Petrus = Penembak Misterius Gan, yg nembak2in preman dikala itu Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT
-----Original Message----- From: Aay Cosmas <[email protected]> Date: Wed, 14 Oct 2009 02:42:23 To: <[email protected]> Subject: Re: [BinusNet] Re: Fwd: polisi tak dilatih untuk membunuh Sharing yang bagus. Tapi ada yg saya tidak mengerti. "Petrus" disini maksudnya apaan ya ? Tq --- On Wed, 10/14/09, J.L.Nawan <[email protected]> wrote: From: J.L.Nawan <[email protected]> Subject: Re: [BinusNet] Re: Fwd: polisi tak dilatih untuk membunuh To: [email protected] Date: Wednesday, October 14, 2009, 4:09 AM sama-sama saya jawab di antara email anda saja biar mudah ya? semoga sharing of knowledge ini bisa menambah wawasan kita bersama agar kita semakin sadar akan keberadaan kita di tengah masyarakat majemuk dan tahu bagaimana cara yang cukup tepat dan baik bagi kita untuk menempatkan diri semua masukan bukan untuk diperdebatkan, tetapi sebaiknya untuk direnungkan dan disimak sebagai materi masukan wassalam j.l.nawan ________________________________ From: nugon19 <nugo...@yahoo. com> To: binus...@yahoogroup s.com Sent: Wed, October 14, 2009 9:55:02 AM Subject: [BinusNet] Re: Fwd: polisi tak dilatih untuk membunuh Pak Nawan, terima kasih banyak atas sharingnya. Izinkan saya memanggil Bapak, karena saya anggap besar kemungkinan Bapak lebih senior dan mungkin lebih tua dari saya...walau mungkin kita belum pernah ketemu. [jln]: saya di JWC waktu alm ibu Widia masih menjadi rektor, jadi mungkin belum sempat bertemu Apa yg Bapak sampaikan... Ini benar-benar memperluas wawasan saya, dan menambah masukan dari sisi lain yg beberapa belum saya ketahui. Dan Setiap orang bisa berbagi pengalaman beserta nuansa emosi yg ia rasakan ketika ia mendapatkan pengalaman tsb. Ini akan memperkaya wawasan kita. Saya memahami dan memaklumi Pak Nawan, karena sebagian yg Pak Nawan katakan sudah pernah saya dengar dari keluarga, saudara, karib-kerabat, dan teman dekat. Di sisi lain saya juga mengajak Pak Nawan, dan juga rekan-rekan yg lain utk coba melihat dari sudut pandang yg lain, juga merenung apa yg dirasakan oleh orang-orang yg berada di sisi lain. Sebagian sudah saya posting, dan rasanya Pak Nawan serta rekan-rekan yg lain. Dan mungkin juga memperluas wawasan Pak Nawan, terlebih saya hidup di lingkungan yg cukup heterogen/majemuk, dan berpindah-pindah, lintas agama, suku/ras, dan budaya. Saya pribadi tdk menafikan/meniadaka n apa yg Bapak alami atau amati. Misalnya ttg kekejaman Komunis...Papa Mama saya pun menceritakannya dan sempat kena dampaknya. Hanya orang-orang yg bermasalah pd hati nuraninya yg menihilkan kekejaman Komunis. Tapi sekali lagi...ada orang-orang yg sebenarnya tdk terlibat sama sekali, terkena dampaknya, dan dianggap punya kaitan/afiliasi, lalu "ditindak". Ini pun Papa Mama saya sharing. [jln]: no wonder, karena apa? mereka yang kala itu "membantai" habis adalah orang-orang yang dalam faham fanatisme ... dan dimana-mana yang namanya fanatisme tidak pernah memberikan hasil baik, apapun bentuk fanatisme itu, di agama, di keyakinan, di pekerjaan, di profesi dlsb. karena fanatisme adalah hal yang sudah berlebihan, apalagi kalau disertai 'brainwashed' , maka sudah dapat diperkirakan bahwa mereka melakukan hal itu semata-mata di luar kesadaran sebagai manusia