Dari Qasim Untuk Aa Gym
Oleh M. Guntur Romli
11/12/2006

Karena itu, bila kini Teh Ninih agak tergoncang ketika tahu dipoligami
Aa Gym, kemungkinan itu manusiawi dan sudah bisa ditebak. Bukan karena
Teh Ninih kurang shalihah dan tak patuh. Ia patut saja kecewa dan cemburu.

Perempuan yang dipoligami bisa saja tunduk pada apa yang dianggap
titah agama, namun mereka tak bisa tunduk pada satu hal: kodrat
manusia. Yaitu, rasa cemburu dan tak mau berbagi. Begitu juga
istri-istri Rasulullah: perempuan-perempuan yang terpilih karena
kesalehan dan kecantikannya. Madinah memberi Rasulullah sebelas istri.
Sebelumnya, Mekkah mengabadikan cintanya pada seorang istri saja:
Khadijah.

Sebagai suami, Rasulullah adalah manusia biasa. Rumah tangganya juga
tak lepas dari rundungan persaingan dan kecemburuan. Demikianlah
Bintus Syathi'—nama pena Aisyah Abdurrahman—mengisahkan sisi manusiawi
rumah tangga Rasulullah dalam bukunya, Nisâ'un Nabî (Istri-Istri Nabi).

Aisyah putri Abu Bakar cukup dikenal pecemburu. Ia kadang tidak puas
dengan posisinya sebagai istri terkasih. Saban Rasulullah membawa
istri baru, rasa cemburu selalu saja datang dan menyiksa Aisyah.
Padahal ia telah berkali-kali dipoligami.

Alkisah, rombongan Rasulullah baru kembali dari Khaibar. Mereka
mengalahkan suku Yahudi Bani Nadhir. Sebelumnya tersiar kabar bahwa
Rasulullah telah menikahi Shafiyah, putri jelita penguasa Bani Nadhir.
Aisyah menyambut Rasulullah dengan penuh cemburu. Ia mengamati madunya
yang singgah di rumah Haritsah bin Nu'man; rumah yang selalu menjadi
titipan bila Rasulullah mempersunting istri baru. Rasulullah tertawa
dengan sikap Asyah. Tapi beliau tak lupa merayu, "apa yang kau amati,
cantik?" Aisyah menjawab ketus: "Aku melihat seorang perempuan
Yahudi!" Rasulullah menyanggah, "Jangan berkata begitu. Ia sudah masuk
Islam, dan akan menjadi muslimah yang baik." Aisyah tak peduli. Ia
bergegas pergi.

Shafiyah lalu menjadi bulan-bulanan istri-istri Nabi lainnya yang juga
cemburu. Ia sering diejek "perempuan Yahudi". Suatu hari, Shafiyah
ikut serta dalam safari Rasulullah bersama istrinya yang lain: Zainab
putri Jahsy. Di tengah perjalanan, unta Shafiyah cidera. Rasulullah
membujuk Zainab agar berbagi punggung unta dengan Shafiyah. Zainab
menolak sambil berkata, "aku harus berbagi dengan perempuan Yahudi
itu?" Rasulullah murka. Konon, beliau tidak mendatangi Zainab dua-tiga
bulan.

Karena itu, bila kini Teh Ninih agak tergoncang ketika tahu dipoligami
Aa Gym, kemungkinan itu manusiawi dan sudah bisa ditebak. Bukan karena
Teh Ninih kurang shalihah dan tak patuh. Ia patut saja kecewa dan
cemburu. Aa Gym adalah sosok yang terlalu diidolakannya. Sebagai
lelaki dan suami, ia nyaris sempurna. Apalagi istri baru Aa lebih muda
dan lebih cantik.

Di zaman Rasulullah, istrinya yang tak pernah cemburu dan rela berbagi
dengan yang lain adalah Saudah. Ia berbadan gemuk, memang tidak
cantik, dan hampir saja ditalak. Untuk itu, ia sering merelakan
giliran malamnya buat Aisyah.

Kecemburuan dan persaingan memang sangat nyata dalam keluarga yang
berpoligami. Agama tak akan sanggup menafikannya. Keluarga akan tumbuh
kurang sehat, penuh kecurigaan, dan tak jarang menimbulkan pertengkaran.

Demi melihat kenyataan itu, Qasim Amien, pemikir feminis terkenal dari
Mesir, sudah mengingatkan bahaya budaya poligami bagi masyarakat. Bagi
Qasim—seperti yang ia tulis dalam buku Tahrîrul Mar'ah—poligami adalah
pelecehan bagi perempuan. Alasannya bukan dalil agama, tapi kodrat
manusia. Bagi Qasim, "tak ada isteri yang rela bila ada perempuan lain
ikut menyintai suaminya. Sama tak relanya seorang suami bila ada
laki-laki lain yang ikut menyintai istrinya. Cinta adalah kodrat, baik
bagi laki-laki maupun perempuan."

Bila Rasulullah berpoligami, kenyataan itu bisa dimaklumi. Saat itu,
perempuan memang tak punya hak sama sekali. Ia bisa ditanam
hidup-hidup atau menjadi barang warisan. Sayangnya, tak ada riwayat
yang mengabarkan kesan Rasulullah terhadap hidup bersama satu istri
dibandingkan banyak istri. Yang ada, Rasulullah senantiasa merindukan
sosok Khadijah: istri tunggalnya di Mekkah. Apakah Rasulullah juga
merindukan kehidupan monogami? Saya tak tahu. Mungkinkah kelak Aa bisa
berbagi pengalaman, sebelum dan setelah berpoligami? []

Kirim email ke