Pakaian, Politik, dan Identitas Bangsa

Achmad Sunjayadi

Jangan nilai orang dari pakaiannya. Inilah nasihat yang sering kita
dengar. Maksudnya, penampilan bukanlah hal penting karena masih ada
unsur lain yang jauh lebih penting.

Bukti dari nasihat ini adalah penampilan para pencopet profesional
yang beroperasi di bus-bus Ibu Kota. Dengan penampilan perlente mirip
para pekerja kantoran, mereka beroperasi mencari mangsa sehingga siapa
yang lengah, tak sadar dompet atau telepon genggam sudah berpindah
tempat. Penampilan perlente para copet ini pun sebenarnya sudah sejak
dahulu. Tepatnya pada tahun 1940-an sebelum Jepang masuk. Para copet
itu tak hanya perlente dan klimis, tetapi juga mengeluarkan kata-kata
manis, enak dijadikan teman mengobrol namun saat kita lengah "tangan
terampil" mereka bekerja.

Sebaliknya, ide bahwa penampilan merupakan hal yang penting inilah
yang justru ditampilkan dalam buku Outward Appearances ini. Cara
berpakaian dianggap dapat membantu memahami perkembangan serta
identitas suatu masyarakat. Pakaian memang memiliki arti penting
seperti yang diungkapkan Henk Schulte Nordholt dengan mengutip cerita
tentang kemeja dari dua mantan presiden Indonesia. Pertama, pengalaman
memalukan mantan Presiden Soeharto tentang kemeja. Kemeja yang dibuat
nenek buyutnya ternyata tidak diberikan kepada dirinya, melainkan
kepada sepupunya sehingga Soeharto merasa dipermalukan dan merasa
kasihan kepada dirinya sendiri. Lain lagi dengan anekdot Soekarno
tentang kemeja yang diceritakan almarhum Romo Mangun ketika menerima
penghargaan Profesor A Teeuw tahun 1996. Ketika Hatta, Syahrir, dan
Soekarno dipenjarakan selama revolusi, mereka diperbolehkan meminta
beberapa benda tertentu. Hatta meminta buku-buku, Syahrir meminta
koran berbahasa Belanda, sedangkan Soekarno meminta kemeja Arrow yang
baru (hal 30-31).

Sebelas tulisan dengan berbagai sudut pandang mengenai penampilan luar
ditampilkan dalam buku ini, yaitu tulisan Kees van Dijk, Jean Gelman
Taylor, Rudolf Mrázek, Elsbeth Locher-Scholten, Henk Maier, William H
Frederick, James Danandjaja, Klaus H.Schreiner, Jacques Leclerc, Teruo
Sekimoto, dan Lizzy van Leeuwen.

Diawali dengan tulisan Kees van Dijk yang menyuguhkan tinjauan
historis, berawal dari kontak pertama penduduk setempat dengan bangsa
Eropa pada abad ke-17 hingga perkembangan terbaru. Dalam tulisannya,
Van Dijk menjelaskan bagaimana pakaian dijadikan bagian dari alat
kontrol VOC. Misalnya, VOC melalui ordonansi tahun 1658 meminta orang
Jawa di Batavia memakai kostum mereka sendiri dan melarang mereka
berbaur dengan "bangsa" lain (hal 67). Van Dijk juga mengungkapkan
setelan safari hingga kemeja batik longgar yang diperkenalkan Ali
Sadikin pada tahun 1970-an sebagai alternatif pengganti setelan Barat
yang kurang nyaman bagi iklim Jakarta yang panas dan lembab (hal 108).

Sementara itu, Jean Gelman Taylor mengungkapkan perspektif jender
dalam mengeksplorasi bagaimana negara kolonial telah mendorong
perbedaan penampilan antara pria dan perempuan. Misalnya dalam hal
kostum nasional yang dikembangkan oleh Soekarno dan Soeharto. Kostum
itu terdiri dari setelan Barat bagi para pria dan kain kebaya bagi
para perempuan. Kain kebaya yang dililitkan dengan kencang seakan
mencegah gerakan yang cepat dan nyaman bagi para perempuan. Kain
kebaya juga dianggap mencirikan bangsa yang non-Barat serta dianggap
mewakili esensi bangsa (hal 162). Di samping itu, Taylor
memperlihatkan proses pembentukan negara kolonial disertai dengan
suatu sejarah sosial mengenai perubahan aturan berpakaian yang kelak
warisannya dapat ditemukan dalam penampilan publik para pemegang
kekuasaan di Indonesia saat ini.

Lain halnya dengan Rudolf Mrázek yang membahas perubahan-perubahan
yang terjadi sejak permulaan awal abad ke-20 ketika elite baru
masyarakat Indonesia lahir hingga tahun 1940-an. Mrázek menghubungkan
antara nasionalisme dan lahirnya kenecisan pribumi. Ia menggambarkan
bagaimana orang "pribumi" mengenakan pakaian Belanda untuk menempatkan
dirinya ke dalam sebuah masyarakat kolonial yang "modern" (hal 190).
Hal menarik yang juga diungkap adalah gaya berpakaian Syahrir sewaktu
kembali dari Belanda. Padahal, sewaktu tinggal di Belanda ia terkenal
cukup "gaul" dengan golongan radikal. Ketika kembali dari Belanda pada
akhir tahun 1931, ia berpakaian cukup memprihatinkan. Seperti yang
digambarkan Soewarsih Djojopuspito bagaimana Syahrir hanya mengenakan
selop besar yang tampaknya pinjaman, selembar sarung bernoda, dan
tutup kepala. Ditambah dengan lengan jas yang terlalu panjang dan tak
jelas lagi warna aslinya (hal 206).

Gaya berpakaian pemuda di Jawa Timur pada masa revolusi merupakan tema
tulisan William H Frederick. Dengan rambut panjang menjuntai, pakaian
militer, dan sepucuk pistol merupakan ciri khas gaya para pejuang di
masa revolusi. Terkadang ditambah dengan kumis dan jenggot (hal 347).
Penampilan seperti itu bila mengikuti standardisasi Benedict Anderson
berhubungan dengan "tradisi jago". Namun, ada juga para pemuda pejuang
berpenampilan klimis karena menganggap kumis dan berewok dikaitkan
dengan kriminal yang akan menjadi sasaran pasukan Belanda serta tak
disenangi penduduk yang khawatir kalau-kalau mereka gerombolan
perampok (hal 349).

Hal menarik lainnya adalah pemakaian alas kaki yang dikaitkan dengan
ideologi tertentu seperti yang diuraikan James Danandjaja. Adalah
sandalet, sejenis alas kaki kulit dengan dua ban yang disebut sandal
(dari bahasa Belanda sandaal) yang diperkenalkan di masa pendudukan
Jepang. James Danandjaja menduga sandalet diperkenalkan karena
langkanya kulit dan kaus kaki (hal 372).

Sandalet ini bertahan cukup lama hingga keberadaannya terhenti
tiba-tiba persis seperti saat permulaan pemakaiannya. Pada masa
Soekarno, sandalet terkenal dan populer di kalangan guru dan dosen
karena nyaman, murah, dan sangat cocok untuk iklim tropis. Namun,
setelah 30 September 1965, tidak seorang pun berani mengenakannya.
Sandalet "dilarang" karena diidentikkan dengan Lembaga Kebudayaan
Rakyat (Lekra) atau Himpunan Sarjana Indonesia (HIS) yang dianggap
bersimpati kepada Partai Komunis Indonesia (PKI). Bahkan, James
menuturkan pengalamannya sewaktu menjadi dosen paruh waktu di
Universitas Kristen Indonesia. Ada poster yang bertuliskan: "Siapa
yang Pakai 'Sandalet' adalah PKI". Karuan saja sebagai pemakai
sandalet, James terpaksa berhenti memakainya dan hingga kini terpaksa
memakai sepatu dan kaus kaki yang tidak nyaman (hal 373).

Penampilan luar atau pakaian dan politik merupakan hal yang tak dapat
dipisahkan. Kita tentu masih ingat sewaktu pemilu setelah reformasi
1998, mereka yang mengenakan kaus Partai Golkar dengan warna kuningnya
yang khas justru menjadi sasaran amukan para pendukung partai lainnya.
Suatu hal yang berbanding terbalik dengan masa sebelumnya ketika semua
diwarnai kuning.

Pada saat-saat menjelang lengsernya Gus Dur sebagai presiden, kita
disuguhi penampilan cukup menarik dari sang presiden. Dengan
mengenakan celana santai, beliau melambaikan tangan kepada para
pendukungnya di depan Istana. Penampilan yang langka dari seorang
presiden.

Tuntutan para anggota Dewan kita yang terhormat untuk biaya pakaian
pun beberapa waktu lalu juga menjadi suatu hal yang menarik untuk
disimak. Mungkin saja sebelum diangkat sumpahnya menjadi anggota
Dewan, mereka hanya terbiasa mengenakan kaus dan sandal, tetapi
berhubung sudah berubah status dan harus menahan udara dingin dalam
Gedung MPR/DPR, tidak ada salahnya jas menjadi pilihan daripada masuk
angin.

Buku ini meskipun memiliki sedikit kekurangan, seperti tidak adanya
nama penulis Lizzy van Leeuwen di daftar isi, cukup menarik untuk
disimak dan masih aktual. Alasannya karena mengupas sesuatu yang
kasatmata dari apa yang dikenakan negara dan masyarakat Indonesia. Hal
itu merupakan perwujudan dari pencarian identitas Indonesia. Identitas
Indonesia yang masih berproses. Seperti halnya jawaban yang harus kita
berikan bila kita ditanya yang manakah pakaian asli Indonesia itu?

Achmad Sunjayadi, Pengajar Luar Biasa di Fakultas Ilmu Pengetahuan
Budaya dan Fakultas Hukum UI





http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke