Lamun aya babandinganana mah... Misalna mun teu datang bangsa Eropah kaayaan bangsa2 urang di Nusantara bakal kieu kieu kieu kieu... Tapi kusabab datang Walanda, jadi kitu kitu kitu kitu... Da tetep bae moal kaerong atuh... Naha mun baheula teu kungsi dijajah bangsa2 Eropah, kaayaan urang kiwari bakal leuwih ancur batan sakumaha ayeuna?
2009/1/6 Rahman > Muhammad Ali, Ph.D : > "Kolonialisme Tak Selalu Berdampak Negatif Bagi Islam" > > Begini, yang saya maksud dengan aspek institusional itu misalnya, > institusi pendidikan, ormas-ormas keagamaan, seperti Muhammadiyah yang > kemudian di respon dengan kehadiran Nahdlatul Ulama. Sebelum > Muhammadiyah, ada syarikat Islam. Syarikat Islam muncul sebagai respon > terhadap dekatnya Belanda dengan kalangan Cina ketika itu. Jadi > Syarikat Islam ini awalnya adalah organisasi dagang. Tapi kemudian > mereka mengadakan pendidikan dakwah. Sedangkan Muhammadiyah lebih > merupakan respon terhadap sistem pendidikan dan sistem organisasi > kolonial. Tapi apapun itu, institusi-institusi tersebut tidak akan > muncul tanpa ada tantangan. Dan tantangan yang paling besar adalah > kolonialisme. Itulah sebabnya konsep negara bangsa atau nation-state > tidak bisa terjadi tanpa kolonialisme. Konsep nasionalisme adalah > hasil dari respon terhadap kolonialisme. Dan itu terjadi tidak hanya > di Asia Tenggara, tapi juga di Eropa, Amerika dan Australia. Itu semua > adalah respon terhadap kolonialisme. Dengan konsep negara-bangsa, > kebangsaan dibangun bukan atas dasar kesukuan belaka. Agama itu hanya > bagian kecil saja. > > Mereka mencoba untuk mengatur daerah jajahan. Pertama dari aspek > pendidikan. Kedua dari aspek hukum. Dan ketiga, kaitannya dengan aspek > adat atau budaya lokal. Menurut saya, pengaruh Belanda inilah yang > membuat Islam Indonesia menjadi modernis. Modernisasi Islam itu tidak > akan ada di Indonesia ataupun di Malaysia tanpa pengaruh Belanda dan > Inggris. Jadi kita tidak bisa bicara tentang tentang modernisasi Islam > di Indonesia dan Malaysia tanpa menyinggung pengaruh Belanda dan > Inggris. > > Sebelum kedatangan Belanda, Indonesia hanya mengenal sistem halaqah, > sebuah model belajar-mengajar di mana ada ustaz kemudian murid-murid > melingkari sang ustaz tadi. Nah, dengan model sistem pendidikan ala > Belanda, maka sekarang di kenal-lah sistem kelas. Kemudian ada ujian, > ada ijazah, dan seterusnya. Ada tingkatan satu, tingkatan dua, yang > tidak berdasarkan kitab yang dibaca seperti pada model halaqah > misalnya. Tapi berdasarkan kurikulum. Jadi pengenalan kurikulum itu > sendiri adalah pengaruh dari Belanda. Di Malaysia yang dipengaruhi > Inggris juga seperti itu. Inilah modernisasi yang terjadi dalam sistem > pendidikan masa itu. > [Non-text portions of this message have been removed]
