer lain yang (masih, atau baru saja)
>> dikecewakan (seperti halnya saya dulu)?
>>
>> NOTE: Don’t get me wrong.. Tulisan ini hanya merepresentasikan bahwa di
>> luar sana ada para Linuxer yang sejak awal menggunakan pondasi konsep yang
>> tidak seharusnya. Saya sendiri butuh waktu lama untuk menyadari kekeliruan
>> saya.
>>
>>
>> --
>> Salam,
>> Suwito.
>> http://suwito.pomalingo.net
>>
>> ~Keep IT Simple, Stupid
>>
>>
>
>
>
> --
> Bonie Mania The Land Of Joy And Happiness
>
>
>
> ________________________________
> Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru
> Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan
> @rocketmail. br> Cepat sebelum diambil orang lain
> >
>

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
You received this message because you are subscribed to the Google Groups 
"Balikpapan Information, Communication & Technology Community" group.
 To post to this group, send email to [email protected]
 To unsubscribe from this group, send email to 
[email protected]
 For more options, visit this group at 
http://groups.google.com/group/balikpapan-ict?hl=en-GB
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke