Mati Perlahan Cara Indonesia

Di negeri yang religius ini, orang mati dikoyak bom bukan lagi
kejadian yang langka. Kepala tiba-tiba melayang dipenggal parang juga
bukan kejadian yang jarang. Maka, jangan tersinggung kalau Indonesia
dianggap sebagai sarang teroris. Perkelahian antaretnik atau kelompok
juga sering terjadi, yang juga meminta korban jiwa.

Jadi, kalau untuk urusan mati tiba-tiba, Indonesia boleh disebut
tempatnya. Artinya, jangan merasa heran kalau suatu saat teman atau
keluarga atau bahkan Anda sendiri, yang segar bugar, tiba-tiba
diberitakan meninggal karena serpihan bom, atau tewas karena zat
mematikan seperti arsen, sebagaimana yang dialami Munir sang aktivis
hak asasi manusia itu.

Begitu juga kalau anak gadis Anda tiba-tiba tewas karena dipenggal
orang tidak dikenal. Kejadian mati tiba-tiba seperti itu bukan lagi
sebagai peristiwa yang jarang di Indonesia.

Tetapi ternyata bangsa yang mengaku paling ramah dan taat beribadah
ini juga mampu melakukan pembunuhan secara perlahan-lahan. Cara yang
satu ini sangat bertolak belakang dengan cara teroris yang menggunakan
bom dan senjata pembunuh lainnya. Mati perlahan cara Indonesia
ternyata telah berlangsung lama, dan selama itu dibiarkan begitu saja.

Beberapa waktu terakhir ini, media massa gencar memberitakan beberapa
jenis makanan yang dikonsumsi oleh masyarakat luas yang ternyata
mengandung zat beracun, khususnya formalin, boraks, dan bahan pewarna
tekstil. Berita mengenai penggunaan bahan berbahaya dalam makanan
sehari-hari sebenarnya pernah muncul sekitar 20 tahun yang lalu. Kalau
beritanya pernah muncul 20 tahun yang lalu, hampir pasti bahan beracun
itu telah masuk ke perut masyarakat banyak sejak lebih dari waktu itu.

Tahu, bakso, mi basah, ikan kering, ikan segar, daging ayam, dan
sayuran adalah jenis makanan yang sangat populer dan dikonsumsi oleh
semua lapisan masyarakat. Celakanya, semua jenis makanan itu telah
dicemari dengan zat racun oleh para penjualnya.

Akan tetapi, ternyata tidak ada tindakan apa pun yang dilakukan oleh
pihak yang terkait. Mungkin karena konsumen tidak tampak berteriak
kesakitan dan berdarah meleleh membasahi wajah yang terluka. Artinya,
sekian lama warga bangsa ini dibiarkan mengonsumsi racun untuk
kemudian mati secara perlahan.

Barangkali banyak orang yang sekian lama mengonsumsi jenis makanan itu
mengatakan dirinya sehat-sehat saja. Pernyataan itu benar. Sebab,
formalin bukan seperti arsen yang mematikan dalam waktu singkat,
kecuali ditelan dalam jumlah besar dan dengan konsentrasi yang tinggi.
Akan tetapi, bahan pengawet mayat itu kalau terus masuk dan tertimbun
di dalam tubuh dapat menimbulkan berbagai kerusakan pada banyak organ.

Kanker merupakan salah satu akibat yang timbul, antara lain pada
paru-paru dan nasofaring. Hanya saja, pada tulisan ini saya tidak
ingin mengupas lebih jauh mengenai bahan beracun itu dalam kaitan
dengan kesehatan. Saya lebih tertarik menyoroti perilaku kita sebagai
bangsa, dalam kaitan dengan bahan beracun itu.

"Siapa takut?"

Salah seorang penjual tahu yang ternyata terbukti mengandung formalin,
ketika menjawab pertanyaan jurnalis TV menyatakan akan tetap menjual
makanan itu. Alasannya, karena dia telah menampung tenaga kerja.
Penjual yang lain menjawab akan tetap menjual karena tidak ada
pekerjaan lain.

Di pihak lain, warga masyarakat yang mengaku selalu mengonsumsi
makanan yang ternyata berformalin, dengan lugu mengatakan akan tetap
mengonsumsi. Alasannya sederhana, karena kematian ada di tangan Tuhan.

