Sajak Politik "L Empat"

Budiarto Shambazy

Dalam keputusasaan menyaksikan carut-marutnya kehidupan politik
pascareformasi, sempat muncul usulan tentang perlunya dilakukan
”moratorium politik” di negeri ini. Politik membuat nasib kita
terombang-ambing, kepala kita puyeng, dan hati kita serasa tak
bernurani lagi.

Praktik politik yang diperankan para politisi sudah berbahaya dan
harus dihentikan, seperti perjanjian larangan uji coba senjata nuklir
di permukaan Bumi. ”Politik itu kotor,” kata seorang teman yang
telanjur kecewa setengah mati.

Moratorium politik itu bertujuan mencegah berkembangnya budaya
politics as usual yang kualitasnya tidak dapat lagi
dipertanggungjawabkan. Padahal, kita sedang mengalami krisis
multidimensional sejak tahun 1998.

Politik ibarat racun yang menewaskan, bukan layaknya madu Arab yang
bergizi. Politisi tak ubahnya tangan kiri yang berguna hanya untuk
pekerjaan kotor, seperti membasuh bagian badan tertentu di kamar mandi.

Politik cuma janji kosong yang lebih sering tidak memiliki arti.
Janji-janji sang politisi berubah terus dari hari ke hari sampai dia
bingung sendiri.

Akibatnya kita apatis berhubung besarnya kesenjangan antara janji
kampanye dan realisasinya. Hubungan antara para pemilih dan yang
terpilih, seperti kata pepatah, ”bertepuk sebelah tangan dan tidak
ada bunyinya”.

Sikap apatis perlahan-lahan berubah menjadi sikap apolitis.
Jangan-jangan jumlah pemilih yang menggunakan hak pilihnya pada pemilu
tahun 2009 nanti malah melorot drastis.

Anda pasti ingat teori Harold Lasswell yang orang Amerika Serikat itu.
Ia memperkenalkan definisi politik dengan kalimat ”who gets what,
when, and how” yang terkenal itu.

Artinya, politik merupakan urusan kekuasaan semata-mata. Paling
penting siapa orang yang merebutnya, tepat waktu dalam melakukannya,
dan tahu bagaimana cara mendapatkannya.

Kalau Lasswell hidup di sini, dia akan kecewa sendiri. Ia akan
mengatakan bahwa politisi di Indonesia berprinsip ”mumpung terpilih,
langsung memperkaya diri, dan segera lupa diri”.

Korupsi terbesar ternyata dilakukan oleh partai politik, itu bukan
lagi berita. Andai partai merupakan institusi paling bersih di negeri
ini, ini baru berita!

Nyaris semua partai politik mengalami konflik runcing dan saling
tuntut di pengadilan. Tak sedikit pula politisi yang keluar
ramai-ramai dari partai masing- masing untuk mendirikan partai-partai
tandingan.

Lihat saja perpecahan di kalangan partai-partai nasionalis. Sys NS
keluar dari Partai Demokrat dan kini ada pecahan PDI-P, yakni Partai
Demokrasi Pembaruan yang dipimpin Ketua Harian Roy BB Janis.

Politics as usual juga tampak jelas dari perombakan Kabinet Indonesia
Bersatu belum lama ini. Merekalah harus bertanggung jawab karena
berbuat sesuka hati tanpa pernah memikirkan kepentingan bangsa ini.

Namun, bukankah hidup ini politik? Setiap tindakan orang rumah,
karyawan di kantor, pedagang di pasar, ataupun pengendara di jalan tak
mau ketinggalan untuk berpolitik.

Politik disukai orang, mulai dari pedagang sampai artis. Politik juga
mengasyikkan karena waktu kampanye Anda pun setidak-tidaknya kebagian
sembako dan kaus gratis.

Tahun ini dunia politik mungkin masih tak jauh berbeda dengan tahun
sebelumnya. Tahun 2007 setiap politisi mulai ancang-ancang untuk pesta
demokrasi dua tahun setelahnya.

Tahun 2008 menjadi countdown politik yang jauh lebih ingar-bingar
dibandingkan dengan Piala Dunia sepak bola. Dan tahun 2009 hati kita
semua dag-dig-dug menunggu-nunggu hasil penghitungan suara.

Anda yang berminat harus bersiap-siap dari sekarang kalau tidak mau
ketinggalan kereta. Tiga setengah tahun yang tersisa menjelang April
dan Juli/Agustus 2009 bukanlah waktu yang lama.

Pertempuran antarkubu masih melanda Partai Golkar. Tantangan bagi
mereka adalah menunjukkan diri sebagai partai terbesar dan tetap
berurat akar.

Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla pada tahun 2009 bukan tak mungkin
akan mencalonkan diri sebagai presiden. Masih tanda tanya siapakah
gerangan yang akan mendampinginya sebagai wakil presiden?

Jusuf Kalla sangat dekat dengan Aburizal Bakrie. Kalau dari segi dana
dan sarana, duet calon presiden/wakil presiden Kalla-Bakrie ini pasti
sangat disegani.

Partai Demokrat Juni 2005 telah memutuskan pada tahun 2009 kembali
mendukung pencalonan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai calon
presiden untuk kedua kalinya. Kalau Presiden Yudhoyono membasmi
korupsi tanpa pandang bulu, ia berpeluang besar mempertahankan jabatannya.

Di Maluku beberapa waktu lalu mantan Presiden Megawati Soekarnoputri
menyatakan akan kembali mencalonkan diri. Konon calon wakil
presidennya adalah Akbar Tandjung yang jika terpilih akan berperan
sebagai perdana menteri.

Masih banyak orang yang bertanya kepada saya, apakah Pak Amien Rais
masih tertarik menyumbangkan tenaganya? Rupanya banyak orang yang tak
rela dan lebih suka ia menjadi bapak bangsa kita.

Demikian juga dengan mantan Presiden Abdurrahman Wahid yang berjubel
pendukungnya. Seperti Pak Amien Rais, Gus Dur cocok menjadi
penggembala bangsa saja.

Pak Wiranto pun masih diingat sebagai calon presiden yang menawarkan
”kepemimpinan yang kuat”. Mudah-mudahan pada tahun 2009 nanti ia
masih sehat walafiat.

Politisi-politisi muda janganlah kecil hati. Dari sekarang siapkan dan
lancarkan strategi kampanye ”L Empat” untuk menyerang mereka yang
lama: ah, lu lagi lu lagi!”





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Clean water saves lives.  Help make water safe for our children.
http://us.click.yahoo.com/CHhStB/VREMAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke