"Ngurek"

BERALIH fungsinya ribuan hektare sawah di tanah Jawa, yang "disulap"
jadi perumahan, mal, pabrik, dan tempat-tempat bisnis lainnya:
ternyata pada satu sisi bisa menyebabkan musnahnya perkembangan dan
pertumbuhan ikan belut yang hidup di lahan tersebut. Yang musnah bukan
hanya ikan belut, katak sawah, tutut sawah, dan berbagai serangga yang
hidup di situ pun bisa pula lenyap.

Memang benar, di berbagai lahan pesawahan yang belum "disulap" jadi
perumahan, pabrik, mal, dan tempat-tempat bisnis lainnya itu: --ikan
belut, katak sawah, tutut sawah, dan binatang serangga lainnya masih
hidup--. Namun demikian, bila sisa lahan pesawahan terus digasak untuk
kepentingan semacam itu, tidak mustahil apa yang dimakan ikan belut
dan binatang lainnya itu hanya akan tinggal nama, yang dikekalkan
orang di buku-buku biologi, zoologi, dan buku cerita kanak-kanak.
Selain itu, boleh jadi tradisi ngurek (mancing belut) di sawah pun
ikut tumpur pula.

Sayang memang jika dikemudian hari, ikan belut harus lenyap dari bumi
Indonesia, khususnya yang tumbuh di sawah. Memang benar, belut tidak
hanya tumbuh dan berkembang di sawah, tetapi juga bisa berkembang biak
di sungai, empang, dan rawa. Tapi soalnya yang paling mudah dipancing
(diurek) adalah belut yang hidup di sawah, khususnya ketika masa tanam
padi tiba. Baik ketika lahan pesawahan sudah diwuluku maupun sudah
ditanami padi yang baru tumbuh tiga minggu.

Para petani dan sebagian kecil orang kota di negeri ini memang suka
makan ikan belut. Dan di Jepang, orang yang suka makan ikan belut itu
bukan hanya kalangan petani, tetapi juga kalangan lainnya. Apa sebab
mereka suka daging belut? Menurut para ahli gizi, di dalam daging
belut sebanyak 100 gram, terkandung protein 14 persen, lemak 27
persen, zat besi 1,0 miligram, kalsium 20 miligram, vitamin A 1.600 SI
(satuan Internasional), vitamin B 0,1 mg, dan vitamin C 2,0 miligram.
Wah, semua itu tentunya sangat dibutuhkan oleh tubuh kita. Demikian
jelas sudah bahwa memakan ikan belut yang sudah dimasak banyak
menfaatnya bagi kesehatan tubuh kita.

Selain daging belut yang enak dimakan, adalah daging sidat atau
lubang. Ikan jenis ini sungguh susah diurek, sebab jarang hidup di
sawah selain di muara sungai. Ikan daging ini sangat digemari karena
tekstur dagingnya sungguh lembut selain berkhasiat untuk kesehatan.
Para ahli gizi pun mengatakan di dalam daging lubang atau sidat itu
mengandung protein sebesar 16,4% dan vitamin A 470IU. Di sebuah
restoran Cina, di Belanda saya terkaget-kaget seusai menyantap seporsi
daging ikan sidat campur belut yang harganya begitu mahal. Menurut
mereka, bahan makanan tersebut didatangkan dari Indonesia dan Thailand.

Sebagai binatang carnivora, siklus hidup ikan sidat sangat unik, yakni
hidup di dua alam: ia berpijah di laut, lalu bayi-bayi sidat akan
mencari air tawar untuk melanjutkan hidupnya setelah dewasa kembali
lagi ke laut. Selain itu, ada pula yang mengatakan,ikan sidat atau
lubang itu, pada dasarnya adalah belut laut yang ukuran tubuhnya lebih
besar dari belut. (Soni Farid Maulana/"PR")***

Kirim email ke