Kedua jawaban yang disampaikan oleh kedua pihak yang bertentangan itu,
yaitu penjual makanan beracun dan konsumen yang dirugikan, ternyata
mempunyai nuansa yang sama. Keduanya tidak peduli, atau dengan bahasa
gaulnya mungkin "siapa takut?"

Jawaban penjual, yang seakan menantang itu, mungkin dapat mewakili
perilaku sangat banyak warga bangsa ini yang tidak peduli terhadap
peraturan dan hukum. Kerap terjadi pengerahan massa yang disertai
kekerasan untuk memaksakan kehendak, padahal sangat jelas melanggar hukum.

Sebagai contoh, warga yang mendiami tanah orang lain, ketika diminta
meninggalkan tempat itu mereka justru menantang dan mengancam dengan
membawa senjata. Bisa jadi fenomena seperti inilah yang membuat pihak
berwenang tidak menyita atau menutup penjualan bahan makanan yang
beracun itu, walaupun mudah dijumpai di banyak tempat.

Di pihak lain, jawaban konsumen tampaknya dapat mewakili
ketidakberdayaan dan kebodohan kebanyakan warga bangsa ini. Banyak
contoh warga bangsa ini yang tertipu karena ketidakmengertiannya
sebagai konsumen. Setelah menjadi korban, mereka hanya pasrah walaupun
merintih juga. Tidak terpikir mau menuntut secara hukum. Andaikata
mau, harus berpikir berjuta kali, karena berarti harus terperangkap
dalam rimba bisnis hukum yang liar.

Makanan beracun formalin atau boraks hanyalah contoh aktual, karena
menyangkut sangat banyak orang. Tetapi sebelumnya sudah banyak juga
warga bangsa yang menjadi korban pembodohan sekaligus penipuan lewat
iklan, misalnya yang menawarkan penambahan ukuran penis dan pembesaran
payudara dengan cara yang tidak ilmiah.

Menunggu kematian

Kini beberapa pihak berwenang mulai buka suara akan mengambil tindakan
terhadap pihak yang menggunakan formalin. Penjual formalin eceran akan
ditindak, katanya. Padahal sudah lama penjualan formalin eceran
berlangsung dengan aman, termasuk melalui apotek. Padahal sangat jelas
formalin tidak boleh dijual secara bebas karena tergolong bahan beracun.

Bukankah fenomena seperti ini sudah berlangsung lama? Banyak obat yang
seharusnya tidak boleh dijual bebas, dibiarkan saja dijual bebas
seolah-olah legal seperti di apotek. Publik yang tidak mengetahui
bahwa obat itu sebenarnya tidak boleh dijual bebas, tetap saja
membelinya dengan bebas.

Narkoba juga menjadi penyumbang utama anak bangsa yang mati perlahan.
Jumlah korban narkoba di negeri ini terus meningkat. Ada pabrik
narkoba yang telah diserbu polisi. Akan tetapi, peredaran barang
pembawa maut itu tetap saja berlangsung; tenang tetapi meriah, dengan
korban semakin banyak.

Kegagalan memberantas narkoba sama saja dengan menambah jumlah warga
bangsa yang menunggu mati secara perlahan. Keterlibatan petugas yang
melindungi perdagangan narkoba (dan sejenisnya) sama saja dengan
keterlibatan pihak yang terkait dalam penjualan formalin secara bebas.

Kematian pengguna narkoba secara tiba-tiba karena kelebihan dosis
memang sering terjadi. Namun, di balik itu semua, jauh lebih banyak
yang tetap hidup sia-sia. Mereka tak berdaya, menjadi beban keluarga,
sambil menunggu mati secara perlahan. Lalu apa bedanya dengan sangat
banyaknya warga bangsa yang menjadi konsumen makanan berformalin itu?

Maka, tak dapat tidak, harus ada tindakan terprogram dan terpadu untuk
memberantas penjualan bebas formalin, selain narkoba dan bahan
pembunuh lainnya. Kalau tidak, saya khawatir akan dipatenkan sebuah
cara baru untuk mati: mati perlahan cara Indonesia.

Wimpie Pangkahila Pemerhati Sosial Kemasyarakatan






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Clean water saves lives.  Help make water safe for our children.
http://us.click.yahoo.com/CHhStB/VREMAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke