Mengimbangi Evolusi Terorisme
Jumat, 5 Desember 2008 | 00:21 WIB

Luki Aulia

Tidak ada satu tempat pun di dunia ini yang luput dari incaran
teroris. Tidak juga simbol kosmopolitan India dan tempat lahirnya
Bollywood, Mumbai. Sejak serangan 11 September di AS, belum pernah
terjadi serangan teroris yang terkoordinasi rapi seperti di Mumbai,
pekan lalu.

Dalam waktu kurang dari satu jam, 10 pria muda menyerbu 10 lokasi.
Pasukan elite India membutuhkan waktu sekitar 60 jam untuk menaklukkan
teroris yang menguasai Hotel Taj Mahal, Trident/Oberoi, dan pusat
budaya komunitas Yahudi. Dalam serangan terkoordinasi itu, 183 orang
tewas dan 327 orang terluka. Salah satu anggota kelompok pelaku
serangan (mengaku bernama kelompok Lashkar-e- Taiba) yang ditangkap
mengaku mendapat pelatihan perang selama enam bulan.

Maria A Ressa dalam bukunya Seeds of Terror: An Eyewitness Account of
Al-Qaeda's Newest Center of Operations in Southeast Asia menilai
taktik serta metode yang digunakan "Kelompok Mumbai" menunjukkan mulai
adanya evolusi kelompok-kelompok teroris. Serangan teroris kini tidak
hanya beranggotakan "orang asing", tetapi mayoritas anggotanya—jika
tidak seluruhnya—justru lahir dan besar di India. Menggunakan taktik
asing, mereka menciptakan bentuk ancaman baru.

Majalah The Economist (edisi 29 November-5 Desember 2008) menyebutkan,
tiap kali terjadi serangan teroris di India, selalu saja pihak luar
yang menjadi kambing hitam. Biasanya Pakistan atau terkadang
Banglades. Kali ini pun India kembali menuding Pakistan ada di balik
serangan di Mumbai. Muncul kekhawatiran hubungan India- Pakistan
kembali memburuk, bahkan ke "titik nol".

Padahal, baru saja hubungan di antara kedua negara tetangga pemilik
senjata nuklir itu mulai bersahabat meski diakui terkadang masih ada
sedikit curiga. Keduanya sepakat rekonsiliasi daripada konfrontasi.
Pakistan pun sudah berjanji tidak akan menjadi pihak pertama yang
menggunakan senjata nuklir jika terjadi konflik di antara mereka.

Pakar terorisme Institut Studi Perdamaian Pakistan, Amir Rana, dalam
majalah Time mengingatkan India agar tidak gegabah menuding Pakistan
karena serangan Mumbai adalah terorisme transnasional. "Teroris tidak
mengenal batas wilayah. Mereka bertemu di Dubai bahas logistik. Lalu,
membuat rencana di Kathmandu. Pelatihan dilakukan di Pakistan atau
Banglades. Senjata bisa dipasok Macan Tamil di Sri Lanka atau Maois
atau bisa siapa saja," ujarnya.

Bahkan, Brahma Chellaney dari Pusat Studi Strategis Penelitian
Kebijakan dalam harian The Economic Times mengingatkan India untuk
introspeksi diri. Di antara semua korban terorisme di dunia, India
tidak memiliki doktrin antiteror. India juga belum memiliki kemauan
politik untuk melawan terorisme. Tak ada satu pun kasus serangan
teroris yang terungkap.

Berbagai pihak mengharapkan Pakistan juga introspeksi diri untuk
menumpas berbagai kelompok teroris yang diduga sembunyi di perbatasan
antara Afganistan dan Pakistan. Selama ini Pakistan dianggap kurang
serius menumpas kelompok teroris. Akibatnya, daerah-daerah perbatasan
menjadi tempat persembunyian paling nyaman karena terlindung bukit dan
pegunungan.

Pengalih perhatian

Banyak pihak menilai serangan Mumbai merupakan usaha untuk mengalihkan
perhatian dari upaya Pakistan-AS dalam menumpas kelompok teroris di
wilayah perbatasan Afganistan dan Pakistan. Jika kondisi memburuk dan
masing-masing pihak mengerahkan pasukan ke daerah perbatasan, seluruh
proses perdamaian akan rusak. Seluruh fokus perlawanan di perbatasan
pun hilang. Hasil inilah yang justru sangat diinginkan teroris.

AS juga khawatir dengan ketegangan kedua negara. Apalagi ada laporan
dari Komite Antisipasi Proliferasi Senjata Pemusnah Massal dan
Terorisme di Kongres yang memperkirakan teroris akan melancarkan
serangan ke suatu tempat dengan senjata nuklir atau biologis lima
tahun ke depan.

Majalah Newsweek menyebutkan, serangan teroris di Mumbai menjadi
semacam peringatan betapa pentingnya kerja sama antiterorisme bukan
hanya antara India dan Pakistan, tetapi juga komunitas internasional.
Perang antara India dan Pakistan sama saja dengan bunuh diri. Tidak
akan ada yang untung.

Fareed Zakaria di Newsweek mengemukakan, masalah di India, Pakistan,
Afganistan, dan Banglades kini saling memengaruhi. Pendekatan nasional
dalam memerangi terorisme tidak akan cukup. Solusi terbaik hanya
dengan kerja sama kawasan regional.

"Satu hal yang harus diingat. Kita menghadapi musuh bersama, yakni
teroris. Harus dilawan bersama," tulisnya.

Kirim email ke