Tak Cukup dengan Dana Kemiskinan Program Keluarga Harapan Pengganti BLT Jakarta, Kompas - Optimisme terhadap penanganan masalah kemiskinan memang wajib diusung oleh pemimpin negara. Akan tetapi, menjadi ironi ketika pada hari yang sama data Bank Indonesia menunjukkan pertumbuhan ekonomi tidak berkualitas karena tidak mampu menyerap tenaga kerja.
Ekonom Faisal Basri, Kamis (1/2) di Jakarta, menyebutkan, ironi tersebut merupakan tantangan nyata bagi pemerintah. "Tidak cukup sekadar menawarkan alokasi dana penanganan kemiskinan yang makin besar dari tahun ke tahun. Tantangan nyatanya adalah bagaimana mengimplementasikan kebijakan yang mendukung penciptaan lapangan kerja," ungkap Faisal. Secara terpisah, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia Benny Sutrisno menjelaskan, di satu sisi perbankan menghendaki sektor riil lebih dulu bergerak agar kredit perbankan lebih cepat tersalurkan. Di sisi lain, pelaku sektor riil menuding rendahnya penyaluran kredit perbankan memperlambat pertumbuhan sektor riil. Menurut Benny, perbedaan ekspektasi itu perlu dijembatani dengan kompetensi manajemen risiko perbankan serta kebijakan pemerintah, baik terkait sektor keuangan maupun sektor riil. "Apakah risiko manajemen perbankan itu cukup kredibel pada setiap sektor usaha. Risiko pada suatu sektor usaha itu dari tahun ke tahun bisa jadi berbeda, apakah kondisi lapangan itu selalu di-up-date dalam manajemen risiko perbankan?" ujar Benny. Pemerintah sendiri, dinilai Benny, memang turut berperan membesarkan sektor keuangan dengan membiarkan dana masyarakat terserap ke obligasi, antara lain dengan tidak membatasi penerbitan Surat Utang Negara. Di sisi lain, dukungan pemerintah pada sektor riil melalui skema insentif fiskal dan nonfiskal tidak kunjung jelas. Sementara itu, ekonom M Chatib Basri mengingatkan, penurunan tingkat bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) memang tidak akan menjamin kredit perbankan akan tersalurkan pada sektor riil. Kondisi demikian terjadi karena sektor riil masih dipandang berisiko tinggi. "Akibatnya, penurunan tingkat bunga yang sangat cepat hanya akan direspons oleh sektor konsumsi. Jika konsumsi meningkat, sedangkan produksi tidak bertumbuh, tentu akan berefek pada inflasi," kata Chatib Basri. Sektor riil yang dipandang berisiko tinggi dan tidak bertumbuh signifikan pada tahun terakhir, ditekankan Chatib, adalah industri pengolahan yang padat karya. Kekakuan pada pasar tenaga kerja Indonesia yang mengakibatkan industri padat karya tidak tumbuh adalah persoalan nyata. Selama ini pertumbuhan ekonomi pada sektor riil didorong oleh industri nonpadat karya, seperti perdagangan, telekomunikasi, dan transportasi. Program Keluarga Harapan Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan mengungkapkan, mulai bulan April 2007, BPS akan melakukan uji coba penyaluran dana Program Keluarga Harapan sebagai pengganti program bantuan langsung tunai (BLT) kepada 500.000 keluarga miskin, yang tersebar di tujuh provinsi, antara lain, di DKI Jakarta, Jawa Barat, Gorontalo, dan Sumatera Barat. Staf Ahli Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bidang Sumber Daya Manusia dan Kemiskinan Bambang Widianto menyebutkan, pemerintah menganggarkan dana Rp 40 triliun untuk mendukung program pengentasan kemiskinan dan penurunan pengangguran di 2007. Penurunan jumlah penduduk miskin, ujar Bambang, dapat dilakukan dengan menurunkan jumlah pengangguran dari 10,9 juta jiwa menjadi 10,7 juta jiwa atau 9,9 persen dari angkatan kerja. (OIN/MAS/OSA/DAY)
