Nasib Petani
"TEU NGARTOS PROGRAM, NU PENTING ABDI SEJAHTERA..."

Pada pagi hari yang tidak terlalu panas, Rabu (24/1), Anang (50)
menggarap sebidang sawah. Petani di Kelurahan Melong, Kecamatan Cimahi
Selatan, Kota Cimahi, itu mencangkul sawahnya. Padahal, biasanya ia
mampu mengupah buruh.

Kemarau panjang sudah dua kali menggagalkan penanaman benih padi di
sawah Anang. Padahal, biayanya cukup besar, sekitar Rp 2,5 juta sekali
penanaman. Biaya itu untuk membeli pupuk, obat, benih, menyewa traktor
tangan, dan mengupah buruh.

Kerugian yang dialami Anang membuatnya tidak lagi mempekerjakan buruh
dengan upah Rp 20.000 per hari. Dia harus menggarap sendiri sawah
seluas 1,5 hektar. Hasil panen yang didapat, biasanya sekitar 2 ton
gabah, harus dibagi dengan pemilik lahan.

Anang tidak pernah tahu program-program untuk sektor pertanian di Jawa
Barat, begitu pula untuk tahun ini. Padahal, tahun ini Pemerintah
Provinsi Jawa Barat menetapkan pertumbuhan dan pengembangan sektor
pertanian sebagai fokus pembangunan ekonomi tahun 2007.

"Ah, teu ngartos soal program mah, nu penting abdi hoyong sejahtera
(tidak mengerti soal program, yang penting saya ingin sejahtera),"
katanya.

Jika soal program tidak dimengerti, penggunaan dana dalam bentuk
bantuan atau perhatian pun belum dirasakan Anang. Petugas dari dinas
terkait belum pernah terjun langsung memantau kondisi sawahnya.

"Tidak pernah ditengok. Bantuan pupuk benih, atau obat tidak pernah
ada. Coba kalau ada. Susah nasib petani zaman sekarang," ujarnya.

Kalaupun Anang pernah melihat pelaksanaan program seperti pemberian
bantuan benih, bentuknya hanya sebatas tayangan di televisi. Itu pun
dilakukan di daerah lain, seperti Kabupaten Karawang atau Cianjur.

Sejak menjadi petani 20 tahun lalu, ia selalu bekerja dengan upayanya
sendiri. Tidak memiliki keterampilan lain memaksanya tetap bertahan di
sektor pertanian.

Jangankan orang tua seperti dirinya, kata Anang, anak muda pun sulit
mencari pekerjaan.

Juna (78), petani di Kelurahan Margasenang, Kecamatan Margacinta, Kota
Bandung, juga merasakan masalah yang sama.

Kekeringan telah membuat sawah yang digarapnya sempat tidak bisa
ditanami. Tanah kering hingga retakannya mencapai 10 sentimeter. Kini,
sawahnya baru bisa ditanami setelah hujan turun cukup deras.

Seperti Anang, meski tidak banyak mengetahui dan merasakan program
pertanian, perhatian pemerintah daerah menjadi hal yang dibutuhkan
Juna dalam mengolah sawah.

"Bantuan sih tidak pernah ada. Tapi, kalau bertemu petugas pertanian,
ingin tahu apakah cara menanam padi yang saya lakukan sudah benar,"
katanya.

Demikian pula dengan jenis pupuk, obat, benih, serta jarak
antartanaman padi yang digunakan, Juna ingin mengetahuinya agar hasil
panennya lebih bagus.

Sawah yang digarap Juna sekitar 7.000 meter persegi, menghasilkan
sekitar 4 ton gabah sekali panen. Hasil panen itu harus dibagi dengan
pemilik lahan. Pengerjaan sawah yang dilakukan Juna hanya berpegang
pada rujukan petani setempat. (dwi bayu radius)   

Kirim email ke