Thanks berat Ferry atas tanggapannya.
Yg dikhawatirkan teman-teman di milis jurnalisme itu (kebetulan ada
teman beberapa orang di sana) adalah keakurasian info dan
pertanggung-jawaban dari tindakan yg ditempuh...serta menekankan
sebenarnya ada beberapa alternatif tindakan yg bisa ditempuh sebelum
memakai jalan terakhir.
bisa dilhat dari tulisan sbb:
"Polri dilatih tidak untuk membunuh, aparat Polri dilatih dan
ditugaskan UU untuk melumpuhkan tersangka," katanya.
Ditegaskannya, FKPI bukan tidak setuju dengan pemberantasan
terorisme, namun mereka menilai cara yang ditempuh polisi kurang tepat,
bahkan bukan tidak mungkin justru mengarah pada pelanggaran HAM.
Oleh karena itu, FKPI meminta Komnas HAM membentuk tim pencari
fakta dan uji forensik independen untuk menyelidiki kemungkinan
terjadinya pelanggaran HAM dalam sejumlah aksi penyergapan yang
dilakukan polisi, khususnya Detasemen Khusus (Densus) 88.
Apalagi, menurut FKPI, tindakan polisi tersebut lebih didasarkan
pada dokumen intelijen, bukan pada fakta yuridis, sehingga dikhawatirkan
kemungkinan terjadinya kesalahan.
"Yang kita takutkan yang ditangkap bukan teroris," kata Haris
saat delegasi FKPI diterima Wakil Ketua Komnas HAM Ridha Saleh.
Fenomena ini menurut beberapa aktivis dikhawatirkan kalau tdk
dimonitoring dgn baik, takut berevolusi ke arah yg tdk baik dan tdk
terkendali.
Menjadi seperti kasus penculikan mahasiswa pd era demonstrasi menjelang
jatuhnya rezim Soeharto. Hanya karena sedikit vokal atau aktif
berorganisasi, bisa "diajak silaturahmi" sama militer/polisi...karena
ada kemiripan dgn akftivis demonstrasi.
Menjadi seperti kasus Petrus, cuma punya tato iseng aja bisa di DOR kan,
karena dianggap mirip dgn pelaku kriminal yg kerap bertato.
Menjadi seperti kasus paska G30S/PKI, asal (maaf) etnis Tionghoa, atau
petani yg pernah berkomunikasi/interaksi sosial sebentar saja dgn
anggota PKI...bisa dgn mudah difitnah, mulai dari ditangkap, dipenjara,
dibuang/diasingkan...hingga dibunuh.
Jadi intinya hanya perlu monitoring dan auditing saja.
Best Regards,
Nugon
--- In [email protected], ferry <f...@...> wrote:
>
> gak ngerti bro..
> maksudnya apa ya?
> Kapolri semalam sudah membeberkan hasil test dna dan detail from some
of
> laptop data..
> bukankah polisi memang memiliki otoritas untuk menindak pelaku
kejahatan,
> namun memang perlu pembuktian dlsbnya..
> soal pelaku 'lebai', meskipun banyak, bisa disebut kan oknum bro..
>
> apalagi dalam hal ini, pelaku yang ditembak mati adalah teroris..
> yang notebene mengancam banyak nyawa (dan telah menghilangkan nyawa
orang)..
>
> jadi gue terus terang bingung..
> kok, ada sebagian orang yang mengatasnamakan hak azazi manusia diatas
> penderitaan banyak orang lain?
> Polisi dilatih untuk "bisa" membunuh (apagunanya kalau gitu latihan
> menembak?),
> namun, dalam kondisi yang diijinkan..
>
> salam
>
> ferry
>
> Nugroho Laison wrote:
> > Maaf ganggu lagi...mumpung bisa online sampe jam 11 he he he
> > Pelampiasan browsing setelah beberapa bulan dinas di daerah.
> >
> > Kebayang nggak kalo lagi apes....salah target, atau ada yg
iseng/dengki kpd seseorang....terus suddenly orang tsb di 'Densus 88'
kan?!
> >
> > Papa Mama ane pernah cerita pengalaman/fenomena terlalu 'lebai' dlm
bertindak yg serupa...terutama pd era paska G30S/PKI , juga era Petrus
(Penembak Misterius).
> > Sedang Koko ane cerita pengalamannya sewaktu era demonstrasi th
1996-1998 an...mahasiswa yg aktif dlm organisasi dan demonstrasi juga
mendapatkan perlakuan serupa.
> >
> > Best Regards and Wassalam,
> >
> >
> >
> >
> > Nugon
> >
[Non-text portions of this message have been removed]