normal (hilang perasaan/mati rasa, tidak memiliki rasa kasihan/tidak tega, kehilangan kesadaran terhadap norma kehidupan) Bahkan hampir saja keluarga Mama saya ikut dilibas. Untungnya keluarga Mama saya yg mayoritas etnis Tionghoa ini cukup membaur dan mempunyai hub sosial yg baik dgn masyarakat di sekitarnya. Pd saat huru-hara tsb, keluarga Mama saya dilindungi oleh masyarakat sekitarnya. Bahkan gerombolan yg mau coba "meng clean-up" mereka dihalau dan dialihkan ke tempat lain. Walau selamat, pengalaman traumatis ini membekas nyaris seumur hidupnya. [jln]: semua orang yang mengalami kejadian 1965-67 pasti masih trauma (sedikit atau banyak), terutama mereka yang anggauta keluarganya menjadi korban, sama seperti orang tua yang harus kehilangan anak mereka mati terbakar di toserba 'Yogya' di kawasan Klender di tahun 1998 waktu kerusuhan, atau orang tua yang menyaksikan anaknya menjadi korban kasus Trisakti dan Semanggi, mereka tidak hanya kehilangan orang yang mereka sayangi, tetapi juga cara kehilangan itulah yang sering membuat mereka luluh Tentang Petrus, saya mendengar dari penuturan orang-orang yg bertato dan hidup di masa itu, juga penuturan guru ngaji saya, seorang Haba-ib di bilangan Proyek, Bekasi. Betul tindakan kriminal era Petrus luar biasa dahsyat....tetapi apakah harus ditindak serepresif tsb dan apakah tdk ada alternatif solusi yg lain? Bila mendengar penuturan orang-orang yg bertato pd era Petrus...baik lantaran cuma latah (sebenarnya ini juga salah), ataupun memang adat budaya nya membiasakan Tato....mereka cemas dan khawatir sekali, sampai ada yg menyetrika Tatonya, lantaran takut salah sasaran. Coba bayangkan orang yg tak bersalah lalu jadi target Petrus...bagaimana perasaaan famili mereka. [jln]: memang benar ada kecemasan (agak berlebihan) di kalangan penjahat kelas teri saat itu, yang khawatir akan di "karungin", tidak heran, karena mereka memang penjahat ... tetapi seingat saya, yang kena di "karungin" rata-rata kelas kakap, dan bukan karena tato (mohon diingat ketika itu tato masih dianggap identik dengan orang-orang yang tidak/kurang berkelakuan baik, mirip dengan Perancis di zaman Louis XIV-XVI) ... tentunya berbeda dengan sekarang anak2 muda yang malah bangga bertato ria di seluruh tubuhnya (ber gaya ala Angeline Jolie dll?) ... ada beberapa tokoh Islam yang mempunyai pendapat tentang keberadaan tato di tubuh kita ... coba cari informasi itu, mungkin ada gunanya bagi anda kalau memang ingin menambah wawasan lagi masalah tato dan pandangan agama soal itu saya juga sempat kenal "seorang kelas kakap" yang kemudian berubah 180 derajat ketika ibunya sendiri terbunuh oleh penjahat lain ... apa ceritanya? ketika tertangkap dan berada di belakang terali besi, mereka tetap bisa membangun jejaring dan bahkan secara fisik selama di sana mereka semakin terlatih terhadap kekerasan di antara sesama penghuni terali besi ... jadi kapan mereka sempat dibina iman dan keinsyafannya? hampir tidak ada ... tidak heran ketika keluar mereka semakin andal, taktis, strategis, dll. Pdhal negara lain juga mengalami apa yg Indonesia alami pd era Petrus...tapi ada juga yg cukup smart, mengambil alternatif lain. Misalnya Amerika Serikat...walau saya tdk suka pd pemerintah Amerika Serikat terlebih politik luar negerinya, apalagi mereka Pro-Zionis.. .mereka cukup smart dlm mengatasi gelombang kriminalitas. Walau masih tinggi statistik kejahatan di sana...tapi kalau tdk pakai cara smart...pasti lebih tinggi lagi. Saya tdk bisa sharing banyak hal utk cara smart ini, karena keterbatasan yg ada. Tapi kalau Pak Nawan dan rekan-rekan tertarik, saya bisa sebutkan salah satu contohnya. Coba cari buku terjemahan yg berjudul Tipping Point...di sana disebutkan analisa menarik cara New York mengurangi kriminalitasnya. Dan New York pd era Petrus pun benar-benar menyeramkan. [jln]: hidup sekitar 5 tahun di sana, bekerja bukan sekolah, bahkan juga bekerja di food outlet malam hari di week end, memberikan pengalaman yang luas tentang sikap petugas (polisi negara bagian, polisi federal dll.) dan kriminal di AS ... saya sih cuma bisa bilang, jangan terkesima dengan film dan buku, karena kehidupan sesungguhnya sangat berbeda ... jangan kira di sana petugas semuanya bersih & baik, tidak terlampau jauh kelakuannya dengan oknum2 petugas kita di sini, yang membedakan barangkali adalah ukuran tubuh, warna kulit, ketrampilan, pendidikan, dan inisiatif, dan seragam, padahal saya hidup berpindah di 3 kota, mulai dari kota yang kecil (<5 juta jiwa) sampai ke kota metropolitan, mulai dari kota yang sangat "putih" sampai kota yang "mixed colour" Betul ketegasan dan kedisiplinan menertibkan. Tapi kalau hanya condong kepada cara kekerasan... .cenderung melahirkan kekerasan baru. Kombinasi ketegasan, kedisiplinan, kekerasan, kelemah-lembutan dan cara yg simpatik lah yg bisa menertibkan masyarakat yg majemuk. [jln]: saya setuju ucapan mantan pimpinan Densus 88, yang menyitir Sun-Tzu ... kejahatan yang sudah terlampau dalam hanya bisa ditumpas dengan pola fikir dan pola kerja yang sama, karena apa? karena sang penjahat tidak akan pernah memberikan kesempatan kepada kita untuk "well polite" ... bagi mereka pilihannya sempit, tertangkap (dan dikuras informasinya) atau tewas ... nah susahnya kalau pengertian tewas bagi mereka adalah jalan yang "mulia" ... ini akhirnya menjadi last opinion ... ingat saja para pilot pesawat Zero kerajaan Dai Nippon di era PD II, mereka berprinsip "mati bersama sasaran" karena itu adalah bukti pengabdian mereka kepada sang kaisar ... nah, di beberapa tempat di belahan dunia ini, baik yang beragama Islam, Kristen, Katolik atau apapun, masih ada orang2 fanatis yang beranggapan bahwa tewas bersama sasaran adalah martir atau jihad, untuk kepentingan apapun (semacam faham menghalalkan segala cara) ... memang tidak nyaman, dan tidak melegakan bagi kita yang ingin khusuk beragama secara benar dan baik, disertai akal sehat akan kebenaran yang dikaruniakan oleh Allah SWT ... tapi itulah kenyataannya Utk rekan-rekan yg Muslim pasti lebih mudah mengerti bila kita berkaca pd era Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya memimpin. Kombinasi tersebut sangat dipraktekkan. [jln]: siapa yang bisa dan mampu seperti Nabi Besar Muhammad SAW? pola fikir, keikhlasan, kesabaran, ketekunan, ketegasan, kebijaksanaan Beliau, bukan ukuran manusia seperti kita ini Utk rekan-rekan yg suka membaca/mempelajari sejarah Tiongkok Klasik...telah terekam ada suatu era di mana filsafat Kong Hu Cu (Kong Fu tze) banyak diterapkan di suatu kota, di suatu negara...kriminalit as menurun. Padahal saat itu adalah saat perpecahan dan huru-hara, era negara-negara kecil, era musim semi dan musim gugur (maaf kalau tdk salah tulis). [jln]: dahulu, kata "kasih sayang" masih lekat di hati kecil manusia secara sangat luas, tidaklah mengherankan apabila para Orang Bijak mampu berbuat banyak, itupun karena masih cukup banyak manusia yang benar-benar sadar dan takut pada kesalahan maupun dosa, tetapi sekarang ??? Lalu ttg era demo 1996-1998... saya hanyalah segelintir saksinya, terutama karena Koko saya adalah aktifis di UIN (dulu IAIN) di masa itu. Betul diakuinya ada yg politis, ada yg ikut-ikutan. Saya rasa itu Sunnatullah, selalu ada pahlawan kesiangan. Tapi bahwa ada yg tulus bergerak menentang rezim Soeharto...walau caranya tdk kita sepakati. Saya pun termasuk orang yg tdk sreg dgn cara demo...baik dulu era Soeharto, terlebih sekarang. Saya adalah saksi hidup melihat bagaimana para aktifis tersebut di lingkungan Koko saya kuliah dan kos....hidup menyuarakan protesnya atas tindakan represif rezim Soeharto...dan saya bisa katakan cukup signifikan mereka yg demo dgn tulus. Dan mereka yg tulus ini juga banyak yg kecewa setelah lengsernya Soeharto...kecewa dgn para pahlawan kesiangan atau opportunis, atau pun yg punya misi 'politis'. Bahkan mereka kadang memberi laqob (gelar) kpd gol tsb dgn sebutan (maaf) "Pelacur Politik". Dan Koko saya sering curhat sama saya, betapa tertekannya ia waktu itu, seperti ada temannya yg ketika demo, dihantam kepalanya sampai gegar otak, lalu koma...dan selanjutnya "pass-away". Atau ada yg diculik dan setelah kembali...jadi kurang waras. Juga ada yg hanya kuliah atau kebetulan berada di lokasi tsb...ikut kena dampaknya. Ini yg teman-teman jurnalis, sebagiannya coba mengingatkan. ..tentunya dgn bhs Jurnalis...bahwa bukan niatnya yg diprotes...tapi caranya tolong diperbaiki, dan ada pengawasan supaya jelas dan menenangkan masyarakat. [jln]: kebebasan berpendapat memang baik, tetapi sejak 1998 ke sini terlampau banyak "kebebasan" yang tidak punya arah positif, cukup banyak yang bernuansa 'hura-hura', asal ngomong dan lucunya (ini bbrp kali saya temukan) yang ngomong kalau ditanya betul2 juga tidak faham tentang apa yang diomongkannya ... ironi kan? Mungkin cara penyampaiannya salah...tapi kalau ada hikmah atau masukan yg positif dan memperbaiki serta menaikkan kredibilitas. ..kenapa coba direnungkan dan coba diimplementasikan? Tentunya dgn cara yg sesuai dgn kebutuhan kita. Itu saja sharing dari saya. Mohon maaf bila mengganggu atau kurang berkesan. Terima kasih banyak atas perhatian dan tanggapannya. [jln]: coba deh iseng2 cek para demonstran yang katanya mahasiswa itu ... berapa nilai2 ujian mereka, mereka sekarang di semester berapa, berapa lama studi mereka, tanyakan bbrp masalah ilmu pengetahuan sesuai dengan jurusan yang 'katanya" mereka pilih ......... simak jawaban mereka yang jujur, lalu renungkan ... apakah demonstrasi ini murni demi kebaikan bersama? atau hanya demi kebaikan sekelompok anggauta masyarakat? asal anda tahu saja, di jakarta juga ada bbrp EO khusus demo ...... yang bisa memenuhi kebutuhan content demo itu, mulai dari atribut, transportasi sampai peserta ...... seru kan? Best Regards and Wassalam, Nugon --- In binus...@yahoogroup s.com, "J.L.Nawan" <jlna...@... > wrote: > > saudara Nugroho Laison, > [1] - saya generasi kelahiran tahun 1948, jadi waktu pecah G30S saya sudah duduk dibangku SMA, aktif di KAPPI dan kemudian sesudah menjadi mahasiswa aktif di KAMI > [2] - era 1967-68 yang dikejar oleh pihak yang berwenang (saat itu) adalah semua orang yang pro partai komunis, berikut ormas dibawahnya dari berbagai kalangan (termasuk kalangan etnis Tionghoa yang mempunyai organisasi terkait tertentu) - belum 'sebanding' dengan apa yang dilakukan para anggauta partai komunis tersebut ketika itu dan ormas nya terhadap warganegara yang ada (coba tanyakan kepada orang tua anda, apakah mereka tahu apa yang terjadi di kawasan Jawa Tengah sekitar Solo, Madiun di akhir 1965) > [3] - istilah 'Petrus' adalah ketika di negara ini terjadi kenaikan tingkat kriminalitas yang mengarah pada pembunuhan kejam, maka pihak berwenang (POLRI waktu itu masih bernaung di bawah ABRI) terpaksa mengambil tindakan tegas terhadap semua pelaku kriminal, tetapi tidak ada bukti tentang adanya 'Petrus' tersebut, meskipun 'korban' berjatuhan di kalangan pelaku kriminal (bahkan ada istilah "dikarungin' karena banyak jenazah kriminal yang ditemukan di dalam karung) > [4] - demonstrasi 1996-98 hanyalah demonstrasi politis terhadap kekuasaan yang saat itu memerintah, berbeda dengan ketika kasus MALARI terjadi, dan berbeda dengan demonstrasi 1966-68 - tidak semua demonstrasi mahasiswa berbobot sama - sebagian bahkan cuma ikut2an saja - sangat berbeda dengan era 1966-68 > [5] - Densus (Detasemen Khusus) 88 adalah bagian dari POLRI untuk penanganan kasus-kasus terorisme (khusus), hampir semua negara yang terkena dampak perluasan terorisme mempunyai unit khusus seperti ini, cuma namanya yang berlainan > [6] - pekerjaan Densus 88 kemarin ini sudah memenuhi protokol/SOP yang ditentukan setahu saya - dan sepanjang tersangka tidak melakukan penyerangan terlebih dahulu, maka pihak berwenang juga tidak akan melakukan perbuatan yang bisa menghilangkan nyawa, karena dari sudut informasi, saya rasa akan lebih menguntungkan sebetulnya kalau tersangka bisa ditangkap hidup2 untuk dikorek berbagai keterangan lebih lanjut - tetapi kalau tersangka melempar bom/melakukan serangan terlebih dahulu, tidaklah mengherankan kalau anggauta Densus 88 terpaksa juga mengambil keputusan yang tegas > [7] - prasangka buruk yang sering ada, kebanyakan selalu bersandar hanya kepada pemanfaatan istilah 'pelanggaran HAM' - apakah anda benar2 sudah faham apa yang disebut Hak Azasi Manusia, sebagaimana yang sudah ditetapkan secara internasional oleh PBB maupun badan2 lainnya (Declaration of Human Rights)? > semoga informasi ini melengkapi wawasan anda > terima kasih dan wassalam > j.l.nawan > (dulu juga kerja di UBiNus) > > [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ "We cannot all do great things.But we can do small things with great love." - Mother Teresa --------------------------------------------------------- BinusNet founded on Dec 28, 1998 Owner : Johan Setiawan Moderator BinusNet : Suryadi Liawatimena & Surya Iskandar Stop or Unsubscribe: send blank email to [email protected] Questions or Suggestions, send e-mail to [email protected] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/binusnet/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/binusnet/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[email protected] mailto:[email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
